Rabu, 21 Agustus 2024

MULIAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

 

Seringkali kita meyakini bahwa segala kemuliaan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Padahal jika kita mau jujur, setiap dari kita penuh dengan kekurangan, aib, cacat, dan cela. Muhamad bin Wasi berkata, “Seandainya dosa-dosa itu ada baunya maka tidak seorangpun yang mau duduk bersamaku”

Jangn lupakan bahwa sesungguhnya ada Allah yang terus menutupi segala aib kita di hadapan manusia. Jika satu aib saja diungkap oleh Allah, yakinlah, semua pujian tersebut akan berubah menjadi celaan.  Kita juga akan malu, semalu-malunya. Menjadi hina.

Oleh karena itulah, jangan pernah ujub dengan amalan kita. Jangan pernah terpedaya dengan pujian yang diberikan. Jangan pernah riya dengan kebajikan yang dipebuat.

 

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى دِينِى وَدُنْيَاىَ وَأَهْلِى وَمَالِى اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَتِى

“Yaa Allah sesungguhnya aku meminta kepada Mu ‘Afiyah di dunia dan akhirat. Yaa Allah aku memohon kepada Mu ‘‘Afwaa dan ‘Afiyah pada urusan agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Yaa Allah tutupi auratku (aib-aibku)”

 

اللَّهُمَّ استُر عَوْرَاتي ، وآمِنْ رَوْعَاتي ، اللَّهمَّ احفظني من بَينِ يَدَيَّ ومِن خَلْفي ، وَعن يَميني ، وعن شِمالي ، ومِن فَوقي، وأعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحتي

 

“Yaa Allah tutupi auratku (aib-aibku), tenangkanlah aku dari rasa takutku. Yaa Allah jagalah aku dari arah depan dan belakangku, arah kanan dan kiriku, serta dari arah bawahku. Aku belindung dengan kebesaran Mu agar aku tidak dihancurkan dari arah bawahku”. (Khtb-PPNHA)

Kisah MENEBUS SURGA DENGAN MEMAAFKAN


Dinukil dari Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghozali.

Suatu hari para sahabat sedang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW. Tiba-tiba saja mereka melihat Nabi SAW tampak bersedih dan mata beliau berkaca-kaca seolah akan menangis. Tetapi tidak berapa lama kemudian, tampak wajah beliau menjadi berbinar-binar gembira, bahkan beliau tertawa sehingga kelihatan dua gigi seri beliau.

Para sahabat penasaran, tetapi mereka malu untuk bertanya, sampai akhirnya Umar Bin Khottob memberanikan diri bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau tampak menangis, kemudian tertawa??” 

Nabi SAW tersenyum melihat wajah-wajah para sahabat yang tampak keheranan sekaligus penasaran. Kemudian beliau berkata, “Sungguh ditampakkan kepadaku suatu pemandangan di saat ditegakkan pengadilan Allah (yaumul hisab, hari perhitungan)”

Kemudian beliau menceritakan, bahwa ada dua orang dari umat beliau yang tengah dihisab. Salah satunya mengadukan temannya, ia berkata, “Wahai Allah, ambilkanlah untukku pahala orang ini, untuk mengganti kedzaliman yang pernah dilakukannya padaku!”

Maka Allah berfirman kepada orang yang mendzalimi tersebut, “Berikanlah kepada saudaramu untuk menebus kedzaliman yang telah kamu lakukan saat di dunia!'”

“Wahai Rabbii, bagaimana aku bisa melakukannya sedangkan aku sudah tidak lagi memiliki kebaikan sedikitpun!!” Kata Lelaki yang dzalim itu. 

Allah berfirman kepada lelaki pertama yang menuntut tersebut, “Bagaimana engkau meminta darinya, sedangkan ia tidak memiliki lagi kebaikan sedikitpun?”

“ambilkan keburukan-keburukanku, ya Allah, dan pikulkanlah kepada dirinya!”

Ketika melihat pemandangan itulah Nabi SAW merasa bersedih dan hampir menangis melihat keadaan umatnya yang memilukan tersebut. Reaksi beliau yang seperti itu dilihat oleh para sahabat tanpa tahu penyebabnya. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Itu adalah hari yang agung, di mana pada hari itu setiap orang membutuhkan adanya orang lain yang dapat memikul kesalahan-kesalahannya..”

Tak lama kemudian Nabi SAW meneruskan cerita beliau, bahwa dalam keadaan seperti itu, Allah SWT berfirman kepada lelaki yang mengajukan tuntutan, “Angkatlah kepalamu, dan lihatlah!!”

Lelaki tersebut mengangkat kepalanya dan ia melihat pemandangan yang menakjubkan, lalu Ia berkata, “Ya Rabbi, saya melihat kota-kota yang bangunannya bertatahkan perak dan emas. Untuk nabi yang manakah ini? Untuk orang syahid yang manakah ini??”

Allah berfirman, “Itu semua untuk orang yang mampu membayar harganya!!”

“Siapakah yang mampu membayarnya, ya Allah!?” Tanya lelaki itu.

“Engkau mampu membayarnya”

“Dengan apa saya harus membayarnya, ya Allah!?”

“Dengan memberi maaf kepada saudaramu” 

Segera saja lelaki penuntut tersebut berkata, “Ya Allah, saya telah memaafkan dirinya!!”

Dalam riwayat lain disebutkan, setelah lelaki itu memaafkan temannya, Allah berfirman kepadanya, “Gandenglah tangan saudaramu itu, dan ajaklah ia masuk ke surga yang telah menjadi milikmu tersebut (tiada kerugian bagimu)!!”

Ketika melihat pemandangan tersebut, Nabi SAW menjadi gembira dan beliau tertawa sehingga terlihat dua gigi seri beliau, itu pula reaksi yang tadi dilihat oleh para sahabat tanpa mereka mengetahui penyebabnya. Selesai menceritakan semua itu, Nabi SAW bersabda, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan antara kalian. Sesungguhnya Allah menghubungkan antara orang-orang mukmin”. (Khotib-PPNHA).



Minggu, 18 Agustus 2024

KISAH PEMBEBASAN MASJIDIL AQSO PADA ZAMAN UMAR BIN KHOTTOB & ZAMAN SHOLAHUDDIN AL AYUBI

 



Baitul Maqdis di Palestina pertama kali berhasil dibebaskan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab Ra dari tangan Romawi pada tahun 16 Hijriah atau 637 Masehi.

Peperangan antara tentara Bizantium dengan pasukan Islam sudah dimulai sejak Nabi Muhammad masih hidup. Sebelum membebaskan Baitul Maqdis, pada tahun 636, pasukan Islam di bawah pimpinan Khalid bin Walid melakukan pertempuran ke wilayah kekuasaan Kekaisaran Bizantium dan membuat Kota Damaskus takluk. damaskus saat ini adalah Syuriah.

Saat Kota Damaskus ditaklukkan, Khalifah Umar memberikan jaminan kepada para penduduknya berupa harta dan tempat ibadah dengan syarat mereka harus membayar upeti. Setelah penaklukan Damaskus, perluasan wilayah dilanjutkan pada tahun 637 ke Baitul Maqdis. Palestina. 

Baitul Maqdis dibebaskan oleh Umar Penaklukan Baitul Maqdis dimulai dengan pengepungan Yerusalem yang dilakukan oleh Khalid bin Walid bersama pasukannya. Patriark Sophronius sebagai petinggi umat Kristiani, berkata kepada Khalid bin Walid, Amru bin Ash, dan Abu Ubaidah, mengatakan dirinya mau berdamai, tetapi dengan syarat jika Khalifah Umar yang datang langsung ke Yerusalem

Umar bin Khattab pun memenuhi permintaan Patriark Sophronius. Ia datang ke Yerusalem dengan pakaian yang sangat sederhana. Kesederhanaan itu membuat Sophronius kagum, karena Khalifah Umar dikenal sebagai pemimpin umat Islam yang disegani dan ditakuti. Setibanya Khalifah Umar di Yerusalem negosiasi damai dengan penduduk Baitul Maqdis pun dimulai.

Ketika Umar memasuki Baitul Maqdis selepas penaklukannya, dia melepaskan kedua sepatunya lalu mengalungkannya di bahu, dia juga menyeret untanya sambil berjalan dalam genangan air.

Melihat situasi itu, Abu Ubaidah berkata padanya, “Wahai Amirul Mukminin, engkau akan melakukan ini? Aku tidak suka jika penduduk kota akan melihat hal ini.”

Umar menjawab dengan tegasnya, “Hah! Seandainya bukan engkau wahai Abu Ubaidah yang mengucapkan itu, pasti akan ku hukum dia agar menjadi pelajaran bagi Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dahulu kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain (Islam) yang Allah muliakan kita dengannya, maka Allah akan menghinakan kita lagi.”

Perluasan wilayah Islam pada masa itu dimotivasi untuk membebaskan manusia dari kezaliman penguasa. Khalifah Umar berhasil membebaskan Baitul Maqdis dan seluruh penduduknya dari kezaliman penguasa Romawi, tanpa peperangan. Umar bin Khattab-Sahabat yang Pernah Berniat Membunuh Rasulullah-Memberikan Jaminan keselamatan bagi penduduk Baitul Maqdis.

Selama proses penyerahan, Khalifah Umar bin Khattab memberikan jaminan perlindungan dan keamanan kepada orang Yahudi dan Kristen di Baitul Maqdis. Jaminan umar tersebut diucapkan di depan para sahabat, pasukan Islam, dan penduduk Baitul Maqdis.

Jaminan perlindungan dan keamanan itu berlaku untuk diri mereka (individu), harta mereka, rumah, salib, gereja, dan semua tempat ibadah mereka. Artinya, gereja-gereja tidak akan dihuni, dihancurkan, atau diambil alih, umat Kristen dan Yahudi juga tidak akan dipaksa untuk mengubah agama mereka.

Khalifah Umar tinggal di Baitul Maqdis selama beberapa hari. Setelah itu, ia kembali ke Damaskus untuk menemui pasukannya yang bermarkas di sana.

Kedamaian tercipta di Baitul Maqdis berkat kebijaksanaan pemimpin umat Islam, yang berjanji akan melindungi semua umat beragama di sana. Umat Islam, Nasrani, dan Yahudi dapat hidup berdampingan dan menggunakan tempat ibadahnya dengan leluasa tanpa gangguan. Sejak penaklukan Umar pada tahun 637 hingga 462 tahun berikutnya, umat Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan di Yerusalem.

Yerusalem akhirnya direbut kembali oleh tentara Salib pada masa Perang Salib I yang dimulai pada tahun 1096 M, yerusalem akhirya direbut pada tahun 1102M.

Tidak kalah fenomenal adalah Sultan Shalahuddun al-Ayyubi. Didorong oleh kecintaannya yang mendalam kepada bumi Palestina, pada tahun 1187 M atas kuasa Allah beliau berhasil membebaskan kembali Baitul Maqdis, Palestina. Ketika ingin membebaskan Baitul Maqdis, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi tidak langsung menyiapkan tentara dan peralatan perang. Akan tetapi yang mula-mula beliau lakukan adalah mempersatukan umat Islam dalam satu ikatan aqidah yang benar, yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah. Menurut beliau, kesatuan aqidah akan melahirkan kesatuan hati. Kesatuan hati antarumat Islam adalah kekuatan dahsyat yang tidak akan dikalahkan oleh siapa pun.

 

Sultan Shalahuddin al-Ayyubi adalah penganut mazhab Syafi'i dalam fiqih, dan pengikut mazhab Asy'ari dalam aqidah. Sang sultan memiliki perhatian yang sangat besar dalam penyebaran aqidah Ahlusunnah waljamaah. 

 

Sultan Shalahuddin lantas memerintahkan kepada semua madrasah, lembaga pendidikan, majelis-majelis untuk mengajarkan kitab Hada'iqul-Fushul wa Jawahirul Ushul. kitab itu kemudian terkenal dengan sebutan 'Aqidah ash-Sholahiyyah.

 

Di antara yang tertulis dalam kitab tersebut adalah beberapa bait berikut ini:

وصانعُ العــالمِ لا يحويهِ   #  قطرٌ تعالى اللهُ عـن تشبيهِ      

                 قد كانَ موجودًا ولا مكانَا #  وحكمهُ الآن على ماكـان

سُبحانهُ جلّ عن المكـانِ #  وعـزّ عن تغيُرِ الزمانِ

فقد غَـلا وزادَ في الغُـلوِ #  مــن خصهُ بجهةِ العـلو

Sang Pencipta Alam tidak bergantung pada tempat   

Allah Mahasuci dari penyerupaan terhadap makhluk

Allah ada sebelum adanya tempat    dan Dia sekarang tetap seperti sedia kala-ada tanpa tempat

Mahasuci Allah dari tempat dan Dia Mahasuci dari peredaran masa

Sungguh telah melampaui batas orang yang mengkhususkan-Nya di arah atas.


Sekarang, Apa yang dapat kita lakukan untuk saudara-saudara kita di Palestina saat ini yang tengah di jajah Zionis Israel? Berjihad membantu mereka secara fisik melawan para penjajah, jelas kita tidak mampu. Yang dapat kita lakukan adalah mengulurkan bantuan dana untuk meringankan penderitaan mereka. Minimal, kita bantu mereka dengan doa. Karena doa adalah senjata seorang Mukmin, dan terus menyuarakan kesadaran bahwa Palestina adalah bagian sejarah Islam yang tak terpisahkan, berdiri disana Masjidil AQSO, Kiblat pertama Umat Nabi Muhammad sebelum Kabah Baitullah.

Diriwayatkan di dalam kitab Syi’abul Iman oleh Imam Baihaqi, juga di dalam Tafsir Imam Qurthubi, ketika Nabi Ibrahim tengah dibakar oleh Raja Namrud, seekor katak tidak ridho melihat kedzoliman tersebut. Lalu sikatak ini mengambil air melaui mulutnya untuk kemudian disemprotkan ke bara api. Berapakah besar mulutnya katak jika dibandingkan api yang membakar Nabi Ibrahim yang lebih besar dari bukit, tapi Katak mengambil air dari sungai dan melompat-lompat dan tetap menyemburkan air itu ke api. Katak sadar Tidak ia tidak akan dapat memadamkan api, tapi isi katak tahu bahwa Allah melihat dimana dia berfihak, dan Allah menyaksikan apa yang ia perbuat manakala kemungkaran terjadi di depan matanya. (Alkarimi)


Tahukah Anda?, INILAH 9 KEISTIMEWAAN TANAH PALESTINA!




Beberapa bulan ini kita disuguhi berita yang begitu menyayat dan mengiris hati kita. Bagaimana tidak, di era modern yang seharusnya penjajahan di atas muka bumi semestinya telah dihapuskan, kaum Zionis hingga hari ini dengan leluasa seenaknya saja menjajah bumi Palestina dan menindas rakyat di sana. Serangan demi serangan terus dilancarkan kepada rakyat yang tidak bersalah. Ribuan nyawa rakyat Palestina telah menjadi korban kekejian dan kebiadaban mereka. 75 tahun sudah pelestina di jajah, dan dalam 10 bulan ini saja (Agustus 2024), sudah 40.000 lebih saudara-saudara kita gugur dibantai zionis, dengan korban terbanyak adalah bayi, anak-anak dan wanita. 12 ribu lebih yang masih hilang dibawah reruntuhan. 90.000 lebih terluka. 

Menurut pengamat militer, Jumlah bom dari Israel dan amerika yang dijatuhkan di Gaza dalam 10 bulan ini, sudah hampir 3 kali lipat Bom Nuklir yang jatuhkan di Hiroshima & Nagasaki pada perang dunia ke-2.

Sebagai umat Islam tentu kita sudah sepatutnya mencintai dan membela Palestina, Karena Palestina bukanlah negeri biasa. Palestina memiliki sejarah panjang yang menjadikannya seharusnya selalu bersemayam di hati setiap Mukmin. Setidaknya Ada sembilan alasan kenapa kita harus mencintai dan membela Palestina.

Pertama, di sana terdapat Masjid al-Aqsa, masjid tertua di dunia setelah Masjidil Haram. Masjidil Aqso Dibangun pertama kali oleh Nabi Adam 'alaihis salam empat puluh tahun setelah beliau membangun Masjid al-Haram.

Kedua,
Masjidil Aqsa yang berada di kota Baitul Maqdis, Palestina, pernah menjadi kiblat shalat oleh Rasulullah shallallahu 'alaih wasallam sebelum turun perintah untuk berqiblat ke Ka’bah baitullah.

Ketiga, Masjidil Aqsa yang berada di kota Baitul Maqdis, Palestina, adalah titik akhir perjalanan Isra' dan titik awal perjalanan Mi'raj. Isra' dan Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang Allah anugerahkan kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Di sana pula Baginda Nabi melakukan shalat berjamaah mengimami seluruh Nabi dan Rosul, mulai Nabi Adam ‘alaihis salam hingga Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

Keempat, Palestina adalah negeri para Nabi dan Rasul. Banyak sekali para Nabi dan Rasul yang pernah diutus di sana. Di antaranya adalah Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Luth, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi ‘Isa dan nabi-nabi yang diutus oleh Allah untuk mendakwahi Bani Israil yang jumlahnya sangat banyak.

Kelima, di sana terdapat Kota Baitul Maqdis, ardhul mahsyar wal mansyar, tempat kelak dikumpulkannya seluruh manusia yang masih hidup menjelang hari kiamat. dan tempat dikumpulkannya umat manusia (mahsyar) setelah hari kiamat

Keenam, sesuai hadist nabi, di sanalah kelak Dajjal akan terbunuh di tangan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

Ketujuh, Palestina adalah bagian dari daratan Syam yang didoakan berkah oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doanya:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا
“Ya Allah, berkahilah negeri Syam dan negeri Yaman”.

Kedelapan, telaga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang banyak dirindukan umatnya, terdapat di antara Ka'bah dan Baitul Maqdis. Sebagaimana yang beliau sabdakan: 


عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن لي حوضا ما بين الكعبة وبيت المقدس، أبيض مثل اللبن، آنيته عدد النجوم، وإني لأكثر الأنبياء تبعا يوم القيامة

“Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. berkata, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya Aku mempunyai telaga antara Ka'bah dan Baitul Maqdis, putih seperti susu, wadahnya sebanyak bilangan bintang. Aku adalah nabi yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat." (HR. Ibnu Majah) 


Kesembilan, Palestina telah melahirkan ribuan ulama dan tokoh-tokoh Islam terkemuka yang berkhidmah untuk Islam. Tercatat para ulama yang lahir atau pernah tinggal di Palestina adalah Imam Malik bin Dinar, Imam Sufyan ats-Tsauri, Imam Ibnu Syihab az-Zuhri, Imam asy-Syafi’I, dan masih banyak lagi yang lain.

Atas kemulian palestina inilah, Sultan Mahmud Nuruddin Zanki, Pada kurun 1100-an masehi memimpin pemebebasan Masjidil Aqso yang tengah dikuasai gabungan tentara salib Romawi / Eropa, beliau  pernah mengucapkan sebuah perkataan yang fenomenal: "Aku malu kepada Allah untuk tersenyum, sedangkan Baitul Maqdis masih terjajah."




MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...