Minggu, 18 Agustus 2024

KISAH PEMBEBASAN MASJIDIL AQSO PADA ZAMAN UMAR BIN KHOTTOB & ZAMAN SHOLAHUDDIN AL AYUBI

 



Baitul Maqdis di Palestina pertama kali berhasil dibebaskan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab Ra dari tangan Romawi pada tahun 16 Hijriah atau 637 Masehi.

Peperangan antara tentara Bizantium dengan pasukan Islam sudah dimulai sejak Nabi Muhammad masih hidup. Sebelum membebaskan Baitul Maqdis, pada tahun 636, pasukan Islam di bawah pimpinan Khalid bin Walid melakukan pertempuran ke wilayah kekuasaan Kekaisaran Bizantium dan membuat Kota Damaskus takluk. damaskus saat ini adalah Syuriah.

Saat Kota Damaskus ditaklukkan, Khalifah Umar memberikan jaminan kepada para penduduknya berupa harta dan tempat ibadah dengan syarat mereka harus membayar upeti. Setelah penaklukan Damaskus, perluasan wilayah dilanjutkan pada tahun 637 ke Baitul Maqdis. Palestina. 

Baitul Maqdis dibebaskan oleh Umar Penaklukan Baitul Maqdis dimulai dengan pengepungan Yerusalem yang dilakukan oleh Khalid bin Walid bersama pasukannya. Patriark Sophronius sebagai petinggi umat Kristiani, berkata kepada Khalid bin Walid, Amru bin Ash, dan Abu Ubaidah, mengatakan dirinya mau berdamai, tetapi dengan syarat jika Khalifah Umar yang datang langsung ke Yerusalem

Umar bin Khattab pun memenuhi permintaan Patriark Sophronius. Ia datang ke Yerusalem dengan pakaian yang sangat sederhana. Kesederhanaan itu membuat Sophronius kagum, karena Khalifah Umar dikenal sebagai pemimpin umat Islam yang disegani dan ditakuti. Setibanya Khalifah Umar di Yerusalem negosiasi damai dengan penduduk Baitul Maqdis pun dimulai.

Ketika Umar memasuki Baitul Maqdis selepas penaklukannya, dia melepaskan kedua sepatunya lalu mengalungkannya di bahu, dia juga menyeret untanya sambil berjalan dalam genangan air.

Melihat situasi itu, Abu Ubaidah berkata padanya, “Wahai Amirul Mukminin, engkau akan melakukan ini? Aku tidak suka jika penduduk kota akan melihat hal ini.”

Umar menjawab dengan tegasnya, “Hah! Seandainya bukan engkau wahai Abu Ubaidah yang mengucapkan itu, pasti akan ku hukum dia agar menjadi pelajaran bagi Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dahulu kita adalah kaum yang paling hina, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain (Islam) yang Allah muliakan kita dengannya, maka Allah akan menghinakan kita lagi.”

Perluasan wilayah Islam pada masa itu dimotivasi untuk membebaskan manusia dari kezaliman penguasa. Khalifah Umar berhasil membebaskan Baitul Maqdis dan seluruh penduduknya dari kezaliman penguasa Romawi, tanpa peperangan. Umar bin Khattab-Sahabat yang Pernah Berniat Membunuh Rasulullah-Memberikan Jaminan keselamatan bagi penduduk Baitul Maqdis.

Selama proses penyerahan, Khalifah Umar bin Khattab memberikan jaminan perlindungan dan keamanan kepada orang Yahudi dan Kristen di Baitul Maqdis. Jaminan umar tersebut diucapkan di depan para sahabat, pasukan Islam, dan penduduk Baitul Maqdis.

Jaminan perlindungan dan keamanan itu berlaku untuk diri mereka (individu), harta mereka, rumah, salib, gereja, dan semua tempat ibadah mereka. Artinya, gereja-gereja tidak akan dihuni, dihancurkan, atau diambil alih, umat Kristen dan Yahudi juga tidak akan dipaksa untuk mengubah agama mereka.

Khalifah Umar tinggal di Baitul Maqdis selama beberapa hari. Setelah itu, ia kembali ke Damaskus untuk menemui pasukannya yang bermarkas di sana.

Kedamaian tercipta di Baitul Maqdis berkat kebijaksanaan pemimpin umat Islam, yang berjanji akan melindungi semua umat beragama di sana. Umat Islam, Nasrani, dan Yahudi dapat hidup berdampingan dan menggunakan tempat ibadahnya dengan leluasa tanpa gangguan. Sejak penaklukan Umar pada tahun 637 hingga 462 tahun berikutnya, umat Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan di Yerusalem.

Yerusalem akhirnya direbut kembali oleh tentara Salib pada masa Perang Salib I yang dimulai pada tahun 1096 M, yerusalem akhirya direbut pada tahun 1102M.

Tidak kalah fenomenal adalah Sultan Shalahuddun al-Ayyubi. Didorong oleh kecintaannya yang mendalam kepada bumi Palestina, pada tahun 1187 M atas kuasa Allah beliau berhasil membebaskan kembali Baitul Maqdis, Palestina. Ketika ingin membebaskan Baitul Maqdis, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi tidak langsung menyiapkan tentara dan peralatan perang. Akan tetapi yang mula-mula beliau lakukan adalah mempersatukan umat Islam dalam satu ikatan aqidah yang benar, yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah. Menurut beliau, kesatuan aqidah akan melahirkan kesatuan hati. Kesatuan hati antarumat Islam adalah kekuatan dahsyat yang tidak akan dikalahkan oleh siapa pun.

 

Sultan Shalahuddin al-Ayyubi adalah penganut mazhab Syafi'i dalam fiqih, dan pengikut mazhab Asy'ari dalam aqidah. Sang sultan memiliki perhatian yang sangat besar dalam penyebaran aqidah Ahlusunnah waljamaah. 

 

Sultan Shalahuddin lantas memerintahkan kepada semua madrasah, lembaga pendidikan, majelis-majelis untuk mengajarkan kitab Hada'iqul-Fushul wa Jawahirul Ushul. kitab itu kemudian terkenal dengan sebutan 'Aqidah ash-Sholahiyyah.

 

Di antara yang tertulis dalam kitab tersebut adalah beberapa bait berikut ini:

وصانعُ العــالمِ لا يحويهِ   #  قطرٌ تعالى اللهُ عـن تشبيهِ      

                 قد كانَ موجودًا ولا مكانَا #  وحكمهُ الآن على ماكـان

سُبحانهُ جلّ عن المكـانِ #  وعـزّ عن تغيُرِ الزمانِ

فقد غَـلا وزادَ في الغُـلوِ #  مــن خصهُ بجهةِ العـلو

Sang Pencipta Alam tidak bergantung pada tempat   

Allah Mahasuci dari penyerupaan terhadap makhluk

Allah ada sebelum adanya tempat    dan Dia sekarang tetap seperti sedia kala-ada tanpa tempat

Mahasuci Allah dari tempat dan Dia Mahasuci dari peredaran masa

Sungguh telah melampaui batas orang yang mengkhususkan-Nya di arah atas.


Sekarang, Apa yang dapat kita lakukan untuk saudara-saudara kita di Palestina saat ini yang tengah di jajah Zionis Israel? Berjihad membantu mereka secara fisik melawan para penjajah, jelas kita tidak mampu. Yang dapat kita lakukan adalah mengulurkan bantuan dana untuk meringankan penderitaan mereka. Minimal, kita bantu mereka dengan doa. Karena doa adalah senjata seorang Mukmin, dan terus menyuarakan kesadaran bahwa Palestina adalah bagian sejarah Islam yang tak terpisahkan, berdiri disana Masjidil AQSO, Kiblat pertama Umat Nabi Muhammad sebelum Kabah Baitullah.

Diriwayatkan di dalam kitab Syi’abul Iman oleh Imam Baihaqi, juga di dalam Tafsir Imam Qurthubi, ketika Nabi Ibrahim tengah dibakar oleh Raja Namrud, seekor katak tidak ridho melihat kedzoliman tersebut. Lalu sikatak ini mengambil air melaui mulutnya untuk kemudian disemprotkan ke bara api. Berapakah besar mulutnya katak jika dibandingkan api yang membakar Nabi Ibrahim yang lebih besar dari bukit, tapi Katak mengambil air dari sungai dan melompat-lompat dan tetap menyemburkan air itu ke api. Katak sadar Tidak ia tidak akan dapat memadamkan api, tapi isi katak tahu bahwa Allah melihat dimana dia berfihak, dan Allah menyaksikan apa yang ia perbuat manakala kemungkaran terjadi di depan matanya. (Alkarimi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...