Saat ini kita berada di
bulan Agustus yang menjadi bulan istimewa bagi bangsa Indonesia. Di bulan
inilah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang
kemudian dijadikan sebagai momentum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik
Indonesia. Kita perlu menyadari
bahwa generasi kita yang hidup saat ini sebagian besar merupakan generasi yang
tidak merasakan secara langsung bagaimana pedihnya perjuangan untuk merebut
kemerdekaan.
Kita adalah generasi
yang tinggal meneruskan melalui karya-karya positif untuk mengisi kemerdekaan.
Karunia kemerdekaan yang diperjuangkan dengan tetes darah dan nyawa para
pendahulu kita adalah sebuah warisan yang wajib kita pertahankan. Jangan sampai
warisan agung kemerdekaan ini hilang karena ulah kita sendiri yang tak tahu
bersyukur dan berterimakasih.
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ
لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ
لَشَدِيْدٌ
Artinya: “(Ingatlah)
ketika Tuhanmu memaklumatkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan
menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
(QS Ibrahim: 7)
Tentang rasa syukur atas limpahan karunia ini kita telah diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya yang tertuang dalam Al-Qur’an surat Ar-rahman, dengan kalimat yang diulang-ulang sebanyak 31 kali. Sebuah kalimat introspektif dan mengingatkan manusia untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur, yakni:
فبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Artinya: “Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?” (QS Arrahman: 13)
Oleh karena itu, atas anugerah kenikmatan kemerdekaan ini maka di antara cara bersyukur kita antara lain adalah dengan:
Pertama, menyadari bahwa kondisi kemerdekaan, ketentraman, dan kedamaian yang kita rasakan adalah sebuah karunia dan ni'mat dari Allah. Semua atas kehendak Allah Azza wajalla, yang harus kita rawat dan kita jaga.
Kedua, menghargai, mempelajari, dan mengambil hikmah sejarah perjuangan para
pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga untuk kemerdekaan yang sekarang
kita nikmati. Hal ini bisa dilakukan dengan membaca berbagai literatur sejarah, juga bersilaturahim kepada orang-orang tua
yang masih hidup, yang mengalami secara langsung masa perjuangan kemerdekaan, lalu mengambil ibroh dan tadzkiroh dari nilai-nilai perjuangan mereka.
Ketiga, meningkatkan rasa syukur dengan melakukan hal-hal positif seperti ziarah ke makam orang
tua dan para pejuang yang telah wafat, dan mendoakan agar segala amal ibadah dan
perjuangan mereka diterima Allah swt. Rasulullah bersabda:
مَنْ دَعَا لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Siapa saja yang mendoakan saudaranya secara ghaib, malaikat yang diutus untuknya mengaminkan doanya, ‘Amin, untukmu pun demikian.’’ (HR Muslim)
Keempat, melalui komitmen mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang produktif sesuai dengan posisi dan profesi masing-masing, karena kita sebagai warga negara yang
baik juga berkewajiban mengisi kemerdekaan dengan kemampuan dan potensi yang
kita miliki.
Para
petani mengisi kemerdekaan dengan terus berjuang di bidang pertanian sehingga
mampu memperkuat ketahanan pangan.
Para
guru dengan terus mendidik para pelajar untuk menjadi insan berbudi pekerti
luhur yang mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa.
Para
pelajar dengan terus mencari ilmu sebagai bekal untuk menghadapi masa depan
yang penuh dengan tantangan.
Dan
profesi-profesi lainnya harus mampu memberi sumbangsih positif untuk mengisi
kemerdekaan sehingga Indonesia akan berubah ke arah yang lebih baik lagi.
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka”. (QS Ar-Ra’du: 11)
Kelima, merawat kebersamaan, menjaga persatuan, dan kesatuan, dan
meninggalkan perpecahan. Sebagaimana firman Allah:
o وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ
اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا
“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali
(agama) Allah, janganlah bercerai berai,” (QS Al-Imran: 103)
Mensyukuri kemerdekaan
yang telah menghantarkan kita pada keadaan yang tenang dan aman dalam berkarya dan beribadah
kepada Allah, adalah sebuah proses syukur yang tak pernah berhenti, terus
menerus harus kita syukuri dalam kehidupan sehari-hari kita, tidak berhenti hanya menjadi sebuah seremoni yang dirayakan setiap satu tahun sekali belaka. sebagaimana
maqolah dalam kitab Lathiful Ma’arif, Syekh Rajab RohimahuAllahu ta'ala berkata:
كُلُّ نِعْمَةٍ عَلَى الْعَبْدِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى
فِي دِينٍ أَوْ دُنْيَا، تَحْتَاجُ إِلَى شُكْرٍ عَلَيْهَا، ثُمَّ التَّوْفِيقُ
لِلشُّكْرِ عَلَيْهَا نِعْمَةٌ أُخْرَى، تَحْتَاجُ إِلَى شُكْرٍ ثَانٍ، ثُمَّ
التَّوْفِيقُ لِلشُّكْرِ الثَّانِي نِعْمَةٌ أُخْرَى يَحْتَاجُ إِلَى شُكْرٍ
آخَرَ، وَهَكَذَا أَبَدًا
“Setiap nikmat
yang Allah berikan kepada hamba, baik dalam urusan agama maupun dunia, itu
butuh disyukuri. Kemudian ketika seseorang diberi taufik untuk bersyukur, maka
itu juga merupakan nikmat lain yang butuh disyukuri lagi. Lalu jika diberi
taufik lagi untuk bersyukur yang kedua, itu pun nikmat baru yang juga butuh
syukur. Begitu seterusnya tanpa henti.
Dengan senantiasa ingat
pada sejarah, mengisi kemerdekaan dengan hal positif, dan menjaga persatuan,
mudah-mudahan kita mampu merawat kemerdekaan ini dan mampu terus kita wariskan
kepada generasi selanjutnya sampai hari kiamat nanti. Biidznillah. Amin. (Khotib-PP.NHA)