Rabu, 27 Agustus 2025

MARI NYATAKAN CINTA KEPADANYA


***

Maha suci dan Maha luhurlah Allah, yang telah menciptakan cahaya NabiNya-Muhammad SAW-dari cahayaNya, sebelum menciptakan Adam dari tanah.

Allah menampakkan keagungan cahaya kekasihnya kepada semua penghuni syurga dan semesta “Inilah adalah kekasihKu, hamba pilihanKu yang paling Kucintai, yang paling agung, dan paling mulia”

***

Saat Allah menciptakan Nabi Adam, para malaikat pun bertanya, apakah yang Kau maksud ini adalah nabi Adam ya Allah?. Allah menjawab "Bukan, tapi karena kekasihku ini,  Adam kuberi derajat yang tinggi"

Zaman berganti, lalu Allah utus nabi Nuh. Malaikatpun bertanya, Apakah ia adalah Nuh?, Allah pun menjawab,  "Bukan, namun karena kekasihku itu, Nuh aku selamatkan dari banjir yang menenggelamkan, saat keluarga dan kerabat yang melawannya binasa"

Lalu diutus Nabi Ibrohim. Maka para malaikatpun bertanya, apakah dia adalah Ibrohim? Allah pun menjawab: "kerena kekasihku itu, Ibrohim Aku mampukan berhujjah dan mengalahkan para penyembah berhala dan bintang"

Diakah Musa yang Kau Maksud ya Allah, Allah menjawab: "Musa adalah saudaranya, tetapi ini adalah kekasihKu, dan karena kemuliaan kekasihKu musa menerima kalamKu dan menyampaikannya" 

Lalu saat Allah mengutus Nabi Isa, dikatakan bahwa malaikatpun bertanya lagi, mungkinkah yang Kau maksud adalah Isa, ya Allah?.  Allah menjawab: "Isa-lah yang memeberi kabar gembira akan kedatangannya, seperti penjaga pintu. Jarak antara keduanya begitu dekat"

Serempak para malaikat bertanya, lalu siapakah dia kekasih yang mulia ini, yang Engkau beri pakaian kemuliaan yang begitu agung,  Engkau beri  kepadanya mahkota kebesaran para nabi dan utusan, dan Engkau berikan imamah kepimpinan atas semua makhluk?

ِAllah menjawab, "dia adalah Seorang Nabi yang aku pilih dari keturunan Luai ibn Gholib. Aku tetapkan padanya ibu dan bapaknya meninggal pada saat ia masih kecil, kemudian kakeknya yang akan merawatnya, lalu dirawat oleh pamannya yang  penyayang, (Disadur dari kitab Maulid Ad-Diba'i)

***

Selamat datang bulan Maulid, bulan kelahiran pemimpin alam semesta baik yang nyata dan yang ghoib. Yang tidak ditemukan kata-kata yang dapat mewakili cinta dan kerinduan padanya. 

Kepada orang-orang yang rindu hatinya, yang melangit doanya berharap berjumpa dan meminta pembelaannya, namun selalu tergopoh-gopoh amalnya, SELAMAT MEMPERINGATI MAULID NABI, 12 Rabiul Awal, 1448 H. 

"Siapa yang mencintaiku, kelak akan Allah kumpulkan bersamaku" (Nabi Muhammad, SAW) 

(Khotib/PPNHA)

Jumat, 22 Agustus 2025

YAA ALLAH, JANGAN BIARKAN AKU..


"Ya Allah, aku belum mendirikan sholat sebagaimana yang layak menurutMu,

Ya Allah, aku juga tidak berpuasa sebagaimana Nabi Daud berpuasa,

Dan ketika aku sakit, aku juga tidak memiliki kesabaran sebagaimana Nabi Ayyub, 

Aku juga tidak bertasbih sebanyak Nabi Yunus di dalam perut ikan,

Dan aku tidak memegang agamaku dengan kekuatan dan keteguhan sebagaimana Nabi Yahya memegangnya,

Dan aku juga belum mencapai derajat kelapangan dada dan kemurahan hati sebagaimana baginda Nabi Muhammad SAW...

Namun, seperti halnya mereka ya Allah, aku mencintaiMu, dan Engkau tetaplah Tuhanku. 

Aku adalah hamba yang tergelincir, yang menjadi lemah  karena dosa, dan menjadi kuat karena ketaatan,

Maka ya Allah, 

Kuatkanlah aku..

Kuatkanlah aku...

Pilihkanlah amal dan perbuatan baik bagiku, jangan Engkau biarkan aku dengan pilihanku sendiri, karena Engkau tahu aku tak kuasa mengatur hidupku.." 🤲🏼

وَصَلَّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

 وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Kamis, 14 Agustus 2025

MENSYUKURI NIKMAT KEMERDEKAAN

Saat ini kita berada di bulan Agustus yang menjadi bulan istimewa bagi bangsa Indonesia. Di bulan inilah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang kemudian dijadikan sebagai momentum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Kita perlu menyadari bahwa generasi kita yang hidup saat ini sebagian besar merupakan generasi yang tidak merasakan secara langsung bagaimana pedihnya perjuangan untuk merebut kemerdekaan.

Kita adalah generasi yang tinggal meneruskan melalui karya-karya positif untuk mengisi kemerdekaan. Karunia kemerdekaan yang diperjuangkan dengan tetes darah dan nyawa para pendahulu kita adalah sebuah warisan yang wajib kita pertahankan. Jangan sampai warisan agung kemerdekaan ini hilang karena ulah kita sendiri yang tak tahu bersyukur dan berterimakasih.

  وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ  

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumatkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” 

(QS Ibrahim: 7)  

Tentang rasa syukur atas limpahan karunia ini kita telah diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya yang tertuang dalam Al-Qur’an surat Ar-rahman, dengan kalimat yang diulang-ulang sebanyak 31 kali. Sebuah kalimat introspektif dan mengingatkan manusia untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur, yakni:

  فبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ  

Artinya: “Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?” (QS Arrahman: 13)  

Oleh karena itu, atas anugerah kenikmatan kemerdekaan ini maka di antara cara bersyukur kita antara lain adalah dengan:

Pertama, menyadari bahwa kondisi kemerdekaan, ketentraman, dan kedamaian yang kita rasakan adalah sebuah karunia dan ni'mat dari Allah. Semua atas kehendak Allah Azza wajalla, yang harus kita rawat dan kita jaga.

Kedua, menghargai, mempelajari, dan mengambil hikmah sejarah perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga untuk kemerdekaan yang sekarang kita nikmati. Hal ini bisa dilakukan dengan membaca berbagai literatur sejarah, juga bersilaturahim kepada orang-orang tua yang masih hidup, yang mengalami secara langsung masa perjuangan kemerdekaan, lalu mengambil ibroh dan tadzkiroh dari nilai-nilai perjuangan mereka.

Ketiga, meningkatkan rasa syukur dengan melakukan hal-hal positif seperti ziarah ke makam orang tua dan para pejuang yang telah wafat, dan mendoakan agar segala amal ibadah dan perjuangan mereka diterima Allah swt. Rasulullah bersabda:

  مَنْ دَعَا لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ  

“Siapa saja yang mendoakan saudaranya secara ghaib, malaikat yang diutus untuknya mengaminkan doanya, ‘Amin, untukmu pun demikian.’’ (HR Muslim

Keempat, melalui komitmen mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang produktif sesuai dengan posisi dan profesi masing-masing, karena kita sebagai warga negara yang baik juga berkewajiban mengisi kemerdekaan dengan kemampuan dan potensi yang kita miliki.  

Para petani mengisi kemerdekaan dengan terus berjuang di bidang pertanian sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan.

Para guru dengan terus mendidik para pelajar untuk menjadi insan berbudi pekerti luhur yang mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa.

Para pelajar dengan terus mencari ilmu sebagai bekal untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan.

Dan profesi-profesi lainnya harus mampu memberi sumbangsih positif untuk mengisi kemerdekaan sehingga Indonesia akan berubah ke arah yang lebih baik lagi.

   اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ  

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka”. (QS Ar-Ra’du: 11) 

Kelima, merawat kebersamaan, menjaga persatuan, dan kesatuan, dan meninggalkan perpecahan. Sebagaimana firman Allah:

o   وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا  

 “Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai,” (QS Al-Imran: 103)  

Mensyukuri kemerdekaan yang telah menghantarkan kita pada keadaan yang tenang dan aman dalam berkarya dan beribadah kepada Allah, adalah sebuah proses syukur yang tak pernah berhenti, terus menerus harus kita syukuri dalam kehidupan sehari-hari kita, tidak berhenti hanya menjadi sebuah seremoni yang dirayakan setiap satu tahun sekali belaka.  sebagaimana maqolah dalam kitab Lathiful Ma’arif, Syekh Rajab RohimahuAllahu ta'ala berkata:

كُلُّ نِعْمَةٍ عَلَى الْعَبْدِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى فِي دِينٍ أَوْ دُنْيَا، تَحْتَاجُ إِلَى شُكْرٍ عَلَيْهَا، ثُمَّ التَّوْفِيقُ لِلشُّكْرِ عَلَيْهَا نِعْمَةٌ أُخْرَى، تَحْتَاجُ إِلَى شُكْرٍ ثَانٍ، ثُمَّ التَّوْفِيقُ لِلشُّكْرِ الثَّانِي نِعْمَةٌ أُخْرَى يَحْتَاجُ إِلَى شُكْرٍ آخَرَ، وَهَكَذَا أَبَدًا

Setiap nikmat yang Allah berikan kepada hamba, baik dalam urusan agama maupun dunia, itu butuh disyukuri. Kemudian ketika seseorang diberi taufik untuk bersyukur, maka itu juga merupakan nikmat lain yang butuh disyukuri lagi. Lalu jika diberi taufik lagi untuk bersyukur yang kedua, itu pun nikmat baru yang juga butuh syukur. Begitu seterusnya tanpa henti. 

Dengan senantiasa ingat pada sejarah, mengisi kemerdekaan dengan hal positif, dan menjaga persatuan, mudah-mudahan kita mampu merawat kemerdekaan ini dan mampu terus kita wariskan kepada generasi selanjutnya sampai hari kiamat nanti. Biidznillah. Amin. (Khotib-PP.NHA)



MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...