Senin, 25 Maret 2024

MENYAMBUT RAMADHAN, DI GERBANG SYA'BAN

 


Alangkah baiknya sebelum memasuki bulan Ramadhan, selama bulan Ramadhan nanti kita berniat akan lebih baik dari ramadhan tahun-tahun kemarin. Persiapan itu dimulai dengan melatih diri kita sejak dibulan sya’ban, dengan berpuasa sunnah, qiyamullail, menahan diri dari segala godaan, dsb.


Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Makki Al-Hasani berkata dalam kitabnya, Madza fi Sya’ban? sebagai berikut: 


من عود نفسه فيه بالإجتهاد، فاز في رمضان بحسن الإعتياد

 Barang siapa yang melatih dirinya dengan sungguh-sungguh (melakukan amal ibadah) di bulan Sya’ban, maka ia akan beruntung di bulan Ramadhan karena mampu memaksimalkan ibadahnya) disebabkan kebiasaan baik yang dikerjakannya sejak bulan Sya’ban).

 Bulan Sya’ban adalah bulan yang dipenuhi banyak kebaikan. Meskipun realitanya, jujur saja, banyak yang di antara kita justru lalai dari bulan mulia ini. Bahkan kadang  terdengar celetukan, “Sekarang sudah bulan Sya’ban, mari makan yang banyak, puas2kan diri dulu sebelum dilarang, atau bepergian jalan-jalan, mumpung belum puasa.”

Inilah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW dalam hadistnya ketika ditanya oleh seorang sahabat yang bernama Usamah bin Zaid prihal puasa yang beliau kerjakan di bulan Sya’ban Rasulullah SAW menjawab: 


قَالَ ذَاك شهر يغْفل النَّاس عَنهُ بَين رَجَب ورمضان

Rasulullah SAW menjawab: Itulan bulan yang banyak dilupakan oleh manusia. Bulan yang berada di antara Rajab dan Ramadhan.

 

 وَهُوَ شهر ترفع فِيهِ الْأَعْمَال إِلَى رب الْعَالمين

Pada bulan (Sya’ban) itulah amal ibadah manusia diangkat menghadap Tuhan pemelihara alam.

وَأحب أَن يرفع عَمَلي وَأَنا صَائِم.

Dan aku senang jika amalku diangkat sedangkan aku dalam keadaan (beribadah), berpuasa. (HR An-Nasai)

 


Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa Rasulullah SAW banyak melakukan ibadah puasa di bulan Sya’ban. Ada yang mengatakan bahwa Rasulullah berpuasa penuh ada juga yang mengatakan bahwa beliau tidak meninggalkan puasa kecuali beberapa hari saja.


Dari hadits di atas tampak jelas bahwa ibadah yang paling dianjurkan oleh Rasulullah SAW di bulan Sya’ban adalah ibadah puasa karena Rasulullah hampir tidak pernah meninggalkan puasa di bulan Sya’ban.

Selain ibadah puasa, ada lagi ibadah yang dianjurkan untuk diperbanyak di bulan Sya’ban, yaitu memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW. Pada bulan Sya’ban inilah ayat tentang perintah bershalawatkepada nabi diturunkan. 


  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzab: 33: 56)

 Karena itu, bulan Sya’ban disebut juga bulan Sholawat, sebagaimana yang dituturkan Imam Ibn Abi Saif al-Yamni: 


إن شهر شعبان شهر الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم لأن الآية  }إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ {..نزلت فيه

 Artinya: Sesungguhnya bulan Sya’ban (disebut juga) bulan shalawat kepada Rasul karena ayat (perintah shalawat) diturunkan di dalamnya.

 

Marilah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya momentum Sya’ban ini untuk melakukan banyak kebaikan. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kebaikan yang telah ditebar Allah SWT di dalamnya. Kita matangkan persiapan diri kita di bulan ini agar kita bisa maksimal beribadah di bulan Ramadhan nanti. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita umur yang panjang, untuk kembali berjumpa dengan bulan Ramadhan yang mulia. Amin ya rabbal ‘alamin. (Khotib PPNHA)

 

Minggu, 24 Maret 2024

BERAPAPUN UMUR KITA SEMOGA DIBERKAHI

 

Semua orang umumnya berdoa agar dikaruniai umur yang panjang, agar memiliki amal yang cukup semasa hidupnya sebagai bekal kehidupan di akhirat. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits Rasulullah shallahu alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

Artinya: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR: Tirmidzi).

Hadits tersebut menjadikan kita meyakini bahwa salah satu tanda orang terbaik adalah apabila seseorang berumur panjang dan hidupnya penuh dengan amal-amal kebaikan. Mereka yang umurnya panjang tetapi amal-amal kebaikannya amat sedikit tidak termasuk orang-orang terbaik, bahkan mereka digolongkan sebagai orang-orang yang merugi.   

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana dengan mereka yang berumur pendek? Apakah mereka tidak termasuk orang-orang terbaik?

Untuk menjawab pertanyaan di atas kita dapat merujuk penjelasan dari Al'alamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya Sabilul Iddikar wal I’tibar sebagai berikut: 

 وَخَيْرُ الْعُمُرِ: بَرَكَتُهُ، وَالتَّوْفيْقُ فِيْهِ لِلْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَالْخَيْرَاتِ الْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ   

Artinya: “Sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah subhanahu wata’la, yang diberi-Nya taufiq untuk mengerjakan amalan saleh dan kebajikan-kebajikan lain baik yang khusus maupun yang umum.”  

Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah subhanu wata’la, yang diberi-Nya bimbingan untuk melakukan berbagai kesalehan dan kebajikan. Jadi kebaikan seseorang sebetulnya tidak semata-mata bergantung pada umurnya yang panjang, tetapi lebih pada seberapa banyak amal kebaikan yang dilakukannya semasa hidupnya. Penjelasan ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW di atas.   

Oleh karena itu, bisa saja seseorang berumur pendek tetapi amal kebaikannya sangat banyak dan mungkin sama atau bahkan melebihi mereka yang berumur panjang. Orang-orang seperti ini termasuk orang-orang terbaik karena mampu memanfaatkan umurnya yang pendek untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Inilah umur yang penuh dengan berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala.   

Dalam kaitan itu, Sayyid Abdullah Al-Haddad menyebutkan contoh beberapa orang saleh yang tidak berumur panjang namun amal kebaikannya sangat banyak dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Di antara contoh itu adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafii. Beliau wafat dalam usia 54 tahun. Meski usia beliau tidak panjang, namun beliau semasa hidupnya mampu menghasilkan banyak kebaikan seperti karya-karya yang sangat penting bagi kaum Muslimin.   

Di antara karya-karya besar Imam Syafi’i adalah Kitab Ar-Risalah yang merupakan kitab tentang Ushul Fiqh.  Kitab Al-Umm yang merupakan kitab tentang mazhab fiqihnya. Beberapa sumber menyebutkan jumlah kitab karangan Imam Syafi’i lebih dari 120 buah, dan beliau hafidz Qur’an dalam usia 7 tahun.   

Contoh lain orang saleh yang tidak berumur panjang namun amal kebaikannya sangat banyak adalah Abu Hāmid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Al-Ghazali. Beliau wafat dalam usia 55 tahun. Meski beliau berumur pendek, namun begitu besar sumbangsihnya bagi masyarakat luas, khususnya kaum Muslimin. Beliau dijuluki Hujjatul Islam karena jasa-jasanya membela kebenaran Islam dengan mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran dengan argumen yang kuat   

Di antara karya-karya besar Imam Al-Ghazali adalah kitab Ihya Ulumiddin yang merupakan kitab tentang akhlak dan tasawuf.  kitab Jawahir Al-Qur’an yang merupakan kitab tentang tafsir Al-Qur’an.  Beberapa sumber menyebutkan jumlah kitab karangan Imam Al-Ghazali lebih dari 200 buah.  

Dari apa yang dijelaskan dan dicontohkan oleh Sayyid Abdullah Al-Haddad di atas sangatlah jelas bahwa sekali lagi, sebaik-baik umur adalah umur yang diberkati Allah subhanahu wata’la. Hal ini meliputi umur panjang dan banyak digunakan untuk melakukan amal-mal saleh dan kebajikan-kebajikan lainnya. Selain itu adalah umur yang tidak panjang namun banyak digunakan untuk mengerjakan kesalehan-kesalehan hingga pada tingkat tertentu yang setara atau malahan lebih banyak dari mereka yang berumur panjang.   

Batasan umur panjang di kalangan umat Islam, memang tidak ada patokan khusus yang disepakati bersama. Hanya kebanyakan umat Islam menjadikan umur Rasulullah shallahu alaihi wa sallam yang mencapai 63 tahun sebagai standar. Artinya mereka yang mencapai umur di atas 63 tahun diyakini telah mendapatkan bonus umur dari Allah subhanu wata’la. Sedangkan mereka yang tidak mencapai umur 63 tahun, semisal 50-55 tahun, atau kurang dari itu seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang wafat dalam usia kurang dari 40 tahun termasuk berumur pendek sebagaimana dijelaskan Sayyid Abdullah Al-Haddad dalam kitab tersebut di atas.   


Berapapun usia umur kita yang ditaqdirkan Allah, Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memiliki umur yang diberkahi Allah subhanahu wata’la. Dijadikan kita oleh Allah senantiasa dalam limpahan taufiq dan hidayahnya. Selalu dalam rido Allah SWT. Amin ya rabbal alamin. 

Sabtu, 23 Maret 2024

WASIAT TERAKHIR DALAM KITAB WASHOYA, Kitab Yang Berisi Kumpulan Wasiat Dari Ayah Untuk Anak-anaknya.

Kitab Washoyal Abaa Lil Abnaa, karya  Syeikh Muhammad Syakir  adalah kitab yang berisi kumpulan wasiat ayah kepada anak-anaknya. Sekiranya setiap ayah mampu memberi nasihat dan wasiat maka seharusnya  isi wasiat-wasiatnya adalah sebagaimana yang tertulis di dalam kitab ini. Dihimpun dari kumpulan wasiat ulama-ulama salaf terdahulu. Kitab ini juga menjadi kitab wajib bagi para santri tahun pertama di PP. Nurul Huda Alkarimi. kitab ini seolah menjadi wakil para ayah untuk berwasiat kepada putra-putrinya. 

Berikut cuplikan Wasiat penutup dari kitab tersebut :

Wasiat  ke 20, Wasiat Terakhir:

ابنيّ : حاسب نفسك على ما فعلت قبل ان يحاسبك مولاك فإذا خلوت بنفسك عند النّوم فاذكر ما صنعت فى يومك وليلتك فإن رأيت خيرا فاحمدالله على توفيقه وإن رأيت شرّا فافزع الى التّوبة والنّدم وعاهد مولاك على ان لا تعود واستغفر ربّك كثيرا ولعلّ الله يقبل توبتك ويغفر لك ما تقدّم من ذنبك

"Wahai anakku, hitung (hisab)lah dirimu dari segala perbuatan sebelum dirimu di hisab oleh Tuhanmu. Apabila engkau berbaring di peraduan hendak tidur, maka ingat-ingatlah  apa yang sudah engkau perbuat seharian. Kalau ternyata engkau temukan amal baik, maka ucapkanlah “Alhamdulillah” atas segala curahan pertolongan yang Allah berikan kepadamu. 
Apabila ternyata kau temukan banyak berbuat keburukan, maka segeralah bertaubat dan merasa menyesal dengan memperbanyak ucapan “astaghfirullahal’adhiim” kemudian berjanjilah kepada Rabbmu untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat. insyaallah dengan jalan memperbanyak istighfar Allah akan menerima tobatmu.

يابنيّ : أكثر من الإبتهال الى الله والدّعوات الصّالحات لنفسك ولأبويك ولإخوانك المؤمنين وقل : ” ربّ اجعلنى مقيم الصّلاة ومن ذرّيّتى ربّنا وتقبّل دعاء ربّنا اغفرلى ولوالدىّ وللمؤمنين يوم يقوم الحساب ” . ” اللّهمّ برحمتك عمّنا واكفنا شرّما أهمّنا وعلى الإيمان الكامل والكتاب والسّنّة توفّنا وانت راض عنّا اللّهمّ اغفرلنا ولوالدينا ولمشايخنا ولإخواننا فى الله تعالى احياء وامواتا ولكفّة المسلمين اجمعين , سبحان ربّك ربّ العزّة عمّا يصفون وسلام على المرسلين والحمد للّه ربّ العالمين

Wahai anakku, perbanyaklah pendekatan diri kepada Allah dan berdo’a memohon kebaikan untuk diri ataupun untuk kedua orang tuamu, juga untuk kawan kawan sesama muslimin dan mukmunin. Bacalah doa dalam surah Ibrahim ini: 
” Ya Allah, jadikanlah aku dan anak cucuku orang orang yang tetap mendirikan shalat. ya Allah Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kepada ibu bapakku dan sekalian orang orang mukmin pada terjadinya hisab (hari kiamat).” 

Ya Allah curahkanlah rahmatMu kepada kami semua, hindarkanlah diri kami dari segala kesulitan, wafatkanlah kami dalam berpegang teguh kepada iman yang sempurna dan berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunah Rasul serta Engkau ridhai kepada kami. Ya Allah ya Tuhan kami, curahkanlah ampunanmu kepada kami, kepada kedua orang tua kami, guru-guru kami dan kepada kawan kawan seperjuangan kami dalam menegakkan agama-Mu baik yang sudah gugur sebagai syuhada ataupun yang masih hidup, serta curahkanlah ampunan-Mu kepada seluruh kaum muslimin. 
“Maha suci tuhanku yang memiliki keperkasaan dari apa yang mereka (kaum kafirin) katakan. Dan kesejahteraan di limpahkan kepada para rasul. Dan segala puji milik Allah Tuhan seru sekalian alam.” (QS. Ash. Shaffaat, Ayat 180-182). "

(Khotib-PPNHA)

10 SIFAT ISTRI YANG MENDATANGKAN REZEKI BAGI SUAMINYA

 

Banyak suami yang mungkin tidak tahu bahwa rezekinya dengan izin Allah akan mengalir lancar atas peran istri. Berikut ini 10 sifat istri yang ‘membantu’ mendatangkan rezeki bagi suaminya.

 1. Istri yang pandai bersyukur

Istri yang bersyukur atas segala karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk rezeki. Punya suami, bersyukur. Menjadi ibu, bersyukur. Anak-anak bisa mengaji, bersyukur. Suami memberikan nafkah, bersyukur. Suami memberikan hadiah, bersyukur. Suami mencintai setulus hati, bersyukur, dsb.

 وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya adzabku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)

 

2. Istri yang tawakal kepada Allah

 Disaat seseorang bertawakkal kepada Allah, Allah akan mencukupi rezekinya.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

 “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq: 3)

Jika seorang istri tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rezekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selalu harus langsung diberikan kepada wanita tersebut. Bisa jadi Allah akan memberikan rezeki yang banyak kepada suaminya, lalu suami tersebut memberikan nafkah yang cukup kepada dirinya.

 

3. Istri yang baik agamanya

Rasulullah menjelaskan bahwa wanita dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya. 

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung” (HR. Al Bukhari dan Muslim) Beruntung itu beruntung di dunia dan di akhirat. Beruntung di dunia, salah satu aspeknya adalah dimudahkan mendapatkan rezeki yang halal. Coba kita perhatikan, insya Allah tidak ada satu pun keluarga yang semua anggotanya taat kepada Allah kemudian mereka mati kelaparan atau nasibnya mengenaskan. Lalu bagaimana dengan seorang suami yang banyak bermaksiat kepada Allah tetapi rezekinya lancar? Bisa jadi Allah hendak memberikan rezeki kepada istri dan anak-anaknya melalui dirinya.

Jadi berkat taqwa istrinya dan bayi atau anak kecilnya yang belum berdosa, Allah kemudian mempermudah rezekinya.Suami semacam itu sebenarnya berhutang pada istrinya.

 

4. Istri yang banyak beristighfar

Diantara keutamaan istighfar adalah mendatangkan rezeki.

 فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh : 10-12)

 

5. Istri yang gemar silaturahim, dengan seizin suami.

Istri yang gemar menyambung silaturahim, baik kepada orang tuanya, mertuanya, sanak familinya, dan saudari-saudari seaqidah, pada hakikatnya ia sedang membantu suaminya memperlancar rezeki. Sebab keutamaan silaturahim adalah dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

 “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

 

6. Istri yang suka bersedekah

Istri yang suka bersedekah, dia juga pada hakikatnya sedang melipatgandakan rezeki suaminya. Sebab salah satu keutamaan sedekah sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah, akan dilipatgandakan Allah hingga 700 kali lipat. Bahkan hingga kelipatan lain sesuai kehendak Allah. Jika istri diberi nafkah oleh suaminya, lalu sebagian ia gunakan untuk sedekah, mungkin tidak langsung dibalas melaluinya. Namun bisa jadi dibalas melalui suaminya. Jadilah pekerjaan suaminya lancar, rezekinya berlimpah.

 مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

 “Perumpamaan orang-orang yang menaf­kahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261) 7. 7. Istri yang bertaqwa

 

7. Istri yang menjaga ketaqwaan

Orang yang bertaqwa akan mendapatkan jaminan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ia akan mendapatkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Talaq ayat 2 dan 3.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

 Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. At Thalaq: 2-3)

 

8. Istri yang selalu mendoakan suaminya

 Doakan suami agar senantiasa mendapatkan limpahan rezeki dari Allah, dan yakinlah jika istri berdoa kepada Allah untuk suaminya pasti Allah akan mengabulkannya.

 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

 “DanTuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan” (QS. Ghafir: 60)


 9. Istri yang gemar shalat dhuha

Shalat dhuha merupakan shalat sunnah yang luar biasa keutamaannya. Shalat dhuha dua raka’at setara dengan 360 sedekah untuk menggantikan hutang sedekah tiap persendian. Shalat dhuha empat rakaat, Allah akan menjami rezekinya sepanjang hari.

 فِى الإِنْسَانِ ثَلاَثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلاً فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ. قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ

“Di dalam tubuh manusia terdapat 360 sendi, yang seluruh bagian itu harus bersedekah.” para sahabat bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan air dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah. Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

 يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تُعْجِزْنِى مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِى أَوَّلِ نَهَارِكَ أَكْفِكَ آخِرَهُ

 Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)


10. Istri yang taat dan melayani suaminya

Salah satu kewajiban istri kepada suami adalah mentaatinya. Sepanjang perintah suami tidak dalam rangka mendurhakai Allah dan RasulNya, istri wajib mentaatinya. Apa hubungannya dengan rezeki? Ketika seorang istri taat kepada suaminya, maka Allah pun ridho padanya,  hati suami pun tenang dan damai. Ketika hatinya damai, ia bisa berpikir lebih jernih dan kreatifitasnya muncul. Semangat kerjanya pun berlipat. Ibadah juga menjadi lebih tenang. Wallahu a'lam bishowab. (Khotib;PPNHA)

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...