Jumat, 03 November 2017

Mutiara Dari Tarim, HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN HAFIDZ, dari Masa ke Masa

TAHUN 1972, Beliau hanyalah seorang anak yatim berusia 9 tahun yang baru saja kehilangan ayah dan pendidik utamanya (Habib muhammad bin Salim) yang diculik dan dibunuh oleh rezim komunis yang berkuasa di Yaman Selatan kala itu, usai wafat sang ayah, beliau dan ibunya seringkali tidak makan berhari-hari karena tidak ada lagi yang menafkahi, dunia tidak bersahabat dengannya.
Tahun 1981, Pemerintah komunis penjajah yang berkuasa di Yaman semakin menjadi, mereka membunuh dan menyiksa para ulama, menutup rubat-rubat dan madrasah serta melarang semua hal yg berbau Islam, keluarganya khawatir beliau akan bernasib sama seperti ayahnya, akhirnya ia terpaksa ”dilarikan” ke kota Baidha, Yaman utara, selama 11 tahun beliau belajar, mengajar dan menikah di kota itu, setelah menikah beliau tinggal di sebuah rumah kecil dengan 3 ruangan (kamar, dapur ­dan toilet), beliau pun terpaksa ”mengungsi” di dapur ketika teman-teman istrinya datang bertamu, dunia masih enggan bersahabat dengannya
Tahun 1992, Beliau kembali lagi ke kota Tarim bersama istri dan anaknya, karena belum punya tempat tinggal, beliau menumpang di rumah kakaknya AlHabib Ali Masyhur (Mufti Tarim saat ini), anaknya menceritakan keadaan saat itu :
”Kami tinggal dikamar yang sangat sempit, hanya cukup untuk 3 orang, aku, abahku dan ibuku, begitu sempitnya sampai-sampai abahku harus sholat tahajjud di jalan antara kamar dan toilet.. Ketika kami pindah ke rumah baru di kawasan ‘Aidid, aku seakan-akan baru masuk surga..”
Tahun 1994, Beliau mulai memiliki beberapa murid dari Yaman dan Indonesia, setiap selesai sholat subuh beliau harus menyetir mobil dari tarim ke kota Seiwun (sekitar 30 km dari Kota Tarim) guna membeli sarapan pagi untuk murid-muridnya, beliau dan keluarganya seringkali memakan sisa roti atau nasi murid-muridnya, karena dirumahnya tidak dijumpai makanan sama se
kali), bahkan di hari raya beliau dan keluarga hanya bisa memakan sebungkus biscuit (padahal semisikin-miskinnya orng sini masih bisa makan daging waktu lebaran), waktu itu, ia hanya berkata pada anak-anaknya :
”Apakah ada yang kurang dari hidup kita meski kita cuma memakan biskuit di hari raya.. ?”
Tahun 2015, ketika banyak mata di dunia tertuju kepadanya, ketika semua bibir berebut mencium tangannya, ketika semua telinga menunggu setiap apa yang keluar dari lisannya, mereka mungkin tidak tahu bahwa beliau dulu adalah seorang anak yatim yang sempat ”diragukan” masa depannya,.
Seluruh yang didapatkan Habib Umar saat ini adalah buah dari ketulusan, kesabaran dan keteguhan beliau dalam mengarungi kehidupan.
Habib Ali AlJufri salah seorang murid senior beliau pernah berkata :
”Habib Umar adalah contoh dari seorang yang tidak pernah menyerah pada kehidupan, sepahit apapun cobaan hidup yang ia rasakan..”
Demikianlah secuil perjalanan hidup guru mulia Habib Umar bin Hafidz yang penuh makna dan pelajaran, kini kota Jakarta bersiap menyambut kedatangannya. Jangan lewatkan mata ini memandang orang yang sangat beruntung didunia dan akhirat
Hafidzallah Habib Umar bin Hafidz
*Cerita ini dikumpulkan dari berbagai sumber antara lain, Habib Ali AlJifri, Sayyid Salim bin Umar, Syeikh Fahmi Ubaidun dan asatidz Darul Musthafa lainnya

WANITA PENGHUNI SURGA


IBNU Abbas pernah bertanya kepada ‘Atha bin Abi Rabah,
“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Jawab ‘Atha, “Tentu.” Ibn Abbas lalu berkata, “Wanita berkulit hitam itu. Dia pernah datang kepada Nabi saw., lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku sering tersingkap (saat penyakitnya kambuh, peny.). Karena itu doakanlah aku agar Allah menyembuhkan penyakitku.’ Nabi saw. berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagi engkau surga. Jika engkau mau, aku akan berdoa agar Allah menyembuhkan dirimu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku memilih bersabar saja. Namun, saat penyakit ayan menimpaku, auratku sering tersingkap. Karena itu doakanlah agar auratku tak tersingkap.’ Lalu Nabi saw. pun mendoakan wanita itu.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Renungkanlah perkataan wanita penghuni surga dalam riwayat di atas. Apakah kita menyaksikan satu kata saja meluncur dari lisannya yang menunjukkan bahwa ia membenci qadha’—yakni penyakit ayan—yang menimpa dirinya? Apakah ia mengeluhkan penyakit ayan yang ia derita? Apakah ia merasa malu karena menderita penyakit tersebut? Tidak! Bukan itu yang ia kelu hkan dan yang membuat ia malu. Ia mengeluh dan merasa malu karena auratnya sering tersingkap saat penyakitnya kambuh. Padahal saat penyakit ayan itu datang, ia tentu dalam keadaan hilang akal. Jika pun tersingkap auratnya dalam keadaan hilang akal, tentu ia tak berdosa.
Namun demikian, wanita penghuni surga itu tetap sangat khawatir bila auratnya tersingkap meski dalam keadaan sakit dan tidak sadar.
Lalu bagaimana dengan kebanyakan wanita zaman sekarang, yang saat sehat dan dalam keadaan sadar pun, rela bahkan acapkali bangga memamerkan aurat mereka. Umam-PPNHA

Kamis, 02 November 2017

IBNU HAJAR AL ASQOLANI (Penyusun Kitab Fathul Barri dan Bulughul Marom) Kisah Kegigihan Wali dan Ulama Allah belajar dari Air dan Batu


IBNU Hajar Al Asqalani, beliau adalah seorang anak yatim, Ayahnya meninggal pada saat beliau masih berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika beliau masih balita. Di bawah asuhan kakak kandungnya, beliau tumbuh menjadi remaja yang rajin, pekerja keras dan sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya serta memiliki kemandirian yang tinggi. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 sya’ban tahun 773 Hijriyah di pinggiran sungai Nil di Mesir.

Nama asli beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar berarti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

Suatu ketika, saat beliau masih belajar disebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin, namun ia juga dikenal sebagai murid yang bodoh, selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan frustasi.


Beliaupun memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh didalam sebuah gua. Ketika berada didalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut. Beliau pun berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Melihat kejadian itu beliaupun merenung, bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah trus menerus maka ia akan manjadi lunak. Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar.

Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh lalu beliau kembali ke sekolahnya dan menemui Gurunya dan menceritakan pristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar dijiwa beliau, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid disekolah itu.

Sejak saat itu perubahan pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar. Beliau manjadi murid yang tercerdas dan malampaui teman-temannya yang telah manjadi para Ulama besar dan ia pun tumbuh menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karangan dalam kitab-kitab yang terkenal dijaman kita skrang ini. Di antara karya beliau yang terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.

Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (
PP.NHA. Dari berbagai sumber) 

Rabu, 01 November 2017

BIOGRAFI KH.MACHMUD BIN ABDUL KARIM Pendiri & Pengasuh Ponpes Nurul Huda Alkarimi Mereng Warungpring Pemalang

Profil Pendiri Ponpes Nurul Huda Alkarimi, Mereng Warungpring Pemalang, Jawa Tengah


KH.MACHMUD Bin ABDUL KARIM,  lahir pada tanggal 01 Februari 1952, adalah putra ke-3 dari pasangan KH.Abdul Karim dan Ny,Hj. Rustinah. Menjadi siswa angkatan pertama di Madrasah Wajib Belajar/MWB (sekarang dikenal dengan Madrasah Ibtidaiyah/MI) yang didirikan oleh orangtua beliau yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Yayasan Pendidikan Islam Nurul Huda. 

Semasa menjadi siswa MWB beliau belajar ilmu agama kepada paman-paman sendiri, diantaranya kepada KH.Abdul Basyir dan KH.Ismail Sarya.

Selepas lulus MWB, kemudian beliau melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Ma'hadut Tholabah, Babakan, Lebaksiu, Tegal dibawah asuhan KH. Isa Mufti dan KH. Abdul Malik dari tahun 1964 sd 1970, sembari juga menempuh pendidikan formal di MTS Agama Islam Negeri dan MA Agama Islam Negeri (MAAIN) Babakan Lebaksiu Tegal.

Selama masa itu beliau juga sempat menimba ilmu agama kepada KH. Said bin Armiya dan KH. Zarkasi Mubaedah di Ponpes Attauhidiyah Giren, Tegal selama sekitar 3 tahun, juga Tabarukan kepada KH.Khozin Mufti, di Ponpes Kupu Dukuh Turi, serta kepada Maulana AlHabib Ahmad bin Hamid bin Syekh Abu Bakar Tegal.

Pada tahun 1970, atas saran dari guru beliau KH. Isa Mufti, beliau melanjutkan pengembaraan keilmuannya di Ponpes Alhidayah Lasem-Rembang, dibawah asuhan Almaghfurlah KH.Ma'sum Ahmad*, (bergelar "Paku Tanah Jawa"), murid dari Syaichona Kholil Bangkalan-Madura, dan murid syech Mahfud Termas Makkah. 
KH. Ma'shum Ahmad juga salah seorang mu'assis /Pendiri Jam'iyah Nahdhotul Ulama bersama Hadrotusyeikh KH. Hasyim Asy'arie. Di ponpes Alhidayah Lasem ini beliau menimba ilmu sembari menjadi khadim Mbah Ma'shum Ahmad selama kurang lebih 3 tahun hingga wafatnya sang guru. 

Setelah 40 hari wafatnya sang guru, kemudian beliau pamit dari Ponpes Alhidayah Lasem berpindah ke Watucongol, Muntilan untuk beberapa saat tabarukan dengan Mbah Mad. 

Kemudian atas saran dari orangtua, beliau melanjutkan pendidikan formal di IAIN kebumen pada fakultas Ushuludin. Namun belum sempat beliau menamatkan studinya, beliau harus  menghentikan pendidikan di IAIN Kebumen, kembali pulang ke kampung halaman untuk menerima amanah meneruskan pengelolaan MI Nurul Huda (dulu MWB) karena ketiadaan tenaga pengajar akibat penarikan massal Guru-guru Negeri saat itu, ekses friksi pemilu tahun 1970 an. 


Pada tahun 1980, beliau menikah dengan ibu Nyai Hj. Chuzaimah, A.Ma, dimana saat itu ibu Ny.Hj Chuzaimah ditugaskan oleh Pemerintah sebagai ASN Tenaga Gur Bantu pertama  di MI Nurul Huda  pasca penarikan massal guru-guru ASN beberapa tahun sebelumnya. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai  2 orang putra dan 2 orang putri (Dzul Fahmi Marjohan, Umi Hani, Muhammad Khotibul Umam, dan Robiah Al Adawiyah). 

Pada tahun 1982, bersama dengan saudara-saudara beliau (KH. Muhammad Idris-Alm, KH Drs.Anshori Masyhuri-Alm , KH.Ma'muri Hasan B.A-Alm,  Ust. Mahful Jahuri,  Ust. Tamim  Abdurrosyid-Alm, dan Ust.Daimun) menginisiasi lahirnya Yayasan Pendidikan, maka pada tahun 1982 secara resmi berdirilah Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nurul Huda, Desa Mereng, Kecamatan Warungpring. 

Atas Ridho Allah SWT, berkembangnya waktu Yayasan Pendidikan Islam Nurul Huda, yang dulu pada tahun 1958 bercikal bakal Madrasah Wajib Belajar/MWB (setingkat SR), saat ini telah berkembang menjadi beberapa lembaga pendidikan berbagai jenjang, yaitu: 

- TK Nurul Huda (berdiri th 2016)
- TPQ Nurul Huda (berdiri th 2016)
- MI Nurul Huda 01 (berdiri th 1958), 
- MI Nurul Huda 02 (berdiri th 1992) 
- MTs Nurul Huda (berdiri th 1982)
- MA Nurul Huda (berdiri th 1994)
- Madrasah Diniyah Takhassus (berdiri th 2014)
- Pondok Pesantren Nurul Huda Alkarimi (2013)



Sejak berdirinya hingga Saat ini, lembaga-lembaga pendidikan dibawah naungan YPI Nurul Huda telah menamatkan sekitar 11 ribuan alumni, yang kini telah berkiprah di berbagai bidang. 

Bersama istri beliau Nyai Hj.Chuzaimah, beliau mewakafkan beberapa bidang tanah untuk didirikan Pondok Pesantren Putra dan Putri, yang kemudian atas Ridho Allah diberi nama "Ponpes Nurul Huda Alkarimi". 

Penambahan "Alkarimi" diniatkan dalam rangka tabarukan dan mengenang jasa orangtua beliau yaitu Almarhum KH.Abdul Karim (wafat 1981)  yang dulu juga telah menjadi pewakaf komplek MI Nurul Huda dan MTs Nurul Huda. 

Demikian sekilas biografi KH. Machmud Bin Abdul Karim. Pendiri dan Pengasuh PP. Nurul Huda Alkarimi Warungpring Pemalang.  Semoga kita bisa mengambil manfaat dan ibrah atas perjalan hidup beliau. Amin. (PPNHA)


____________________
*(Bersambung, Lihat Artikel berjudul "Biografi Mbah Ma'shum Ahmad Lasem, Kisah bermimpi Rasulullah dan Tahu kapan Wafatnya Sendiri", di Blog ini)

"UWAIS ALQORNI", Tidak dikenal di dunia tapi namanya selalu disebut penghuni Langit

Dia adalah “Uwais Al-Qarni”.
Ia tidak dikenal banyak orang dan juga sangat miskin, banyak orang suka menertawakannya, mengolok-oloknya, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri, serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang Fuqoha’ dari negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya lalu memberinya hadiah berupa dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik karena hadiah pakaian tadi setelah diterimanya lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, darimana kamu mendapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.
Pemuda dari desa Qorn – Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Yang masih tersisa hanyalah penglihatannya yang sudah kabur.. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing dan unta. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Beliau lahir dan besar di Yaman. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta tidak mempengaruhi kegigihannya dalam beribadah, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan selalu bermunajat di malam harinya.Adz Dzahabi berkata mengenai beliau, “Seorang teladan yang zuhud, penghulu para tabi’in di zamannya, termasuk diantara wali-wali Allah yang shalih lagi bertaqwa, dan hamba-hamba-Nya yang ikhlas” (Siyar A’lam An Nubala’ 4/19)
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad Saw. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah Swt, yang tak ada sekutu bagi-Nya.
Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur dan mulia. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais al Qarni, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais al Qarni selalu merindukan datangnya suatu kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran dari Nabi Muhammad Saw secara langsung. Dan sekembalinya di Yaman, mereka memperbaharui kehidupan rumah tangga mereka dengan cara kehidupan menurut tuntunan ajaran Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais al Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “Bertamu dan Bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedangkan ia sendiri belum.
Kecintaannya kepada Rasulullah Saw menumbuhkan kerinduan yang sangat kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, maka tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah Saw mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais al Qarni. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukannya adalah sebagai bukti kecintaannya kepada Nabi Muhammad Saw, sekalipun ia belum pernah melihatnya.
Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ?
Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais al Qarni mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi Saw di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.
Beliau memaklumi perasaan Uwais al Qarni, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi Saw di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais al Qarni menuju Madinah yang berjarak kurang lebih 400 kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi Muhammad Saw yang selama ini dirindukannya.
Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi Muhammad Saw, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam.
Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah R.ha sambil menjawab salam Uwais al Qarni. Segera saja Uwais al Qarni menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi Muhammad Saw sedang tidak berada di rumah melainkan sedang berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah.
Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi Muhammad Saw dari medan peperangan.
Tapi, kapankah beliau pulang ?
Sedangkan masih terngiang di telinganya akan pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”.
Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw.
Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah R.ha untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi Muhammad Saw dan melangkah pulang dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi Muhammad Saw langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad Saw menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit).
Mendengar perkataan Rasulullah Saw, sayyidatina ‘Aisyah R.ha dan para sahabatnya tertegun.
Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah R.ha, memang benar ada seseorang yang mencari Nabi Saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rasulullah Saw bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda di tengah-tengah telapak tangannya.”
Sesudah itu beliau Saw, memandang kepada sayyidina Ali R.a dan sayyidina Umar R.a dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi Saw wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq R.a telah di lanjutkan kepada Khalifah Umar R.a.
Ketika Umar R.a menjabat sebagai Amirul Mukminin, khalifah Umar R.a teringat akan sabda Nabi Muhammad Saw tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali R.a untuk mencarinya bersama-sama.
Sejak saat itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh khalifah Amirul Mukminin Umar R.a dan sayyidina Ali R.a.
Suatu ketika ada rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam datang dan pergi silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Mereka bertanya kepada para rombongan kafilah dari Yaman di Baitullah, “Apakah di antara warga kalian ada yang bernama Uwais al-Qarni?”
“Ada,” jawab mereka.
Umar R.a melanjutkan, “Bagaimana keadaannya ketika kalian meninggalkannya?”
Mereka menjawab tanpa mengetahui derajad Uwais al Qarni, “Kami meninggalkannya dalam keadaan miskin harta benda dan pakaiannya telah usang.”
Umar R.a berkata kepada mereka, “Celakalah kalian. Sungguh, Rasulullah Saw pernah bercerita tentangnya. Kalau dia bisa memohonkan ampun kepada Allah Swt untuk kalian, Lakukanlah…!”
Mendengar jawaban itu, khalifah Amirul Mukminin Umar R.a dan sayyidina Ali R.a bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar R.a dan sayyidina Ali R.a memberi salam. Namun rupanya Uwais al Qarni sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri sholatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Lalu Khalifah Umar R.a bermaksud hendak memastikannya terlebih dahulu,
Lantas beliau bertanya “Siapakah namamu wahai saudaraku ?” Tanya Umar R.a
“Abdullah”, jawab Uwais al Qarni.
Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?”
Uwais kemudian berkata: “Anda berdua sebetulnya siapa?”
Kami ini Amirul Mu’minin Umar bin Al- Khottob dan ini Ali”
Ketika itu barulah Uwais al Qarni kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.
Umar R.a melanjutkan, “Darimana kamu berasal..?”
“Dari Yaman” Jawab Uwais al Qarni
Kamu berasal dari Yaman daerah mana?’
Dia menjawab, “Dari Qarn.”
“Tepatnya dari kabilah mana?” Tanya Umar R.a.
Dia menjawab, “Dari kabilah Murad.”
Umar R.a bertanya lagi, “Bagaimana ayahmu?”
“Ayahku telah meninggal dunia. Saya hidup bersama ibuku,” jawabnya.
Umar R.a melanjutkan, “Bagaimana keadaanmu bersama ibumu?’
Uwais al Qarniberkata, “Saya berharap dapat berbakti kepadanya.”
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais al Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu.
“Apakah engkau pernah sakit sebelumnya?” lanjut Umar R.a.
“Iya. Saya pernah terkena penyakit kusta, lalu saya berdo’a kepada Allah Swt sehingga saya diberi kesembuhan.” Jawab Uwais al Qarni
Umar R.a bertanya lagi, “Apakah masih ada bekas dari penyakit tersebut?”
Dia menjawab, “Iya. Di lenganku masih ada bekas sebesar dirham.”
Dia memperlihatkan lengannya kepada Umar R.a. Ketika Umar R.a melihat hal tersebut, maka dia langsung memeluknya seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan oleh Rasulullah Saw. Mohonkanlah ampun kepada Allah Swt untukku!”
Uwais al Qarni enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a dan Istighfar kepada kalian”.
Mendengar perkataan Uwais al Qarni, Khalifah berkata: “Kami datang kesini atas wasiat dari Rasulullah Saw untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”.
Uwais menjawab: “Do’aku bukan hanya untuk kalian berdua, namun untuk seluruh penghuni alam”.
Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar bagi kedua sahabat tersebut.
Selanjutnya Umar R.a bertanya kepadanya mengenai kemana arah tujuannya setelah perjalanan ini.
Dia menjawab, “Saya akan pergi ke kabilah Murad dari penduduk Yaman ke Irak.”
Setelah itu Khalifah Umar R.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais al Qarni untuk jaminan hidupnya.
Segera saja Uwais al Qarni menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon kepada Anda wahai Amriul Mukminin agar engkau tidak melakukannya. Untuk hari-hari selanjutnya biarkanlah hamba yang fakir ini berjalan di tengah lalu lalang banyak orang tanpa dipedulikan atau diketahui orang.”
Setelah kejadian itu, nama Uwais al Qarni kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais al Qarni , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.
“Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh.
Lalu kami berseru lagi,” Demi Dzat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”
Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?”
“Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?” tanya kami.
“Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! “katanya.
“Kami telah melakukannya.” jawab kami
“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca Bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu.
Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.
Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”.
“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami.
“Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”
“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.
”Ya,” jawab kami.
Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a.
Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, disana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.
Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya.
(Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar R.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais al Qarni adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.
Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya: “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? “
Bukankah Uwais al Qarni yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa,
yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ?
Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.
Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...