Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beramal, rajin beribadah, pandai menjaga marwah, cerdik pandai dan berhati-hati, dsb. Padahal jika kita mau jujur, setiap dari kita penuh dengan kekurangan, aib, cacat, dan cela.
Muhamad bin Wasi, seorang ulama besar dari kalangan Tabi'in berkata:
لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ
“Seandainya dosa-dosa itu ada baunya
maka tidak seorangpun yang mau duduk bersamaku”
Ketahuilah bahwa sesungguhnya ada Allah yang terus menutupi segala aib kita di hadapan manusia. Jika satu aib saja diungkap oleh Allah, yakinlah, semua penghormatan dan pujian manusia akan berubah menjadi celaan. Kita juga akan malu, semalu-malunya, menjadi hina.
Oleh karena itu jangan ujub dengan amalan kita. Jangan terpedaya dengan pujian yang diberikan. Jangan pernah riya dengan kebajikan yang diperbuat. Karena Sungguh jika bukan karena karunia dan Rahmat Allah, kita semua pasti akan tesungkur oleh nafsu. Terombang-ambing dalam keburukan satu dan keburukan lainnya.
وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Sungguh kalaulah bukan karena karunia dan rahmat Allah bagi kalian semua, niscaya tidak seorangpun yang dapat terbebas dari perbuatan keji dan kemungkaran, akan tetapi Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya. Allah Maha Mendengar perkataan kalian dan Maha Melihat perbuatan kalian. (Alqur'an)
Maka kemulian kita hari ini, nampak baiknya kita hari ini, masih beribadahnya kita hari ini, masih bisa beramal sholih, sehingga nampak baik di hadapan makhluk, adalah karena pertolongan Allah semata. kemuliaan ini bukan darimu, tapi dari Allah SWT yang menjaga kita, yang memberikan petunjuk pada kita, yang memilihkan kita pada Taqdir kebaikan, dan yang masih terus menutupi aib kita.
Maka mari kita bermohon kepada Allah, agar Allah senantiasa memberikan kita terus cenderung pada kebaikan, serta ditutupi segala aib kita.
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى دِينِى وَدُنْيَاىَ وَأَهْلِى وَمَالِى اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَتِى
“Yaa Allah sesungguhnya aku meminta kepada Mu ‘Afiyah (keselamatan, perlindungan) di dunia dan akhirat. Yaa Allah aku memohon kepada Mu kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga, dan hartaku. Yaa Allah tutupilah auratku (aib-aibku)”
Yaa Allah, terima kasih atas segala karunia dan RahmatMu, terus tutupilah aib-aib kami di dunia dengan RohmanMu, dan tutuplah aib kami di akhirat dengan RohimMu.
Yaa Allah, tenangkanlah kami dari kegelisahan dan kekhawatiran yang melanda kami. Gembirakan kami dengan karuniamu melalui pilihan-pilihan Taqdir kebaikan pada kami.
Yaa Allah, jagalah kami dari arah depan dan belakang kami, arah kanan dan kiri kami, kami berlindung dengan kebesaran-Mu yaa Allah, jangan pula hinakan kami dari arah bawah kami, yaitu saat dimana kami nanti harus kembali ke bawah tanah, Yaa Allah Yaa Robbal alamiin. (Khotib-PPNHA)

.png)

.jpeg)
.jpeg)