Jumat, 20 Desember 2024

MENGGAPAI REZEKI YANG BAIK & BAROKAH

 


Dinukil dari kitab "Tanbihul Ghofiliin, Bab mencari Rezeki / penghasilan"

من أراد أن يكون كسبه طيبا فعليه أن يحفظ خمسة أشياء: أوّلها أن لا يؤخر شيئا من فرائض اللَّه تعالى لأجل الكسب ولا يدخل النقص فيها. والثاني لا يؤذي أحد من خلق اللَّه تعالى لأجل الكسب، والثالث أن يقصد بكسبه استعفافا لنفسه ولعياله ولا يقصد به الجمع والكثرة. والرابع أن لا يجهد نفسه في الكسب جدا. والخامس أن لا يرى رزقه من الكسب ويرى الرزق من اللَّه تعالى والكسب سببا

Barangsiapa ingin penghasilannya baik (barokah), ia harus berpegang pada lima hal: 

Yang pertama, ia tidak boleh menunda kewajiban apa pun kepada Allah SWT demi mendapatkan penghasilan. Sesibuk apapun pekerjaannya, maka kewajiban-kewajiban kepada Allah tetap diutamakan. 

Kedua, dalam bekerja/dalam mencari nafkah, ia tidak boleh mencelakakan atau menyakiti makhluk Allah SWT. Tidak merugikan dan menyakiti orang lain, termasuk tidak membuat kerusakan lingkungan/alam ciptaan Allah. 

Ketiga, ia mencari nafkah diniatkan untuk menjaga kesucian dirinya dan keluarganya, (sehingga hanya yang halal yang dimakannya, terjaga dari perbuatan-perbuatan haram karena ketiadaan harta) tidak diniatkan mengumpulkan harta semata. 

Keempat, ia tidak boleh memaksakan diri untuk mendapatkan penghasilan  /menumpuk harta. Berlebihan-lebihan dalam usaha menumpuk harta  berpotensi melenakannya kepada Allah. 

Kelima, semata-mata memandang rezeki itu datangnya dari Allah yang Maha Kuasa,  mencari nafkah /kasab hanya sebagai sarana. (Khotib-PPNHA)


Kamis, 05 Desember 2024

"Al-ASHR, Sesungguhnya Manusia Benar-benar Berada Dalam Kerugian"

 

Sungguh jika bukan sebab pertolongan Allah, tidaklah kita paham tentang Taqwa dan Iman. Sungguh jika bukan karena Taufiq Allah kita tidak mampu membedakan antara yang haq dan bathil. Sungguh jika bukan karena hidayah allah, kita tidak akan pernah menuju jalan kebenaran.

Surah Al-‘Ashr menurut mayoritas ahli tafsir adalah surah Makiyyah, ia terdiri dari tiga ayat, empat belas kata dan enam puluh delapan huruf. Ayat yang pertama,

وَٱلْعَصْرِ

Ayat ini diawali dengan sumpah. dengan makna ‘Dan demi masa/waktu’. Allah ta’ala bersumpah dengan masa, karena dalam perjalanan masa terdapat banyak pelajaran bagi orang-orang yang mau merenung. kemudian

إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ

“Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” Dan ayat yang ketiga

 

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

“Kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal saleh, serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”

Dalam ayat di atas, ditegaskan bahwa sesungguhnya, seluruh manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang melakukan empat perkara.

Pertama,  ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟   mereka yang memiliki iman. Karena tanpa iman, seseorang tidak akan selamat di kehidupan akhirat.  Nampak baik-baik saja di dunianya tapi sengsara di kehidupan akhiratnya, sungguh merugilah mereka.

Kedua,  وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ   kemudian senantiasa beramal saleh,  yaitu melakukan seluruh apa yang Allah wajibkan kepada hamba-hamba-Nya. Berbuat baik kepada sesama makhluk allah.

Ketiga, وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ saling menasihati untuk kebenaran. Yaitu menjadi hamba yang saling menasihati untuk melakukan kebaikan.

Dan Keempat, وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ saling menasihati dan mengingatkan untuk senantiasa bersabar . bersabar melakukan ketaatan, bersabar meninggalkan kemaksiatan dan bersabar menghadapi musibah.

Saling menasihati artinya saling mengingatkan ketika ada yang berbuat dosa. Bukan membiarkannya dalam dosa dengan dalih menjaga perasaan atau menjaga hubungan pertemanan agar tidak terputus. Saling menasihati karena Allah artinya bekerja sama dalam kebaikan untuk meraih ridha Allah. SWT.  Sebagaimana Allah ta’ala berfirman dalam hadis qudsi:

وَحَقَّتْ مَحَبَّتِيْ عَلَى الْمُتَنَاصِحِيْنَ فِيَّ

 “Dan selalu dalam cinta-Ku, bagi orang-orang yang saling menasihati karena Aku”

Pun demikian, Nasihat semestinya disampaikan dengan tetap menjaga kehormatan yang dinasehati, tidak dengan cara membuka aib seseorang di hadapan orang lain. Bahkan jika nasihat itu bisa disampaikan dengan isyarat, maka cukuplah dengan isyarat, Karena seorang muslim yang melakukan dosa dan aib, maka sepatutnyapun kita tutupi aibnya pula. Sebagaimana hal itu ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat” (HR. Ibnu Majah)

Karena itu, apabila kita melihat aib dari seorang muslim atau ia melakukan suatu kesalahan, maka selayaknya tidak kita umbarkesalahannya didepan khalayak. Melainkan kita nasihati ia secara sembunyi sembunyi, tidak di hadapan orang lain. Hal ini jika yang ia lakukan adalah aib atau dosa yang tidak membahayakan orang lain. Sebaliknya, jika dosa itu adalah kategori yang membahayakan masyarakat, membahayakan eksistensi agama atau kehidupan manusia banyak, maka kita diperintahkan untuk memperingatkan secara terang-terangan

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa jika jika para sahabat Nabi berkumpul, mereka tidak berpisah dari pertemuan itu, sebelum dibacakan  diantara mereka surah Al-‘Ashr. Inilah kemudian, tradisi yang masih dilestarikan

Imam As-Syafi’i RA mengatakan:

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هذِهِ السُّوْرَةَ لَكَفَتْهُمْ،

“Seandainya seluruh manusia mau merenungkan surat ini,

وَذلِكَ لِمَا فِيْهَا مِنَ الْمَرَاتِبِ الَّتِي بِاسْتِكْمَالِهَا يَحْصُلُ لِلشَّخْصِ غَايَةُ كَمَالِهِ

niscaya ia cukup menjadi pedoman bagi mereka. Hal itu dikarenakan surat ini mengandung beberapa hal yang jika dilakukan seseorang maka ia telah mencapai kesempurnaan iman. Yaitu

إِحْدَاهَا: مَعْرِفَةُ الْحَقِّ

  (1) Mengetahui kebenaran,

وَالثَّانِيَةُ: عَمَلُهُ بِهِ،

(2) Melakukan kebenaran,

وَالثَّالِثَةُ: تَعْلِيْمُهُ مَنْ لَا يُحْسِنُهُ،

(3) Mengajarkan kebenaran itu kepada orang lain yang tidak melakukannya, dan

وَالرَّابِعَةُ: صَبْرُهُ عَلَى تَعَلُّمِهِ وَالْعَمَلِ بِهِ وَتَعْلِيْمِهِ. اهـ

 (4) Bersabar untuk mempelajari kebenaran, mengamalkannya dan mengajarkannya.”

Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua. Aamiin. (Khotib/PPNHA)

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...