Sungguh jika bukan sebab pertolongan Allah, tidaklah kita
paham tentang Taqwa dan Iman. Sungguh jika bukan karena Taufiq Allah kita tidak mampu
membedakan antara yang haq dan bathil. Sungguh jika bukan karena hidayah allah, kita tidak akan
pernah menuju jalan kebenaran.
Surah Al-‘Ashr menurut mayoritas ahli tafsir adalah
surah Makiyyah, ia terdiri dari tiga
ayat, empat belas kata dan enam puluh delapan huruf. Ayat yang pertama,
وَٱلْعَصْرِ
Ayat ini
diawali dengan sumpah. dengan makna ‘Dan demi masa/waktu’. Allah ta’ala
bersumpah dengan masa, karena dalam perjalanan masa terdapat banyak pelajaran
bagi orang-orang yang mau merenung. kemudian
إِنَّ
ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ
“Sesungguhnya manusia benar-benar
berada dalam kerugian.” Dan ayat yang ketiga
إِلَّا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
“Kecuali orang-orang yang beriman, dan
beramal saleh, serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”
Dalam ayat di atas, ditegaskan bahwa sesungguhnya, seluruh
manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang melakukan empat perkara.
Pertama, ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ mereka yang memiliki iman. Karena tanpa iman, seseorang tidak akan selamat di
kehidupan akhirat. Nampak baik-baik saja di dunianya tapi sengsara di kehidupan
akhiratnya, sungguh merugilah mereka.
Kedua, وَعَمِلُوا۟
ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ kemudian senantiasa beramal saleh, yaitu melakukan seluruh apa yang Allah
wajibkan kepada hamba-hamba-Nya. Berbuat baik kepada sesama makhluk allah.
Ketiga, وَتَوَاصَوْا۟
بِٱلْحَقِّ saling
menasihati untuk kebenaran. Yaitu menjadi hamba yang saling menasihati untuk melakukan kebaikan.
Dan Keempat, وَتَوَاصَوْا۟
بِٱلصَّبْرِ saling
menasihati dan mengingatkan untuk senantiasa bersabar . bersabar melakukan ketaatan,
bersabar meninggalkan kemaksiatan dan bersabar menghadapi musibah.
Saling menasihati artinya saling mengingatkan ketika ada yang
berbuat dosa. Bukan membiarkannya dalam dosa dengan dalih menjaga perasaan atau
menjaga hubungan pertemanan agar tidak terputus. Saling menasihati karena Allah
artinya bekerja sama dalam kebaikan untuk meraih ridha Allah. SWT. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman dalam
hadis qudsi:
وَحَقَّتْ
مَحَبَّتِيْ عَلَى الْمُتَنَاصِحِيْنَ فِيَّ
“Dan selalu dalam cinta-Ku, bagi orang-orang yang saling menasihati karena Aku”
Pun demikian, Nasihat semestinya disampaikan dengan tetap
menjaga kehormatan yang dinasehati, tidak dengan cara membuka aib seseorang di
hadapan orang lain. Bahkan jika nasihat itu bisa disampaikan dengan isyarat,
maka cukuplah dengan isyarat, Karena seorang muslim yang melakukan dosa dan
aib, maka sepatutnyapun kita tutupi aibnya pula. Sebagaimana hal itu ditegaskan
oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ
سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa menutup aib seorang
muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat” (HR. Ibnu Majah)
Karena itu, apabila kita melihat aib dari seorang muslim atau
ia melakukan suatu kesalahan, maka selayaknya tidak kita umbarkesalahannya
didepan khalayak. Melainkan kita nasihati ia secara sembunyi sembunyi, tidak di
hadapan orang lain. Hal ini jika yang ia lakukan adalah aib atau dosa yang
tidak membahayakan orang lain. Sebaliknya, jika dosa itu adalah kategori
yang membahayakan masyarakat, membahayakan eksistensi agama atau kehidupan manusia
banyak, maka kita diperintahkan untuk memperingatkan secara terang-terangan
Disebutkan
dalam sebuah riwayat bahwa jika jika para sahabat Nabi berkumpul, mereka tidak
berpisah dari pertemuan itu, sebelum dibacakan diantara mereka surah Al-‘Ashr. Inilah kemudian,
tradisi yang masih dilestarikan
Imam
As-Syafi’i RA mengatakan:
لَوْ
تَدَبَّرَ النَّاسُ هذِهِ السُّوْرَةَ لَكَفَتْهُمْ،
“Seandainya seluruh manusia mau merenungkan
surat ini,
وَذلِكَ
لِمَا فِيْهَا مِنَ الْمَرَاتِبِ الَّتِي بِاسْتِكْمَالِهَا يَحْصُلُ لِلشَّخْصِ
غَايَةُ كَمَالِهِ
niscaya ia cukup menjadi pedoman bagi
mereka. Hal itu dikarenakan surat ini mengandung beberapa hal yang jika
dilakukan seseorang maka ia telah mencapai kesempurnaan iman. Yaitu
إِحْدَاهَا:
مَعْرِفَةُ الْحَقِّ
(1)
Mengetahui kebenaran,
وَالثَّانِيَةُ:
عَمَلُهُ بِهِ،
(2) Melakukan kebenaran,
وَالثَّالِثَةُ:
تَعْلِيْمُهُ مَنْ لَا يُحْسِنُهُ،
(3) Mengajarkan kebenaran itu kepada
orang lain yang tidak melakukannya, dan
وَالرَّابِعَةُ:
صَبْرُهُ عَلَى تَعَلُّمِهِ وَالْعَمَلِ بِهِ وَتَعْلِيْمِهِ. اهـ
(4) Bersabar untuk mempelajari kebenaran, mengamalkannya
dan mengajarkannya.”
Semoga bermanfaat
dan membawa berkah bagi kita semua. Aamiin. (Khotib/PPNHA)