Rabu, 23 Juni 2021

KENAPA HARUS DI PESANTREN?

Kegiatan Rihlah Sayyid Muhammad Alhasani dari Maroko, di PP. Nurul Huda Alkarimi

Kenapa Harus di Pesantren?
"Apakah mondok di pesantren menjamin masa depan pasti mapan?" Tidak!. 
"Apakah jabatan, pangkat, kedudukan, kehormatan pasti didapat?", Tidak juga!. 

Pesantren bukanlah tempat untuk mengajarkan ketertarikan pada duniawi, di pesantren tidak ada pelajaran cara jitu menjadi kaya raya, atau trik ampuh untuk mendapat kedudukan, atau tips jitu untuk dipuja-puji manusia, yang semua itu umumnya dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan oleh sebagian orang.

Tetapi di setiap ruang-ruang pondok yang berjejal, dalam hiruk pengapnya kamar santri, dalam lelah payahnya menuntut ilmu, serta beratnya menahan rindu, di sana terukir dengan jelas dan kuat bahwa mereka para santri "bersumpah akan menjadi pembela orang tuanya kelak di hadapan Allah!", di saat status sosial, kedudukan, dan kemapanan, tidak mampu menjamin dan membela siapapun di hadapan Tuhannya.

Mari lepas anak-anak kita dengan ridho untuk tinggal dan digembleng di Pesantren, seraya diiringi malam-malamnya dengan doa para orangtua, membekali mereka dengan rizqi yang halal lagi baik, Semoga dengan itu, Allah merahmati dan meridhoi.. 🤲

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

المَالُ هُوَ أَدْنَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ

Harta adalah derajat rezeki yang paling rendah

و العَافِيَةُ أَعْلَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ

Dan Afiyah (kesehatan Dzohir dan Bathin) adalah derajat rezeki yang lebih tinggi,

و صَلَاحُ الأَبْنَاءِ أَفْضَلُ أنْوَاعِ الرِّزْقِ

Dan dikarunia anak-anak yang sholeh adalah yang paling utama dari berbagai macam rezeki

و رِضَا رَبِّ العَالَمِينَ فَهُوَ تَمَامُ الرِّزْقِ

Dan mendapat Ridho Allah Rabb seluruh alam, adalah sempurnanya Rezeki.

(Syekh Mutawalli As Sya'rowi)

________________

PP.NH Alkarimi


Senin, 21 Juni 2021

"MUNAFASAH" DI MEDSOS




Rasa-rasanya sudah menjadi barang lumrah di medsos, orang menyindir bahkan mencaci oranglain yang berbeda pendapat dengan kita, dulu orang menyindir atau membenci dalam situasi masih private, sekarang menyindir bisa dimuka layar dan semua tahu siapa yang disindir. Ramai-ramai membenci, ramai-ramai pula membela seseorang yang kita sukai, Kalau sudah demikian terjadilah saling intai untuk terus debat kusir yang tidak berkesudahan. 

Mana hoax mana nyata tak dapat dibedakan, kecuali sedikit yg mau mentelaah, tidak menelan mentah-mentah. 

Jika sudah sampai tahap merasa pendapatnya yang paling benar, atau seolah menasehati, tapi nasehat itu cenderung jadi mengumbar aib karena di sampaikan di medsos/publik. Atau sengaja melontarkan kalimat atau ungkapan yang sengaja membuat orang salah tafsir, hanya untuk mengejar ramainya komentar, dll,  inilah yang disebut oleh Imam Alghozali dengan istilah "Munafasah", yang kemudian akan melahirkan beberapa penyakit hati sebagai berikut: 

🔸Ghibah, Menggunjingkan kesalahan yang dilakukan orang lain. Hal ini seperti makan daging saudaranya mentah-mentah. Padahal Amar Ma'ruf Nahi Munkar harusnya dengan cara yang juga bil ma'ruf, dan tidak di depan khalayak, karena kata Nabi nasihat didepan khalayak sama halnya dengan membuka aib. 

🔸Riya, memamerkan argumentasi yang disampaikan, merasa argumentasinya yang hebat dan terbaik, dengan tujuan untuk mendapatkan sanjungan. 

🔸Takabbur, merasa dirinya yang paling pantas berbicara, bahkan kadang pendapat orang lain tidak dianggap. 

🔸Ghoflah, lalai dari berdzikir kepada Allah. Hidupnya didedikasikan untuk berdebat dan menjatuhkan orang lain.

🔸Hasud, hatinya panas jika pendapatnya dipatahkan orang lain. Mulailah dengki dengan orang tersebut.

🔸Yukroh, hilangnya sifat kasih sayang dan timbul kebencian sesama umat manusia, lebih-lebih padahal saudara seagama.

🔸Intiqom, ingin selalu menjatuhkan lawan, dimana ada celah, maka akan dijadikan kesempatan untuk mengorek kesalahan orang lain.

🔸Aniid,  tidak mau menerima saran dan nasehat orang lain, terutama yang sebelumnya sering menjadi lawan pndapat kita.

Dan masih banyak lagi penyakit hati yang sangat berat tapi tidak terasa. Dan semua itu ibarat hidangan yang tersaji setiap hari, disebuah tempat sajian yang bernama Medsos. 

_________________________________________

Ya Allah, maafkanlah kami yang sering merendahkan orang lain.

Jagalah hati kami dari sifat permusuhan dan benci,

Jagalah lidah kami yg sering lebih tajam dari pedang.

Jagalah jari-jari kami dari hal-hal yang sia-sia, yang sering membuat orang lain terluka. 

Aamiin Ya Robbal Alamiin...

🤲🏻🤲🏻🤲🏻

(Khotib-PPNHA)

PEGANGLAH 3 HAL, JIKA KAU INGIN DIKARUNIA KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT


"Peganglah 3 hal, jika hidupmu ingin dikarunia  kebahagian di dunia dan akhirat, yaitu: 

 اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، 

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ 

🌸 Senantiasa bertaqwa kepada Allah dimanapun kalian berada

🌸 Jika kau berbuat keburukan, segeralah iringi perbuatn itu dengan kebaikan, karena kebaikan tersebut akan segera menghapus keburukanmu,  dan..

🌸 Jangan kau ciderai oranglain, bergaulah dengan sesama manusia dengan sikap yang paling baik"(Al Hadist)

Selamat jalan anak-anakku, tetaplah mengembara ilmu ditempat-tempat yang baru, selalu memohon kepada Allah agar diberikan Taufiq, agar ditautkan hatimu kepada ketaqwaan dan kebaikan, dan tetaplah menunduk, sebab diatas segala ilmu, wibawa, derajat, kedudukan, ada hal yang lebih tinggi, yaitu ahlaq dan keluhuran Budi pekerti. 

Semoga Ridho Allah selalu menyertaimu. Aamiin Yaa Robb... 🤲

(Catatan Pelepasan Santri PP. Nurul Huda Alkarimi, 2021, Khotib PP.NHA)



MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...