Sejak 3 bulan lalu, tepatnya di bulan Rajab, bergemalah doa-doa di masjid-masjid, di majelis-majelis, di madrasah, di pesantren, doa itu adalah :
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
"Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah (umur) kami hingga bulan Ramadan"
Di bulan Rajab 14 abad yang lalu Allah telah perjalankan Nabi Muhammad dari Makkah menuju Baitil Aqsa Palestina, untuk selanjutnya menempuh perjalan suci yaitu Mi’raj, dari Masjidil Aqsa ke Sidroh Al-Muntaha, dari perjalan ini lahirlah syariat kewajiban sholat 5 waktu bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Selanjutnya setelah bulan Rajab, datanglah bulan Sya’ban, bulan ini dikenal sebagai bulan Rasulullah SAW, di bulan inilah Allah memuliakan Nabi Muhammad dengan predikat khusus yang tidak diberikan kepada Nabi dan Rasul yang lain, yaitu dengan turunnya Surat Al Azhab ayat 56,
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”
Di bulan sya’ban ini juga terjadi perubahan arah Qiblat umat Islam, yang semula berqiblat ke Baitul Maqdis/Masjidil Aqsa Palestina, berubah menjadi ke Ka’bah Baitullah, Makkah.
Di saat-saat itu Rasulullah sering menengadahkan wajah beliau ke langit, dalam hati beliau ingin sekali rasanya ketika sholat berqiblat ke Ka'bah Baitullah setelah sebelumnya selama skitar 12 tahun beliau berqiblat ke Masjidil Aqsa.
Sebagaimana ketika beliau di Mi’raj-kan Allah, beliau menyaksikan jutaan malaikat yang tak terhitung jumlahnya bertawaf terus menerus tanpa henti mengelilingi Ka'bah yang berada di Baitil Makmur di langit ke tujuh.
Hingga 12 tahun kemudian, di hari itu, di sebuah tempat di Madinah, Rasulullah tengah menunaikan sholat Dzuhur, dua rakaat pertama Rasulullah melaksanakan sholat masih menghadap Masjidil Aqsa, namun pada saat beliau tengah sujud di rakaat kedua, turunlah ridho dan izin Allah atas harapan kekasihnya, dalam sujud nabi itu, turunlah wahyu Allah surah Al-Baqarah ayat 144.
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ
"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu".
Dengan turunnya firman Allah ini maka selanjutnya Rasulullahpun bangun/berdiri untuk melanjutkan rakaat ke 3, dan Rasulullah seketika itu langsung memalingkan pandangan dan badannya menuju Ka'bah Baitullah di Makkah, maka terjadilah dalam shalat rasulullah itu satu sholat terdapat dua Qiblat, yaitu dua rakaat pertama menghadap ke Masjdil Aqsa di palestina, dan dua rakaat berikutnya menghadap Ka'bah Baitullah di Masjidil haram, inilah kisah awal mula Qiblat umat Islam menghadap ke Ka'bah Baitullah, tempat terjadinya peristiwa ini kemudian dibangun sebuah masjid, yang diberi nama Masjid Qiblatain, masjid dua qiblat.
Di bulan sya’ban pula, tepatnya pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriah, atau sekitar 624 Masehi, diturunkan syariat perintah untuk berpuasa selama satu bulan, itulah puasa Ramadhan, sebagaimana Allah perintahkan dalam surat Albaqoroh ayat 182 yang insha Allah setiap muslim mengetahuinya.
***
Setiap ramadhan kembali tiba, banyak dari diri kita selalu menyangka, "barangkali ini Ramadhanku yang terakhir", karena rahasia umur hanya Allah yang tahu, maka saat Ramadhan tiba, banyak dari kita selalu berjanji, pada ramadhan kali ini akan berpuasa lebih baik, akan beramal lebih banyak, akan mengaji lebih rutin, akan bertarawih lebih sempurna, demikianlah janji-janji kita, sampai tiba saatnya ramadhan berakhir, apalah dikata, nyatanya seringkali yang tertinggal adalah rasa sedih, penyesalan yang menyesakkan dada, karena perasaan kembali melewatkan masa Ramadhan dengan sia-sia, merasa belum benar-benar menjadi pribadi yang Allah harapkan.
Yaa Rabb, butuh berapa banyak ramadhan lagi, agar kami benar-benar menjalani puasa dengan penuh ketaqwaan dan iman.
Suatu ketika, Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat, "Apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad SAW".
Kemudian seorang sahabat bertanya tentang musibah apa yang akan menimpa mereka. Rasulullah SAW lalu menjawab, "Musibah itu adalah.. Perginya bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan itu semua doa diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa ditolak (dihentikan)".
Terlebih, tak ada yang bisa menjamin apakah di tahun depan kita akan dipertemukan kembali dengan bulan mulai ini.
"Sekiranya umatku ini mengetahui apa-apa kebaikan di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar setahun penuh semuanya menjadi Ramadhan" demikian sabda Nabi dalam HR Ibnu Abbas.
Maka dengan berakhirnya Ramadhan tahun ini, mari bermohon kepada Allah, Mudah-mudahan Allah SWT masih memberikan kepada kita umur yang panjang, agar tahun depan kembali dipertemukan dengan Ramadhan yang mulia, mudah-mudahan di Ramadhan yang akan datang, pertolongan dan Taufiq Allah SWT semakin tercurah ke dalam hati kita, agar semakin baik puasa kita, dan puncaknya dimampukan kita oleh Allah berpuasa Ramadhan yang betul-betul memenuhi syarat untuk meraih RidhaNya, yaitu berpredikat Muttaqiin.
Setelah satu bulan bersama Ramadhan, Idul Fitri pun tiba dalam kesucian dan keberkahan. Hari di mana takbir berkumandang, setelah satu bulan kita ditempat di "Pesantren" Ramadhan.
Meskipun Ramadhan akhirnya pergi jua, semua ini wajib kita syukuri sebagai hamba Allah yang tahu diri, karena betapa banyak sudah nikmat yang terlimpah tercurah yang tak dapat dihitung, rahmat itu senantiasa ada bahkan dalam setiap tarikan napas kita, menjadi bukti banyaknya karunia yang kita terima.
Bukan hanya rezeki dzohir semata, namun rezeki batin pun terus mengalir dalam kehidupan kita. Yaitu nikmat Islam dan iman,
فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka nikmat Tuhan mana lagi yang didustakan"
Semoga kita bisa menjadi hamba yang pandai bersyukur, dengan senantiasa mengucapkan Alhamdulillah di mulut kita, kemudian mewujudkan syukur itu dalam kehidupan nyata untuk menguatkan kesadaran bahwa Allah lah yang paling kuasa atas kehidupan kita.
Insya Allah, meskipun barangkali puasa kita masih jauh dari sempurna, kita berkhusnudzon kepada Allah bahwa mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba yang dosanya telah diampuni, karena kita telah berpuasa semata-mata karena iman dan tiada tujuan lain, selain mengharap Rido dari Allah SWT.
Kesucian/Fitrah atas puasa Ramadhan ini harus kita jaga sekuat tenaga agar hidup kita tak kembali penuh noda.
Mari hindari diri kita untuk berbuat dosa, baik itu dosa antar sesama terlebih dosa kepada Allah SWT.
Jika kita berbuat kesalahan dan dosa pada Allah bertaubat menjadi jalannya. Sebagai wujudnya, kita harus mengiringi perbuatan dosa dengan perbuatan baik sebagai penggantinya.
Jika itu dosa pada sesama manusia, silaturahmi menjadi solusinya.
Kata maaf harus terucap dari mulut kita dan berkomitnrn untuk memulai kehidupan bersama yang lebih baik.
Seorang Muslim yang bertakwa dianjurkan berbuat minimal satu dari tiga hal kepada seseorang yang telah berbuat kesalahan. Tiga Sikap itu adalah menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik terhadap orang yang berbuat kesalahan.
Demikian pula kepekaan terhadap penderitaan orang lain selama ramadhan yaitu dengan merasakan lapar dan dahaga, harus terus disemai. Bantulah orang lain dari kesulitan yang mereka hadapi, menjadi lebih peka kepada mereka.
Terutama kepekaan pada sosok yang paling dekat dan berjasa dalam kehidupan kita. Sosok itu adalah orang tua kita. Dalam ajaran agama, orang tua adalah figur yang mulia dan harus kita hormati dalam kondisi apapun.
Bagi mereka yang orang tuanya sudah meninggal dunia, ziarahilah makamnya. Panjatkan doa kepada yang kuasa semoga mereka diampuni dosanya dan amal ibadahnya diterima di sisi Allah SwT.
Bagi yang orang tuanya masih ada, jagalah dan kunjungilah mereka. Terlebih sosok ibu, yang telah susah payah melahirkan dan merawat kita. Ia adalah sosok yang paling berjasa dan ishaa Allah yang akan menghantarkan kita ke Jannatun Na'im yang abadi.
Tanyakan kabarnya di hari raya ini, segera setelah ini kita bersilaturahmi, raihlah tangannya yang sudah semakin lemah termakan usia.
Ya Allah, semoga Engkau memberikan kesehatan dan keberkahan pada orang tua kami. Jadikanlah kami anak-anak yang berbakti dan tahu berbalas budi. Semoga semua dosa kita kepada Allah dan dosa kepada sesama diberikan ampunan.
Dan semoga kita semua senantiasa tetap terjaga Islam dan iman kita, menjadi manusia yang senantiasa Ridho dengan ketetapan Allah dan hidup yang selalu dalam ke-Ridho-an Allah, hingga kelak ketika saatnya kita kembali pulang menghadap Rabb kita, menyandang status "Radhiyatan Mardhiyyah, wa-adkhilna minassholihiin".
Aamiin Yaa Robbal Alamiin. (Khotib-PPNHA)
.jpeg)