Jumat, 14 Juni 2024

FADHILAH PUASA TARWIYAH, AROFAH & QURBAN

 

Alhamdulilah, saat ini kita telah memasuki bulan Dzulhijjah, lebih tepatnya 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, bulan yang oleh Allah SWT ditetapkan sebagai salah satu bulan mulia. Allah berfirman:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu),." (QS At-Taubah: 36)

Hikmah dari penetapan bulan-bulan mulia ini adalah agar umat Islam bisa melaksanakan dan meraih keutamaan ibadah yang ada di dalamnya. Seperti ibadah yang identik dan tak bisa terlepas dari bulan Dzulhijjah yakni ibadah haji ke Tanah Suci Makkah.

Selain melaksanakan ibadah haji sebagai rukun Islam yang kelima, ada banyak amalan-amalan ibadah yang bisa kita lakukan di bulan Dzulhijjah dan memiliki banyak keistimewaan. Terlebih melaksanakan ibadah di awal-awal bulan Dzulhijjah sampai dengan hari Tasyrik yang masuk dalam rangkaian ibadah di Hari Raya Idul Adha. Rasulullah bersabda:

 مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيْهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ, يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ, وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

 "Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadar" (HR At-Trmidzi).

Dari hadits ini kita mengetahui bahwa disunnahkan bagi kita untuk berpuasa di sepuluh hari pertama dengan berbagai keutamaan di dalamnya. Dalam kitab Asna al-Matholib menjelaskan bahwa pada tanggal 1 sampai 7 Dzulhijjah disunnahkan berpuasa bagi orang yang sedang menunaikan ibadah haji ataupun tidak. Sementara tanggal 8 (hari Tarwiyyah) dan 9 (hari 'Arafah) hanya disunnahkan bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

Adapun keutamaan ibadah puasa Tarwiyah pada tanggal 8, dan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah disebutkan dalam hadits-hadits Nabi.

صَومُ يَوْمِ التَّرْوِيَّةِ كَفَّارَةٌ سَنَةً, وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةٌ سَنَتَيْنِ

"Puasa hari Tarwiyah dapat menghapus dosa setahun. Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun," (HR Abus Syekh Al-Ishfahani dan Ibnun Najar).

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim juga menyebutkan:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ, وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

 "Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang."

Selain ibadah puasa, memasuki sepuluh hari pertama Dzulhijjah, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak ibadah lain seperti memperbanyak dzikir, sedekah, membaca Al-Qur'an, dan berbagai macam amalan sunnah lainnya.

Dzulhijjah juga memiliki 3 ibadah yang identik dan tak bisa lepas serta harus dilaksanakan hanya pada bulan ini. Ketiga ibadah tersebut adalah shalat Idul Adha, Kurban, dan Haji.

Setelah melaksanakan shalat berjamaah di masjid dan tempat-tempat lainnya, umat Islam melakukan ibadah penyembelihan hewan kurban dan berbagi kebahagiaan dengan saling berbagi rezeki berupa daging kurban.

Bagi yang mampu, sisihkan rezeki untuk melaksanakan ibadah qurban, diniati untuk berbagi dan mengharap ridho Alah SWT semata. Rasulullah SAW bersabda melalui riwayat Sayyidah A’syah :

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ- أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا -وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ- فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا 

 “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada Hari Raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah daripada menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya” (Hadits riwayat al-Tirmidzidan Ibn Majah:).

Saat ini di tanah suci, para jamaah haji tengah melakukan rangkaian puncak ibadah untuk menyempurnakan keislaman mereka. Kita doakan, semoga para jamaah haji diberikan kekuatan dan perlindungan dari Allah sehingga bisa melaksanakan rangkaian rukun dan wajib haji dan mendapatkan predikat haji yang mabrur. Amin. 

(Khotib-PPNHA-Dbs)

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...