Sabtu, 12 Februari 2022

SEJARAH SHOLAT JUM'AT

Menurut Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki Alhasani, Sholat Jum'at sebetulnya sudah disyariatkan sejak Nabi Muhammad SAW masih tinggal di Makkah sebelum hijrah ke Madinah, namun kondisi saat itu dimana kaum muslimin masih berjumlah sedikit dan terus diintimidasi dan disakiti kaum kafir Makkah, maka perintah sholat Jumat belum dapat dilaksanakan. 

Sebelum Rasulullah pergi berhijrah ke Madinah, Nabi Muhammad sempat mengutus seorang sahabatnya yang bernama Mush’ab bin Umair bin Hasyim untuk terlebih dahulu berangkat berhijrah dengan  rombongan awal. Setelah sampai dan menetap di kota Madinah Mush'ab bin Umair diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengajarkan Alquran pada penduduk Madinah. 

Pada saat inilah sejarah shalat Jumat dimulai. Karena selain mengajarkan Alquran, sahabat setia Nabi tersebut juga meminta izin pada beliau untuk menyelenggarakan ibadah shalat Jumat dan Rasul dengan senang hati mengizinkannya. Diriwayatkan sholat Jumat pada masa awal ini masih dilaksanakan seperti sholat jamaah pada umumnya, tanpa didahului dengan Khutbah. Mush’ab bin Umair bin Hasyim kemudian dikenal sebagai salah satu sahabat pemegang Sanad Qiroatul Qur'an, juga orang yang pertama kali menginisiasi pelaksanaan ibadah sholat Jum'at ini.

Sementara itu, Nabi Muhammad sendiri baru bisa melakukah shalat Jumat ketika beliau dalam perjalanan berhijrah dan sudah berada di dekat Madinah. Pada waktu itu beliau berada di suatu daerah yang bernama Quba’, sebuah desa pinggiran Kota Madinah, beliau tinggal di rumah sahabat dekatnya yang lain yang bernama ‘Amr bin ‘Auf yang lebih dahulu berhijrah. 

Rasulullah tiba di Quba pada hari Senin pada 12 bulan Rabi’ul Awwal. Kemudian tiga hari sesudahnya, yaitu hari Kamis, Nabi mendirikan sebuah masjid, yaitu masjid Quba, inilah masjid pertama bagi umat Islam yang didirikan oleh Rasulullah SAW. Dan esoknya pada hari Jumat, Nabi Muhammad bertemu lagi dengan sahabatnya Mush'ab bin Umair,  yang menjemput Rasulullah sekaligus berniat mengadakan Shalat Jumat. 

Mengetahui hal tersebut maka Nabi Muhammad kemudian mengajak para sahabat untuk mendirikan sholat Jumat bersama, sekaligus memberikan khutbah sebelum pelaksanaan shalat. Inilah khutbah pertama yang dilakukan oleh Rasul SAW. Sholat Jumat bersama Rasulullah ini didirikan di lembah/Wadi Ranuna, sekitar 4 km sebelum Madinah.  Wallahu A’lam*. (Khotib.PPNHA, dari berbagai Sumber)

*Bersambung, lihat artikel berjudul "Inilah Isi Khutbah Jum'at Pertama Oleh Rasulullah" di blog ini

INILAH ISI KHUTBAH JUM'AT PERTAMA OLEH RASULULLAH

Khutbah Jumat pertama dilakukan pada pekan kedua bulan Rabiul Awal atau pekan terakhir bulan September Tahun 622 Masehi, di laksanakan pada saat Rasulullah dalam perjalan Hijrah, di Lembah/Wadi Ranuna, daerah Quba, 4  km dari Madinah,  (Lihat Artikel "Sejarah Sholat Jumat", pada blog ini)

Berikut isi khotbah Jumat pertama Nabi Muhammad SAW. 

"Segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala. Aku memuji, meminta pertolongan, ampunan, dan petunjuk kepada-Nya. Aku beriman kepada-Nya dan tidak mengkufuri-Nya. Aku memusuhi orang yang mengkufuri-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad ialah hamba dan rasul-Nya. Dia mengutusnya dengan membawa petunjuk, cahaya, dan nasihat setelah lama tidak diutus rasul, ilmu yang sedikit, umat manusia yang tersesat, zaman terputus, sedangkan hari kiamat dan ajal semakin dekat"

"Barang siapa yang taat kepada Allah subhanahu wa taala dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapatkan petunjuk. Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah melampaui batas dan tersesat dengan kesesatan yang sangat jau"

"Aku berpesan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala. Itulah wasiat terbaik bagi seorang Muslim. Dan, seorang Muslim hendaknya selalu ingat akhirat dan menyeru kepada ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala"

"Berhati-hatilah terhadap yang diperingatkan Allah subhanahu wa taala. Sebab, itulah peringatan yang tiada tandingannya. Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah yang dilaksanakan karena takut kepada-Nya, ia akan memperoleh pertolongan Allah atas segala urusan akhirat"

"Barang siapa di antara kalian yang selalu memperbaiki hubungan dirinya dengan Allah subhanahu wa taala, baik di secara rahasia maupun di tengah keramaian, dan ia melakukan itu dengan niat tidak lain kecuali hanya mengharapkan rida Allah, maka baginya kesuksesan di dunia dan tabungan pahala setelah mati, yaitu ketika di akhirat setiap orang membutuhkan balasan atas apa yang telah dia kerjakan di dunia.

Dan, jika ia tidak melakukan semua itu, pastilah ia berharap agar waktu hidupnya menjadi lebih panjang. Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dialah dzat yang firman-Nya benar dan menepati janji-Nya" 

"Allah subhanahu wa taala berfirman

مَا يُبَدَّلُ ٱلْقَوْلُ لَدَىَّ وَمَآ أَنَا۠ بِظَلَّٰمٍ لِّلْعَبِيدِ‎

(Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku)"

"Bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan dunia dan akhirat kalian, baik dalam kerahasiaan maupun terang-terangan. Karena sesungguhnya barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahalanya. Barang siapa bertakwa kepada Allah, sungguh ia telah akan mendapatkan keberuntungan yang besar"

"Sesungguhnya bertakwa kepada Allah dapat melindungi kalian dari kemarahan, hukuman, dan murka-Nya. Takwa kepada Allah bisa membuat wajah menjadi cerah, membuat Allah rida, dan meninggikan derajat kalian" 

"Ambillah bagian kalian dan jangan melalaikan hak Allah. Allah SWT telah mengajarkan kepada kalian dalam kitab-Nya dan menunjukkan jalan-Nya, agar Dia orang-orang yang mempercayai-Nya dan mendustakan-Nya.

Maka, berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepada kalian. Dan musuhilah para musuh Allah"

"Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. Dia telah memilih kalian dan menamakan kalian sebagai orang-orang Islam. Agar orang yang binasa itu binasanya dengan bukti yang nyata dan orang-orang yang hidup itu hidupnya dengan bukti yang nyata pula"

"Sungguh tiada daya upaya, kecuali hanya dengan pertolongan Allah SWT. Maka, perbanyaklah dzikir kepada Allah dan beramallah untuk kehidupan akhiratmu. Sesungguhnya barang siapa yang menjaga hubungan baik dengan Allah, maka Allah pun akan menjaga hubungan orang itu dengan manusia lainnya"

"Karena Allah Subhanahu wa taala memberikan ketetapan atas manusia, sedangkan manusia tidak dapat menentukan keputusan atas-Nya. Allah SWT memiliki apapun yang ada pada manusia, sedang manusia tidak bisa memiliki apapun yang ada pada-Nya. Allah SWT Maha Besar. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah Yang Maha Agung." Lembah Ranuna, 622 M. Wallahu a'lam. (Khotib-PP.NHA)

_______________________________________

(Sumber: kitab "Fiqih Islam Wa Adillatihu" karya Syeikh Wahbah Azzuhaili, Dan buku "Himpunan Wasiat Agung Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali" karya Miftahul Asror Malik)


Kamis, 10 Februari 2022

Apa Sebab Rasulullah menunjuk ia sebagai "AHLI SURGA"?

Suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul bersama dengan para sahabatnya. Ditengah pembicaraan tiba-tiba Rasulullah berkata, "Sebentar lagi akan lewat dihadapan kalian seorang ahli surga", tidak lama setelah itu, lewatlah seorang pria dari kalangan Anshar (penduduk Madinah yang dulu turut menerima kedatangan hijrah kaum muslim Makkah). Para sahabat menyaksikannya dengan takjub meskipun orang yang lewat itu tak menyadarinya, sebagian sahabat yang lain menerka-menerka apakah benar orang ini yang dimaksud Rasulullah. 

Keesokan harinya, saat Rasululah SAW kembali sedang berkumpul dengan para sahabat, beliau kembali berkata seperti sehari sebelumnya. Beliau menunjuk pria yang sama yang tengah lewat dan menyebutnya sebagai seorang ahli surga. Demikian pula pada hari berikutnya ketika orang tersebut kembali lewat. 

Perkataan Rasulullah SAW yang berturut-turut itu membuat penasaran salah seorang sahabat, yaitu Abdullah bin Amru. Ia ingin mengetahui lebih jauh, amalan apa yang membuat orang dari Anshar itu disebut menjadi ahli surga.

Akhirnya, ia membuntuti perjalanan orang itu sampai ke rumahnya. Agar bisa mengamati lebih dekat lagi, Ibnu Amru membuat alasan agar dirinya dapat tinggal beberapa hari di rumah orang itu.

Abdullah bin Amru pun berkata kepadanya, "Wahai saudaraku, ketahuilah, antara aku dan ayahku terjadi perselisihan dan aku berniat tidak akan masuk rumahnya selama tiga hari. Bolehkah sementara beberapa hari ini aku tinggal di rumahmu?"

Orang itu pun menjawab, "Tentu saja, dengan senang hati."

Selama tiga hari berturut-turut Ibnu Amru tinggal di rumah orang itu. Namun selama itu ia sama sekali tidak melihat orang itu melaksanakan amalan-amalan khusus atau sesuatu yang istimewa.

Amalan dan aktifitasnya sehari-hari seperti umumnya kebanyakan orang. 

Setelah beberapa hari berlalu, Abdullah bin Amru semakin heran karena tidak menemukan keistimewaan apapun dari orang itu. Tibalah saatnya Abdullah bin Amru pamit, saat hendak permisi ia berterus terang perihal alasan ia ingin menginap dirumah orang itu, "Wahai hamba Allah, ketahuilah, sebenarnya aku tidak sedang berselisih dengan ayahku, Aku sebetulnya hanya ingin tinggal di rumahmu karena aku mendengar Nabi SAW pernah berkata selama beberapa hari berturut-turut, akan muncul seorang ahli surga."

Orang itu dengan seksama mendengarkan.

Ibnu Amru melanjutkan penjelasannya, "Dan selama itu pula yang selalu muncul di hadapan kami adalah dirimu. Karena itu, aku ingin mengetahui lebih dekat, ingin menyaksikan amalan istimewa apa yang engkau lakukan sehingga Rasulluah SAW mengatakan demikian. Namun, terus terang, selama beberapa hari di sini aku tidak pernah melihat engkau melakukan amalan khusus atau yang istimewa,

sebenarnya apa rahasiamu yang membuat Rasulullah mengatakan bahwa kau adalah ahli surga?" tanya Ibnu Amru.

Orang itu berkata, ''Wahai saudaraku, apa yang kau lihat selama tinggal bersamaku benar adanya, amalanku adalah seperti yang kamu saksikan, dan seperti umumnya orang-orang."

Karena merasa yakin orang itu telah jujur mengatakan apa adanya, Abdullah bin Amru pun pamit dengan membawa rasa penasaran yang belum terjawab. Namun, sebelum ia jauh meniggalkan rumah orang itu, orang itu berlari memanggil lagi Abdullah bin Amru. 

"Wahai saudaraku, ketahuilah, amalanku adalah seperti yang kamu lihat. Namun, Alhamdulillah, dalam hidupku aku tidak pernah merasa iri atau dengki kepada siapapun atas kebaikan atau kenikmatan yang didapatkannya dari Allah SWT, begitupun saat musibah datang kepadaku, aku tidak pernah mengeluh, karena aku sadar semua itu atas kehendak Allah semata"

Mendengar itu, Abdullah bin Amru berbinar, dan berkata, ''Inilah, inilah amalan yang engkau lakukan, sementara orang lain belum dapat melakukan". 

Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa Ridho Allah akan bersama orang-orang yang dalam hidupnya melepas diri dari hasud, dengki, dan sejenisnya, dan sepenuhnya sadar bahwa semua yang dialami adalah Qudroh-Irodah Allah semata, Allah-lah yang memiliki kehendak dan kuasa atas segala sesuatu,  Khairihi wa Syarrihi minAllah, semoga Allah SWT mengaruniai kita Taufiq dan Inayah, sehingga dijadikan kita orang-orang yang memiliki Qolbun Salim. Amiin. (Khotib PP.NHA)

(Kisah dinukil dari kitab Az-Zuhdu, Karya Syaikh Ibnul Mubarok)

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...