Minggu, 12 Mei 2024

BULAN DZULQO'DAH/BULAN APIT, Benarkah Bulan Saat Rezeki Sulit dan Banyak Musibah?

 

Orang jawa, masyarakat kita, menyebut bulan ini dengan nama  Dulkaedah, disebut pula dengan nama Wulan  Apit, Apit yang berarti terjepit, hal ini karena bulan ini terletak di antara dua hari raya besar yaitu Idul Fitri (Syawal) dan Idul Adha (Dzulhijah). Juga disebut  bulan Selo karena bulan ini jeda dari dua hari raya besar tersebut.

Bulan ini disebut Dzulqo’dah bermakna bulan genjatan, bulan yang tanpa peperangan, karena setiap pada bulan ini kebiasaan masyarakat Arab pada saat itu tidak bepergian dari daerahnya dan tidak melakukan peperangan.

Bulan ini juga memiliki nama lain lagi, diantaranya orang-orang Jahiliyah menyebut bulan ini dengan bulan Waronah, ada juga masyarakat Arab yang menyebut bulan ini dengan nama Al Hawa', Sebagaimana dijabarkan dalam kitab Al-Mu’jam Al-Wasith.

Hingga zaman seperti sekarang ini masih beredar kepercayaan yang salah kaprah, dimana bulan Dzulqo’dah atau bulan Apit ini disebut sebagai bulan yang banyak sial, bulan rezeki lagi sulit, atau bahkan bulan tidak baik untuk menyelenggarakan hajatan, menikah, khitan  dan sebagainya. Padahal Justu dalam Islam, bulan Dzulqo’dah atau Apit ini termasuk salah satu dari empat bulan yang disucikan Allah (Asyhurul Hurum), yaitu 4 bulan yang dimuliakan Allah SWT, meliputi Dzulqo’dah/Bulan Apit, Dzulhijjah/Bulan Haji, Muharram/Bulan Syuro, dan bulan Rajab. Allah SWT berfirman: 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya (terdapat) empat bulan haram/bulan yang dimuliakan. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu, (dan Jika kaum musyrik memerangimu) maka perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama-sama orang yang bertakwa.” (Q.S. At-Taubah:36)

Kemudian ditegaskan pula dalam hadits shahih berikut ini:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ...،

“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi...

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ...،

Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci)...

ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab dari bangsa Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari  & Muslim)

Diantara keutamaan bulan Dzulqo’dah adalah sebagai berikut:

Pertama. Bulan Dzulqo’dah termasuk bulan yang disucikan oleh Allah atau disebut juga Bulan Haram, sebagaimana yang jabarkan At-Thobari dalam kitab tafsirnya, ialah bulan yang dijadikan oleh Allah sebagai bulan yang diagungkan kehormatannya. Di mana di dalamnya amalan-amalan yang baik akan dilipatgandakan pahalanya sedangkan amalan-amalan yang buruk akan dilipatgandakan dosanya.

Kedua, Bulan Dzulqo’dah juga merupakan salah satu dari bulan-bulan Haji (asyhrul hajj) yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ‌ مَّعْلُومَاتٌ

Haji adalah pada beberapa bulan yang telah ditentukan” (QS. al-Baqarah: 197)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikemukakan bahwa asyhur ma’lumaat (bulan-bulan yang telah ditentukan) merupakan bulan yang digunakan untuk memulai Ihrom Haji, tidak sah berniat Ihram untuk menunaikan Haji kecuali sudah memasuki bulan-bulan ini. Orang yang berhaji hanya boleh niat untuk memulai haji jika sudah memasuki bulan yang dimaklumatkan ini, bulan yang dimaksud adalah Syawal, Dzulqo’dah dan Dzul Hijjah, pada bulan Dzulqo’dah ini mayoritas jamaah haji sudah memulai melaksanakan ibadah umroh untuk rangkaian wajib haji, atau disebut dengan Tamattu’

Ketiga. Bulan dimana Nabi Musa dikehendaki untuk berbicara dengan Allah. Di bulan Dzulqo’dah ini, Allah SWT berjanji kepada Nabi Musa A.s, untuk berbicara dengannya selama tiga puluh malam di bulan Dzulqa’dah, ditambah sepuluh malam di awal bulan Dzul Hijjah berdasarkan pendapat mayoritas para ahli tafsir. (Tafsir Ibni Katsir). Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ‌

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (untuk memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi)…” (QS. al-A’raaf: 142).

Alhasil, bulan Dzulqo’dah atau bulan Apit ini, adalah bulan pertama dari empat bulan yang suci lagi diagungkan kehormatannya. Seluruh amal kita dilipat gandakan pahalanya maupun dosanya oleh Allah di bulan ini. Oleh karena itu, mari perbanyak amal shalih dan hindari sekuat tenaga bermaksiat, dan hindari berburuk sangka terhadap bulan Dzulqo’dah atau bulan Apit ini, luruskan dan tinggalkan pemahaman yang salah kaprah bahwa bulan ini adalah bulan sial, bulan kejepit sehingga rezekipun sempit, bulan yang dihindari untuk mengadakan acara. 

Sungguh tiada mahluk, termasuk bulan, yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi kehidupan, rezeki, perbuatan, kejadian dll, selain semua dibawah Qudroh dan iIrodahnya Allah Rabbul 'alamin. 

Semoga Allah SWT memberikan ampunan dan maghfirohNya untuk kita semua. Amin. (Khotib-PPNHA)

SANAD KEILMUAN KH. Machmud Bin Abdul Karim, Pengasuh PP. Nurul Huda Alkarimi



SANAD KEILMUAN KH. Machmud Bin Abdul Karim, Pengasuh PP. Nurul Huda Alkarimi. 

(Dibaca dari Bawah) 

1. *NABI MUHAMMAD SAW*

2. *Sayidina Ali Bin Abi Tholib KW*

3. Sayyid Muhammad 

4. Wasil bin Ato’

5. Amr bin Ubaid

6. Ibrohim Annadhom

7. Abu Huzail Al-Alaq

8. Abu Hasi Adzuba’i

9. Abu Ali Adzuba’i

10. Imam Abu Hasan Al’asyari, Pendiri Faham *“AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH”*

11. Abu Abdillah Al Bahily

12. Abu Bakar Al Baqilany

13. Abdul Malik Imam Haromain AlJuwainy,

14. Abu hamid Muhammad AlGhozali, dikenal dengan nama Imam Ghozali, Penyusun kitab Kitab Ihya Ulumuddin,

15. Abdul hamid Assyeikh Irsani.

16. Syech Muhammad bin Umar Fakhruraazi,

17. Syekh Abidin Al Izzy, 

18. Syech Abu Abdillah Muhammad AsSanusi, Kitab Al Aqidatul Kubro

19. Syech Al Bajury, pengarang kitab Albaijury

20. Syech Ad Dasuqy, karangannya Kitab Ummul Barohin

21. Syech Ahmad Zaini Dahlan, karanganya  Kitab Sarah Jurumiyah, 

22. Syech Ahmad Khotib Sambas, Karangannya: Kitab Fathul ‘Arifin

23. Syech Muhammad Annawawi, atau dikenal Syekh Nawawi al-Bantani, Pengarang Syarah Safinatunnajah, Sarah Sulamutaufiq, dll.Yang Mayoritas Ulama di Indonesia memakai karangan beliau sebagai Kitab Rujukan.

24. Syech Mahfud Termas

25. Syech Kholil Bangkalan MaduraKH. Hasyim Asy’Ari, Muassis *Nahdhotul Ulama*

26. KH. Ma'shum Ahmad Lasem & KH. Isa Mufti & KH. Abdul Malik ( dan beberapa Masyayikh/Habaib yg lain)

27. KH. Machmud Bin Abdul Karim, Pengasuh PP. Nurul Huda Alkarimi.

28. Santri PP. Nurul Huda Alkarimi

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...