Senin, 22 Juni 2020

SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB. "Kunci Kebahagiaan adalah RIDHO dan SABAR"


Ridha dan Sabar

Ridha dan sabar serta bersangka baik kepada Allah SWT adalah kunci kebahagiaan
Zikir dan munajat kepada Allah (ilustrasi).
  
Suatu hari, Ali bin Abi Thalib RA melihat Ady bin Hatim bermuram durja, maka Ali bertanya, "Mengapa engkau tampak bersedih hati?"
Ady menjawab, "Bagaimana aku tidak bersedih hati, dua orang anakku terbunuh dan mataku tercongkel dalam pertempuran!?"

Ali terdiam haru, kemudian berkata, "Wahai Ady, barangsiapa ridha terhadap takdir Allah SWT, maka takdir itu tetap berlaku atasnya dan dia mendapatkan pahala-Nya, dan barang siapa tidak ridha terhadap takdir-Nya, maka hal itu pun tetap berlaku atasnya dan terhapus amalnya."
***
Ada dua sikap utama bagi seorang hamba ketika dia tertimpa sesuatu yang tidak dia inginkan, yakni ridha dan sabar. Ridha merupakan keutamaan yang dianjurkan, sedangkan sabar adalah keharusan dan kemestian mutlak yang perlu dilakukan oleh sorang Muslim.
Perbedaan antara sabar dan ridha adalah berikut. Sabar merupakan perilaku menahan nafsu dan mengekangnya dari kebencian-sekalipun menyakitkan-dan mengharap akan segera berlalunya musibah.
Adapun ridha adalah kelapangan jiwa dalam menerima takdir Allah SWT dan menjadikan ridha sendiri sebagai penawarnya. Sebab, di dalam hatinya selalu tertanam sangkaan baik kepada Sang Khalik.
Orang-orang yang ridha ketika ditimpa musibah, dia akan mencari hikmah yang terkandung di balik ujian tersebut. Ia yakin, Allah SWT telah memilihnya (untuk menerima ujian itu), dan Dia sekali-kali tidak menghendaki keburukan dari ketentuan cobaan bagi makhluk-Nya. Apabila ridha ini sudah mengakar dalam sanubari manusia, maka hilanglah semua rasa sakit yang diakibatkan oleh berbagai musibah yang menimpanya.

Dari Anas bin Malik RA bahwa Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya apabila Allah SWT mencintai suatu kaum, maka Dia mengujinya. Barangsiapa ridha terhadap ujian-Nya, maka dia memperoleh ridha-Nya dan barangsiapa tidak suka, maka mendapat murka-Nya.'' (HR Tirmidzi).
Bagi orang yang ridha, ujian merupakan pembangkit semangat untuk semakin dekat pada Allah, semakin menenggelamkan dirinya dalam bermusyahadah dengan-Nya.

Dalam satu kisah, Abu Darda' pernah melayat pada sebuah keluarga yang salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Keluarga itu ridha dan tabah serta memuji Allah SWT. Maka Abu Darda' berkata kepada mereka, "Engkau benar, sesungguhnya Allah SWT apabila memutuskan suatu perkara, maka Dia senang jika takdir-Nya itu diterima dengan rela atau ridha."
Begitu tingginya keutamaan ridha, hingga ulama salaf mengatakan, tidak akan tampak di akhirat derajat yang tertinggi daripada orang-orang yang senantiasa ridha kepada Allah SWT dalam situasi apa pun. Wallahu a'lam bish-shawab. (PP.NHA-dari berbagai sumber)




IBADAH UMROH, Pengertian, Syarat, Rukun dan Keutamaan



Apakah Ibadah Umroh itu?

Umrah ( عمرة‎‎‎) adalah ibadah umat Islam yang dilakukan di Makkah Al-Mukarramah khususnya di Masjidil Haram. Ibadah umroh hampir mirip dengan ibadah Haji, hanya saja dalam kegiatan umroh tidak melakukan wukuf, Mabit dan melontar Jumrah sebagaiana yang dilakukan dalam Haji.

Secara fikih, Umroh artinya melakukan serangkaian ibadah meliputi Thawwaf (mengitari Ka'bah sebanyak tujuh kali putaran), Sa'i (berlari-lari kecil) di antara dua bukit Shafa dan Marwah, lalu diakhiri dengan Tahalul (memotong sebagian rambut kepala), semua rangkaian ibadah tersebut dilakukan setelah Ihram (niat) untuk Umroh dari batas-batas Miqat yang telah ditentukan.

Adapun batas-batas Miqat yang dimaksud yaitu:
1. Yalamlam
Batas miqat yang ditentukan untuk penduduk Yaman atau bagi calon jamaah umroh yang datang dari arah selatan. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 450 KM dari kota Mekah.

2. Rabigh (sebelumnya Juhfah)
Batas miqat yang ditentukan untuk jamaah umroh yang datang dari arah barat. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 187 KM dari kota Mekah.

3. As-Sail (dulu disebut Qarnul Manazil) Batas miqat yang ditentukan untuk penduduk Najd atau jamaah umroh yang datang dari arah timur. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 94 KM dari kota Mekah.

4. Birr Ali (dulu disebut Dzul Hulaifa) Batas miqat yang ditentukan untuk penduduk Madinah atau yang datang dari sebelah utara. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 450 KM dari kota Mekah

5. Ji'ronah, Tan'im dan Hudaibiyah Batas miqat yang ditentukan untuk penduduk kota Mekah. Batas-batas miqat tersebut masing-masing berjarak ± sekitar 22 KM (Ji'ronah), 5 KM (Tan'im) dan 29 KM (Hudaibiyah) dari kota Mekah.

Bagaimanakah Hukum Ibadah Umroh?
Menurut Mazhab Syafi'i dan Hambali hukum umroh adalah "wajib" dilakukan sekali seumur hidup bagi yang mampu, hal ini merujuk firman Allah ta'ala berikut ini,

 “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al Baqarah:196)

Ayat diatas menyatakan perintah untuk menyempurnakan kedua ibadah tersebut. Hal itu menunjukan akan wajibnya mengerjakan Ibadah Haji dan Umroh.

Dalil lain dari HR. Ibnu Majah no. 2901 ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, 
“Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” 
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, 
Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan Haji dan ‘Umroh.

Apa saja syarat Ibadah Umroh?
Syarat Umroh artinya adalah hal-hal yang harus dipenuhi oleh seseorang ketika ingin melaksanakan ibadah Umroh. 
Adapun syarat-syarat Umroh yang dimaksud yaitu: 
  • Beragama Islam 
  • Aqil Baligh  
  • Berakal sehat / tidak gila 
  • Merdeka / bukan budak 
  • Mampu secara materi, fisik dan imu

Apa saja Rukun Umroh?
Rukun Umroh merupakan segala sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang yang sedang mengerjakan ibadah Umroh. Jika salah satu rukun Umroh ada yang tidak dipenuhi, maka ibadahnya tidak sah.

Adapun Rukun Umroh adalah:
  • Niat untuk umrah 
  • Thawaf 
  • Sa'i 
  • Tahallul 
  • Tertib


Apa saja Wajibnya Umroh?
​Wajib umroh yaitu: 
  • Berpakaian Ihram dari Miqot 
  • Meninggalkan perkara-perkara yang dilarang dalam Ihram. 

Bagaimana tata cara Umroh?
Tata cara Umroh dimulai dari niat (Ihram) di Miqot, kemudian mendatangi Masjidil Haram untuk melakukan Thawaf di Ka'bah, dilanjutkan Sa'i antara bukit Shafa dan Marwah, serta mencukur sebagian rambut kepala (tahalul). Rangkaian tata cara umroh tersebut haruslah dilakukan secara tertib atau berurutan sesuai apa yang telah di syariatkan didalamnya. 

Berikut penjelasan lebih rinci rangkaian tata cara umroh tersebut berdasarkan urutannya; 

1. Niat (ihram) 
Rangkaian tata cara umroh dimulai dengan berniat untuk umroh di miqot sembari memakai dua helai kain putih yang tidak berjahit (untuk laki-laki), dan sedangkan untuk wanita cukup memakai pakaian biasa yang menutupi auratnya sesuai syariat Islam. ​Lafaz niat umroh: 

نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهِ لِلَّهِ تَعَالَى. لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً

"Aku berniat melaksanakan umrah dengan berihram karena Allah Ta'ala. Aku memenuhi panggilan-Mu untuk mengerjakan umrah."

Setelah niat umroh di miqat berarti seseorang sudah memasuki prosesi pelaksanaan ibadah Umroh. 

Selama dalam keadaan berihram dilarang melakukan mahzhuratul ihram (larangan-larangan ihram) seperti berikut ini: 
- Memakai pakaian bejahit dan menutup kepala (laki-laki) 
- Menutup wajah dan memakai kaos tangan (perempuan) 
- Memakai wewangian pada badan dan pakaian 
- Mencukur rambut dan bulu pada badan 
- Memotong kuku atau mencabutnya 
- Menikah, menikahkan dan melamar 
- Membunuh binatang 
- Melakukan hubungan suami istri 
- Memakai wewangian

Ketika dalam keadaan berihram, sepanjang perjalanan menuju Masjidil Haram disunnahkan memperbanyak membaca kalimat Talbiyah seperti berikut;

 لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
 
"Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

​2. Thawaf di Ka'bah 
Rangkaian tata cara Umroh kedua adalah Thawaf di Ka’bah sebanyak 7 kali. Thawaf dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad juga. 

Untuk mempermudah jamaah saat tawaf sekarang terdapat garis imajiner, yaitu garis lurus antara ka’bah dan lampu yang dipasang di sisi masjid. Pada batas ini, melihat kearah ka’bah sambil melambaikan tangan dengan mengucap “Bismillah, Allahu akbar”. 

Sepanjang Thawaf dianjurkan memperbanyak do’a, bisa do'a sapu jagad seperti dibawah ini: ​

"Robbana aatina fiddunya hasannah waa fil akhirati hasanah wakina adzabannar" 

Atau doa lainnya sesuai panduan. 

Setelah selesai Thawaf disunnahkan sholat dua rakaat di belakang Maqom Ibrahim. Lalu kemudian minum air Zamzam di tempat yang telah disediakan. 

3. Sa’i 
Sa’i merupakan rangkaian tata cara umroh ketiga yang dilakukan dengan berjalan kaki antara bukit shofa ke bukit Marwah sebanyak 7 putaran. Kegiatan Sa'i dimulai dari bukit Shofa dan berakhir di bukit Marwah. 

4. Tahallul 
Tahalul (mencukur rambut) adalah akhir dari prosesi kegiatan ibadah umroh. Bagi pria boleh mencukur sebagian boleh juga mencukur habis semuanya. Sedangkan untuk wanita cukup memotong rambutnya sepanjang 1 (satu) ruas jari saja. 

5. Tertib 
Tertib artinya rangkaian tata cara Umroh diatas haruslah dilakukan secara berurutan, tidak bisa dengan alasan apapun misalnya melakukan tahalul lebih dahulu dari Thawaf atau melakukan Sa’i kemudian baru berpakaian ihram.

Apa saja keutamaan Ibadah Umroh?
Berikut diantaranya di tinjau dari beberapa hadist;​ 

1. Hadist Riwayat Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349 

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ 
Yang artinya; “Antara Umrah yang satu dan Umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” 

Hadist di atas menjelaskan bahwa berumroh bisa menghapus dosa. 

2. Hadist Riwayat Ibnu Majah no. 2901 Aisyah berkata, قُلْتُ 

يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ 
Yang Artinya; “Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan Haji dan ‘Umroh.” 

Hadist diatas menjelaskan bahwah umrah adalah jihad sebagaimana ibadah Haji.

3. Hadist Riwayat An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387

 تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ 
Yang artinya: “Iringilah ibadah Haji dengan (memperbanyak) ibadah Umrah (berikutnya), karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana alat peniup besi panas menghilangkan karat pada besi, emas dan perak. Dan tidak ada (balasan) bagi (pelaku) haji yang mabrur melainkan surga” 

Hadist diatas menjelaskan bahwah Umrah mampu menghilangkan kefakiran dan menghapus dosa. Hadits ini derajatnya hasan shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani.

Beberapa hadist di atas menjelaskan bahwa ibadah Umroh memiliki keutamaan yang luar biasa. Akan tetapi tidak satiap orang yang pergi umroh bisa mendapatkan keutamaan tesebut, karena semua tergantung pada niatnya. 

Terkait niat dalam ibadah bisa merujuk pada hadist riwayat al Bukhari dan Muslim serta empat imam hadist lainnya dibawah ini : 

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ 

Yang artinya; “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” 

Niat bukan sekedar perkara mengucapkan secara lisan, niat terkait dengan hati. Jadi jika ingin mendapatkan keutamaan dalam melakukan suatu ibadah letakkanlah niat yang ikhlas dihati hanya karena Allah semata bukan karena yang lainnya.
(Khotib-PP.NHA)




KISAH WAFATNYA NABI ADAM Alaihissalam



NABI Adam alaihissallam dianugerahi karunia bisa merasakan detik-detik akhir masa hidupnya. Sehingga ketika ajal itu hendak datang, Nabi Adam tampak seperti telah mempersiapkan semuanya.

Beliau memulainya dengan mengajukan permintaan terakhir kepada putra-putranya, yakni ingin memakan buah surga.Permintaan ini sulit bila harus dimaknai secara harfiah, karena di alam dunia yang serbafana ini buah surga mustahil ditemukan. Surga hanya ada di alam akhirat.

Sebab itulah, ada ulama yang menafsirkan bahwa permintaan akan buah surga merupakan isyarat bahwa Nabi Adam tengah dilanda rindu akan kebahagiaan surgawi yang pernah beliau tinggali sebelum turun ke bumi. Inilah sinyal bahwa kawafatan beliau semakin dekat.

Meski demikian, sebagai anak berbakti, para putra Nabi Adam tetap berangkat mencarikan buah surga. Namun, tak jauh usai meninggalkan sang ayah, perjalanan mereka diadang oleh sejumlah lelaki.

"Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?"

Mereka menjawab, "Bapak kami sakit, beliau ingin makan buah dari Surga","Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba," pinta para lelaki itu yang ternyata adalah para malaikat yang menjelma wujud manusia.

Di tangan mereka sudah tersedia kafan, wewangian, serta sejumlah perangkat yang lazim diperlukan untuk menggali kubur.

Saat para malaikat itu datang, Sayyidah Hawa melihat dan mengenali mereka, maka ia pun berlindung kepada Nabi Adam.

"Menjauhlah dariku istriku. Aku pernah melakukan kesalahan bersamamu. Biarkan saat ini aku dengan malaikat Tuhanku" kata Nabi Adam kepada Hawa.

Para malaikat kemudian mencabut nyawa Nabi Adam, lantas mereka memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan liang lahad, juga menshalatinya.

Selanjutnya mereka turun ke kuburnya, memasukkan jenazah Nabi Adam ke dalam, lalu mereka meletakkan semacam bata di atasnya. Usai naik ke atas kubur, mereka pun menimbunnya. Mereka berseru, "Wahai anak cucu Adam, ini adalah sunnah kalian."

Rupanya apa yang dilakukan oleh para malaikat kepada Nabi Adam memberikan pelajaran berharga bagi generasi berikutnya tentang bagaimana semestinya memperlakukan orang yang meninggal. Manusia tak hanya dihormati ketika masih hidup tapi juga saat mereka mati.

Standar penghormatan pun tak berlebihan. Tak ada prosesi menempeli jenazah dengan perhiasan, atau semacamnya. Namun, semua pelajaran tersebut cukup menggambarkan bahwa manusia itu pada dasarnya mulia, namun kehidupan duniawinya pasti berujung fana. Dari tanah kembali ke tanah.

Kisah ini bisa kita jumpai salah satunya dari uraian Syekh Umar Sulaiman Abdullah al-Asyqar dalam kitab Shahihul Qishash an-Nabawi. (PP.NHA)

KAKBAH DAN 5 MISTERINYA




Bagi umat muslim di seluruh dunia, fakta Ka’bah sebagai kiblat untuk berdoa kepada ALLAH SWT merupakan hal yang sangat mutlak. Tak hanya sekedar sebagai patokan arah beribadah, Ka’bah ternyata menyimpan sejuta misteri yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat dunia dan umat muslim itu sendiri.
Bahkan, Ka’bah juga pernah ditetiliti oleh sejumlah ilmuwan NASA Amerika Serikat. Dan hasilnya pun ternyata cukup menggemparkan masyarakat dunia, khususnya negara-negara barat yang notabene non-muslim. Alhasil, penemuan yang dilakukan dengan pendekatan secara ilmu pengetahuan tersebut, sangat menarik untuk disimak. Untuk lebih jelasnya, simak ulasan berikut.

Ka’bah sebagai pusat atau sumbu bumi 

penelitian yang ditulis oleh Hussain Kamel, Ka’bah merupakan pusat atau sumbu dari bumi ini. Hasil temuan ilmiah tersebut, mengambil beberapa garis bujur dan lintang yang ditarik dari semua benua di dunia. Hasilnya pun cukup mencengangkan. Posisi Ka’bah yang berada di Kota Makkah, Arab Saudi, ternyata merupakan sumber pusat bumi yang sesungguhnya. Jauh berbeda dengan yang selama ini berpatokan pada GMT yang dicetuskan kolonial Inggris.

Tempat beribadah paling sejuk meski kondisi sekelilingnya sangat panas

Tetap dingin meski dikelilingi cuaca panas
Daerah Timur Tengah yang mempunyai suhu yang panas, nyatanya tak berpengaruh pada kegiatan beribadah di sekitar Ka’bah. Hal ini dikarenakan tingginya gravitasi yang menyebabkan adanya kadar garam yang cukup dan hawa dari air bawah tanah yang mengalir di bawah Ka’bah (sumber air zam-zam). Maka dari itu, hawa dingin tetap terasa di sekitar Ka’bah meski suhu dan cuaca sedang terik-teriknya.

Memiliki tingkat gravitasi paling stabil

Tetap dingin meski dikelilingi cuaca panas
Fakta Ka’bah yang tak kalah mengejutkan adalah, tingginya kadar gravitasi yang menjadi keuntungan tersendiri bagi tempat tersebut. Tak hanya itu, gravitasi yang terkumpul di sekitar Ka’bah sangat menyehatkan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Hal ini disebabkan sistem imun pada tubuh, bertindak sebagai sistem pertahanan diri dari segala macam jenis penyakit.

Teknologi modern seperti satelit tak mampu mengintip isi Ka Bah

Satelit tak sanggup intip isi Ka’Bah
Tak hanya menyehatkan bagi tubuh, tekanan gravitasi yang tinggi juga berfungsi melindungi privasi Ka’bah sebagai tempat suci umat islam. Gelombang radio pun tak sanggup mendeteksi Ka’bah. Bahkan, teknologi sekelas satelit tercanggih pun, tak akan sanggup mengintip isi dari Ka’bah tersebut. Bukan hanya sekedar bangunan berbentuk persegi, Ka’bah merupakan tempat berkumpulnya semua doa dan pusat dari semua bentuk energi.

Penemuan NASA yang mengejutkan dunia barat

Fakta Ka’bah yang kejutkan NASA
Yang tak kalah mencengangkan adalah, ketika Astronot Neil Amstrong melihat fenomena aneh yang mengusik akal sehatnya sebagai manusia. Saat itu, ia melihat bumi yang diliputi kegelapan, nampak seperti melayang. Ada seutas tali berwarna putih yang seolah menggantung bumi tersebut agar tetap mengambang. Ada pula temuan radiasi yang memancar dari Ka’bah dan menjadi semacam medan magnet di dalamnya. Yang mengejutkan, radiasi tersebut seolah tak berujung alias tanpa batas.

Batu Hajar Aswad yang mampu merekam siapa saja yang mengunjungi Ka’bah

Kelebihan Hajar Aswad dibanding batu lainnya
Tak hanya Ka’bah, batu Hajar Aswad juga mempunyai sebuah fakta yang tak kalah mengejutkan. Menurut salah seorang mantan pejabat NASA, Hajar Aswad dapat merekam siapapun yang datang mengunjungi Ka’bah. Selain itu, Hajar Aswad juga diduga merupakan jenis batuan yang bukan berasal dari sistem tata surya yang dihuni oleh manusia.
Masih ada beberapa Fakta Ka’bah yang belum terkuak secara detail dan jelas. Meski begitu, kelima hal di atas, menjadi sebuah bukti nyata, bahwa Ka’bah merupakan tempat ibadah yang sakral dan penuh akan hal-hal yang bisa ditelusuri dengan pendekatan ilmiah. (PP.NHA-Dari berbagai sumber)

Minggu, 21 Juni 2020

BERTEMU ALMARHUMAH DI TANAH SUCI MAKKAH, Catatan Perjalanan Ibadah Umroh



Pria itu bernama Ustad M. Takwid. Ini adalah pertama kalinya ia menunaikan ibadah umrah. Tepatnya bulan November tahun 2018.

Semula, laki-laki yang berprofesi sebagai guru itu sempat khawatir, ia takut tertipu seperti teman-temannya  yang sudah bayar tapi tak kunjung berangkat umrah. Setelah mencari banyak informasi akhirnya ia  memutuskan untuk umrah bersama rombongan jamaah PP. Nurul Huda Alkarimi, Warungpring, Pemalang 

Setelah mendaftar, Ustad Takwid aktif untuk konsultasi tentang rangkaian perjalanan dan kaifiyah Ibadah Umrah bersama H. Khotibul Umam, pengampu Pondok Pesantren Nurul Huda Al-Karimi, Warungpring, Pemalang, Jawa Tengah.  “Di Ponpes Nurul Huda AlKarimi, saya bertemu pembimbing dan teman-teman calon jamaah Umroh, Alhamdulillah, saya semakin yakin untuk segera berangkat umrah,” kata ustad Takwid

Atas izin Allah sampailah Ustad Takwid di Makkah Almukarromah, dengan penuh khusyu' dan rasa haru ia menjalankan ibadah Umroh, diusianya yg sudah 74 tahun ia bersyukur masih dipekenankan Allah bisa hadir di Baitullah. Ustad Takwid berniat, begitu selesai menunaikan ibadah umrah untuk dirinya sendiri, ia ingin mengumrahkan (membadalkan) almarhumah ibunda dan istrinya, dan pada saat menjalankan Umroh badal untuk almarhumah ibunyalah pengalaman Ruhani itu terjadi “Setelah melaksanakan umrah badal untuk almarhumah ibu, saya mengalami kejadian yang tidak biasa,” tuturnya.

Setelah menunaikan umrah badal untuk ibu tercinta, sekira jam 1 malam ia keluar dari Masjidil Haram untuk kembali beristirahat di hotel, tanpa sempat terlebih dahulu melepas kain Ihram ia merebahkan diri, belum sempurna tidurnya dan masih dalam keadaan sadar, tiba-tiba sang almarhumah ibunya datang dan menyapanya, "Terimaksih nduk,  sudah berkirim kepada ibu, Kok lama baru ke sini?"

Ustad Takwid pun langsung bangkit terperangah, ia diliputi perasaan yang haru biru, antara terkejut dan rasa bahagia bisa melihat sosok almarhumah ibu, ia tak lagi bisa memejamkan matanya sampai subuh tiba karena terus berurai airmata. Ustad Takwid kemudian mengkonsultasikan hal tersebut kepada pembimbingnya H. Khotibul Umam  "Insya Allah itu pertanda pahala Umroh badal telah sampai kepada almarhumah, terus perbanyak kirim doa kepada beliau". Diantara doanya Ustad Takwid memohon kepada Allah semoga dapat kembali disatukan oleh Allah SWT denga ibunya di surga kelak.

Cerita perjalanan ruhani Ustad Takwid tidak berhenti disini, Pada hari berikutnya, ia kembali melakukan umrah badal untuk istri tercinta yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu. "Mumpung masih di tanah suci Makkah" katanya, dan masya Allah, Pengalaman yang sama terjadi kembali “Saat saya tengah melakukan Thawwaf tiba-tiba terdengar suara, suara yang tak asing, suara almarhumah istri saya, dia mengatakan, ‘Saya kangen’,” ungkapnya.

Ustad Takwid mengaku ucapan sang istri sangat terdengar jelas olehnya. Hal itu membuatnya kembali menangis. “Saya menangis terharu karena rindu kepada dua wanita dalam hidup saya, yakni almarhumah ibu saya dan almarhumah istri saya,” papar ustad Takwid mengakhiri ceritanya.

Semoga Allah SWT kelak mempertemukan ustad Takwid dengan orang-orang terkasihnya.
Subhanallah, walhamdulillah, wa Laa Ilaha Illallah, Allahu Akbar. ||Makkah, November 2018
_____________________________
(Informasi dan Bimbingan seputar ibadah Haji dan Umroh, Hub kami di 085325563676/H.Khotibul Umam)


INFO IBADAH UMROH & PAKET BIAYA. Bersama Nur Islami Travel & PP. Nurul Huda Alkarimi Warungpring Pemalang EDISI SYAWAL 1443 H/ MEI 2022


INFORMASI PAKET BIAYA UMROH, 
Ponpes Nurul Huda Alkarimi Warungpring-Pemalang, Branch Office Wilayah Jawa Tengah PT. Nur Islami Travel (NURMI)

Izin Operasional PPIU Kanwil Jateng No.3920 dan KEMENAG RI No. 264.


Assalamu'alaikum Wr Wb

Segala Puji bagi Allah, Sholawat dan Salam dihaturkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Amma ba'du.

Ibadah Umroh adalah perjalanan ibadah yang mulia, dengan tujuan utama tidak lain adalah berziarah kepada baginda Nabi Muhammad SAW & mengunjungi Ka'bah Baitullah dengan syarat dan ketentuan tertentu.  

Bagi kita yang berada di Indonesia, perjalanan ibadah Umroh membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mengingat hal itu maka penting bagi para calon tamu Allah untuk mempercayakan urusan perjalanan dan bimbingan ibadahnya kepada penyelenggara yang aman dan dipastikan sesuai syari'ah.

Terlebih, lama waktu disana yang relatif singkat maka penting untuk memilih paket perjalanan yang nyaman, misalkan dengan jarak hotel yang dekat dengan dua Masjid Mulia (Masjidil Haram & Nabawi) dan akomodasi yang safety, sehingga waktu yang singkat disana betul-betul bisa digunakan secara efektif untuk hanya beribadah kepada Allah, tidak disibukkan dengan jarak hotel, tersasar dan hal-hal teknis lainnya. 

Biaya perjalanan umroh sangat bervariatif, berkait dengan fasilitas/paket yang dipilih, terutama 3 hal pokok yang menentukan besaran biaya perjalanan umroh, yaitu berapa lama hari, Pesawat/maskapai, dan jarak hotel dari pusat kegiatan. 

Untuk itu sebagai penyelenggara perjalanan ibadah Umroh resmi dan terakreditasi, perkenankan kami Ponpes Nurul Huda Alkarimi-Warungpring Pemalang menyampaikan Program Umroh bekerja sama dengan PT. NUR ISLAMI TRAVEL (NURMI) Cabang Jawa Tengah, dengan Izin Operasional PPIU Kanwil Jateng No.3920 dan KEMENAG RI No. 264.
Sebagai berikut:



UMROH PAKET "HASANAH" 
(+/- 11 Hari)

Pra Terbang 
- Pembuatan Paspor Kolektif 
- Manasik dan bimbingan ibadah di lokasi terdekat jamaah
- Pelaksanaan Vaksin Meningitis kolektif.
- Pemberangkatan dan penjemputan bersama dari Pesantren. 
-Full Pendampingan sejak perjalanan keberangkatan, kegiatan di Saudi, pelaksanaan ibadah, sampai perjalanan kembali kepulangan.

Pesawat :
Rute Terbang :
Jakarta-Jeddah, Direct Tanpa Transit
Maskapai :
- Saudia Arlines/
- Ettihad/
- Qatar Airways/
- Garuda Indonesia/
- City Link

Hotel Makkah :
Hotel bintang 3 / 4
🏷Olayan Hotel/Setaraf
🏷Lama waktu 5 hari 4 malam

Aktivitas di Makkah:
- Umroh minimal 2 kali
- Ibadah Harian di Masjidil Haram
- Ziarah ma'lah (Sayyidah Khodijah dll)
- Mengunjungi Jabal Nur/Gua Hiro
- Mengunjungi Jabal Tsur
- Mengunjungi padang Arofah
- Mengunjungi Jabal Rahmah (Bukit pertemuan Nabi Adam dan Sayyidah Hawa)
- Mengunjungi Mina & Tempat Jumroh Haji
- dll

Hotel Madinah:
Hotel bintang 3 / 4
🏷Salihiyah Golden (Setaraf)
🏷lama waktu 4 hari 3 malam

Aktivitas di Madinah:
-  Ziarah baginda Nabi Muhammad SAW
-  Ibadah Harian Masjid Nabawi
-  Ibadah Raudhoh
- Ziarah Baqi/Makam keluarga dan para sahabat Nabi
-  Ziarah Syuhada Uhud & Jabal Uhud
-  Mengunjungi Masjid Quba
-  Mengunjungi Masjid Qiblatain
-  Kebun Kurma
-  Pusat Percetakan Alquran Madinah* 
- dll

Biaya
◼️Paket A, On Board 
Rp 25.500.000* 
*(Harga sebelum pandemi)

(belum termasuk biaya Paspor, Vaksin Meningitis, Perjalan Kantor Cabang- bandara PP & Hotel Transit bandara Soetta) 

◼️Paket B, Full Package 
27.500.000* 
*(Harga sebelum pandemi)

Harga sudah Termasuk
✅ Pembuatan Paspor
✅ Vaksin Meningitis
✅ Perjalanan keberangkatan dan kepulangan, kantor Cabang-Bandara, PP
----------------------------------
Paket A & Paket B sudah termasuk:
✅  Biaya perlengkapan Umrah 
(koper bagasi, tas dada, Tas punggung, mukena/bergo, kain ihram, batik seragam, id card, Buku Doa, Buku panduan Kegiatan, sabuk dll)
✅  Biaya Manasik
✅Biaya Mutawif/ pembimbing ibadah selama di Madinah & Makkah
✅  pendampingan Ibadah Umrah 2x
✅  Air Zam Zam 5 Liter
✅  Asuransi Perjalanan
✅  Akomodasi sejak berangkat sampai kembali Pulang




Persyaratan Pendaftaran
✅  Fc KK
✅  Fc KTP
✅Fc Akte Kelahiran/Buku nikah/Ijasah (pilih salah satu yang paling sesuai dengan dokumen yang lain)
✅ Bagi jamaah yang sudah memiliki paspor minimal masih berlaku 8 bulan sebelum keberangkatan


Percayakan perjalanan Umroh anda dan keluarga, kepada PT. Nur Islami Travel (NURMI)-PP. Nurul Huda Alkarimi, Penyelenggara Umro Resmi, terakreditasi, aman,  dan berpengalaman. 



Kami juga membuka layanan:
- Pendaftaran Haji Plus
- Pendaftaran Haji Furoda (tanpa daftar tunggu)
- Program Tabungan/Talangan Haji Reguler
- Konsultasi & Privat Manasik Haji/Umroh

INFO LEBIH LANJUT
Hubungi :
H. Khotibul Umam S.Pd 
(Petugas Pembimbing Ibadah Haji & Umroh)
HP. 085325563676 (WA)

Atau kunjungi Alamat Kantor kami:
- Office:
PONPES NURUL HUDA ALKARIMI-Komplek Putra
Jl. H. Abdul Karim Komplek Kampus YPI Nurul Huda, Mereng, Warungpring Pemalang.

*Harga dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan fluktuasi mata uang dan kondisi real-time. 

____________________________________________
Perhatian!
Hati-hati dengan biro/penyelenggara Umroh ilegal atau tidak terdaftar. Untuk mengecek legalitas Biro/Penyelenggara umroh, Download Aplikasi "Umroh Cerdas" di Playstore, lalu isi kolom yang tertera pada menu dengan nama PPIU/Biro Penyelenggara (Contoh, ketik "Nur Islami Travel") Jika biro tersebut berizin legal dari Kementerian Agama RI, maka akan muncul nama Biro/Penyelenggara tersebut, beserta kantor-kantor cabang Resminya. 
◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼◼

Semoga Allah SWT mentaqdirkan kita semua berziarah dan bersua dengan baginda Nabi Muhammad SAW serta mengunjungi Baitullah. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan jalan. Aamiin.

Terimakasih
Wassalamu'alaikum Wr Wb

الحنفاءقبل بعثةالنبي ORANG-ORANG YANG LURUS SEBELUM NABI MUHAMMAD DIUTUS.



Masyarakat Arab pra Islam dikenal sebagai penyembah berhala. Namun di tengah gelapnya paganisme itu ada segelintir di antara mereka yang mencela perbuatan tersebut. Mereka masih menganut agama yang benar. Agama tauhid yang diajarkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Mereka dikenal dengan orang-orang yang hanif.
Kata hanif artinya berpaling dari kesesatan dan lebih condong kepada kebenaran. Allah Ta’ala berfirman,
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah.” [Quran Rum: 30].
Din yang hanif adalah agama yang lurus. Yang tidak ada kebengkokan padanya,  Agama hanif ini juga dinamakan agama Ibrahim.
Ibnu Hisyam menyebutkan empat orang yang masih berada di atas agama yang hanif ini. Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Ubaidullah bin Jahsy, Utsman bin al-Huwairits, dan Zaid bin Amr bin Nufail. Saat masyarakat jahiliyah berkumpul di sisi berhala-berhala mereka dalam rangka merayakan hari besar, salah seorang dari empat orang ini mengatakan, “Ketauhilah. Demi Allah, kaum kalian ini tidak berada di atas apapun. Mereka telah jatuh pada penyimpangan dari agama bapak mereka, Ibrahim. Batu-batu itu tidak mendengar, tidak melihat, tidak bisa membahayakan, dan tidak bisa memberi manfaat. Wahai teman-teman, carilah untuk diri kalian agama yang benar. Karena demi Allah, kaum kalian ini tidak berada di atas kebenaran.” Kemudian mereka berpencar mencari orang-orang yang masih berada di atas agama yang hanif. Agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (Ibnu Hisyam: as-Sirah an-Nabawiyah)
Ada pula yang menyebutkan jumlah orang-orang hanif itu lebih banyak dari empat orang. Sebagian sumber sejarah menyebutkan nama-nama mereka adalah Qiz bin Sa’idah al-Iyadi, Zaid bin Amd bin Nufail, Umayyah bin Abi ash-Shilat, Arbab bin Raib, Suwaid bin Amir al-Mushtalqi, As’ad Abu Karb al-Humairi, Waki’ bin Zuhair al-Iyadi, Umair bin Jundub al-Juhani, Adi bin Zaid al-Adawani, Abdul Thanahah bin Tsa’lab bin Barrab bin Quda’ah, Ilaq bin Syihab at-Tamimi, Multamis bin Umayyah al-Kinani, Zuhair bin Abi Salma, Khalid bin Sinan al-Abasi, Abdullah al-Qudha’I, Ubaid bin al-Abrash al-Asadi, dan Ka’ab bin Luai bin Ghalib (al-Mufassal fi TarikhulArab Qablal Islam)
Mereka semua berpendapat bahwa agama kaum mereka bukanlah agama asli nenek moyang. Agama yang benar adalah agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Oleh karena itu, mereka mencari-cari sisa ajaran ini. Mereka juga menunggu kedatangan seorang rasul yang akan Allah utus untuk mereka. Pemikiran ini tersebar di sejumlah masyarakat Arab. Walaupun ujung dari pencarian mereka berbeda-beda. Seperti Zaid bin Amr bin Naufal yang wafat dalam keadaan belum menemukan apapun. Ia tetap berada di atas agama yang hanif dengan sebatas yang ia ketahui. Ada lagi yang membaca kitab suci Nasrani. Seperti Waraqah bin Naufal. Tentu kitab Nasrani belumlah mengalami perubahan ekstrim seperti sekarang. Waraqah wafat sebelum Nabi Muhammad diutus. Dan di antara mereka terus berada di atas agama yang hanif hingga datang agama Islam, lalu ia memeluk Islam. seperti Ubaidullah bin Jahsy (PP.NHA-dari berbagai sumber)

DIA BAGAIKAN IBU SENDIRI BAGI ROSULULLAH



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggal wafat oleh ibunya saat beliau berusia kurang lebih enam tahun. Di usia kanak-kanak itu, ia diasuh oleh kakek kemudian pamannya. Saat bersama pamannya, Abu Thalib, inilah beliau mendapatkan seseorang yang tampil sebagai seorang pengganti ayahnya dan pengganti ibunya. Pengganti ayahnya adalah sang paman yang begitu menyayangi beliau. Dan pengganti ibunya adalah istri dari Abu Thalib yang juga masih bibi beliau dari sisi nasab. Ia adalah Fatimah binti Asad radhiallahu ‘anha.
Fatimah binti Asad adalah seorang sahabat perempuan yang saat wafat dikafani dengan pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini secuplik tentang kisah kehidupannya, radhiallahu ‘anha.
Fatimah binti Asad radhiallahu ‘anha adalah seorang wanita dengan ketakwaan dan keimanan yang kuat. Ia memeluk Islam di Mekah setelah wafatnya suaminya, Abu Thalib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentangnya setelah ia wafat,
رحِمَكِ اللهُ يَا أُمِّي، كُنْتِ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي؛ تَجُوعِينَ وَتُشْبِعِينِي ،وَتَعْرَيْنَ وَتُكْسِينِي وَتَمْنَعِينَ نَفْسَكِ طَيِّبًا وَتُطْعِمِينِي تُرِيدِينَ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ وَالدَّارَ الآخِرَةَ
“Semoga Allah merahmatimu hai ibuku. Engkau adalah sosok seorang ibu setelah ibu kandungku. Engkau merasakan lapar untuk membuatku kenyang. Engkau tak berpakaian (baru) agar aku memiliki pakaian. Engkau tahan dirimu dari sesuatu yang baik untuk memberiku makanan. Semua itu kau lakukan berharap wajah Allah dan negeri akhirat.”
Kehidupannya
Nama dan nasabnya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf al-Qurasyiyyah al-Hasyimiyyah. Ia adalah ibu dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu. Ibu dari Fatimah adalah Hubba binti Haram bin Rawahah. Juga seorang wanita Quraisy.
Fatimah tumbuh besar di masa jahiliyah, di Kota Mekah Ia menikah dengan Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf. Dari keduanya lahirlah Ali bin Abu Thalib dan saudara-saudaranya. Yaitu: Thalib, Aqil, Ja’far, Jumanah, Ummu Hani’. Semuanya memeluk Islam.
Kedudukan lainnya yang dimiliki oleh Fatimah binti Asad adalah wanita Bani Hasyim pertama yang memiliki putra seorang khalifah. Kemudian disusul oleh Fatimah binti Rasulullah. Yang putranya, Hasan bin Ali, juga menjadi seorang khalifah. Lalu Zubaidah, istri Harun al-Rasyid, ibu dari khalifah Abbasiah, al-Amin. Merekalah wanita-wanita ahlul bait nabi yang melahirkan khalifah.
Memeluk Islam
Fatimah binti Asad memeluk Islam setelah wafatnya suaminya, Abu Thalib. Kemudian ia bersama anak-anaknya hijrah ke Madinah. Ia juga seorang periwayat hadits. Ada 40 hadits yang ia riwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ATidak hanya mengandalkan sisi kekerabatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fatimah juga berusaha menjadi pribadi yang baik. Ia adalah seorang wanita shalihah dan bagus agamanya. Di antara bentuk kedekatan Nabi dengannya adalah Nabi sering mengunjunginya dan tidur siang di rumahnya.
Wafatnya
Ada yang meriwayatkan bahwa Fatimah binti Asad radhiallahu ‘anha wafat sebelum hijrah. Pendapat ini tentu tidak benar. Yang benar adalah beliau wafat sekitar tahun kelima hijrah.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, tatkala Fatimah Ummu Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anha wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas bajunya dan memakaikannya pada bibinya itu. Nabilah yang membaringkan sang bibi di makamnya. Ketika kuburnya sudah ditimbun, orang-orang bertanya,
يا رسول الله، رأيناك صنعت شيئًا لم تصنعه بأحدٍ، فقال صلى الله عليه وسلم: «إِنِّي أَلْبَسْتُها قَمِيصِي لِتَلْبَسَ مِنْ ثِيَابِ الْجَنَّةِ، وَاضْطَجَعْتُ مَعَهَا فِي قَبْرِهَا لَيُخَفَّفَ عَنْهَا مِنْ ضَغْطَةِ الْقَبْرِ، إِنَّهَا كَانَتْ أَحْسَنَ خَلْقِ اللَّهِ إِلَيَّ صَنِيعًا بَعْدَ أَبِي طَالِبٍ».
“Hai Rasulullah, kami lihat Anda melakukan sesuatu yang tidak Anda lakukan kepada orang lain.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku pakaikan untuknya bajuku agar ia memakai pakaian dari surga. Aku masuk ke dalam pembaringannya di kuburnya agar ringan untuknya sempitnya kubur. Sesungguhnya dia adalah makhluk Allah yang paling berbuat baik kepadaku setelah Abu Thalib.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ath-Thabrani)
jDari Anas bin Malik radahillahu ‘anhu, ia berkata, “Tatkala Fatimah bin Asad bin Hasyim Ummu Ali radhiallahu ‘anhuma wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya. Beliau duduk di sisi kepalanya. Beliau bersabda,
رحِمَكِ اللهُ يا أمِّي كنْتِ أمِّي بعدَ أمِّي تجوعين وتُشْبِعيني وتَعْرَينَ وتُكْسيني وتَمْنعينَ نفسَكِ طيِّبًا وتُطْعِميني تُريدين بذلك وجهَ اللهِ والدَّارَ الآخرةَ»
“Semoga Allah merahmatimu hai ibuku. Engkau adalah sosok seorang ibu setelah ibu kandungku. Engkau merasakan lapar untuk membuatku kenyang. Engkau tak berpakaian (baru pen.) agar aku memiliki pakaian. Engkau tahan dirimu dari sesuatu yang baik untuk memberiku makanan. Semua itu kau lakukan berharap wajah Allah dan negeri akhirat.”
Kemudian beliau perintahkan agar dimandikan tiga kali. Tatkala telah tersedia air yang sudah dicampuri dengan kapur barus, Nabi tuangkan air tersebut dengan tangannya. Kemudian beliau buka bajunya dan dikafankan kepada bibinya. Setelah itu dilapiskan di atasnya kain burdah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin al-Khattab, dan seorang budak laki-laki yang hitam untuk menggalikan makamnya.
Saat kedalaman tanah telah mencapai batas tertentu, Rasulullah sendiri yang menggalikan untuknya. Setelah cukup, Nabi turun ke liang kuburnya dan meletakkan sang bibi di pembaringannya. Beliau berdoa:
اللهُ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ اغْفِرْ لِأُمِّي فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ وَلَقِّنْهَا حُجَّتَهَا وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مُدْخَلَهَا بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَالْأَنْبِيَاءِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِي فَإِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Ya Allah Yang Maha menghidupkan dan mematikan. Dialah Allah Yang Maha hidup tidak mengalami kematian. Ampunilah ibuku, Fatimah binti Asad. Bimbinglah dia dalam hujahnya (menjawab pertanyaan kubur pen.). Lapangkanlah untuknya liang kuburnya dengan hak nabimu dan para nabi sebelumku. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang.”
Beliau menshalatkan bibinya dengan empat kali takbir. Dan memasukkanya ke liang lahad bersama Abbas dan Abu Bakar ash-Shiddiq. (Diterjemahkan dari Islamstory.com)

WABAH DALAM SEJARAH PERADABAN ISLAM



Dalam sejarah panjang peradaban manusia, silih berganti musibah besar melanda. Wabah Thaun, bencana kelaparan, banjir, gempa bumi, kemarau panjang, dll. Tentu musibah-musibah ini membuat manusia menderita. Tidak terkecuali kaum muslimin. Hanya saja kita mengingat firman Allah,
إِن تَكُونُوا۟ تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Quran An-Nisa: 104].
Kita mendapat pahala dari derita yang kita dapatkan jika kita bersabar. Sementara orang-orang nonmuslim hanya mendapat derita saja. Mereka tak mendapatkan pahala.
Sekarang masyarakat dunia dilanda Wabah Corona. Wabah yang berasal dari Wuhan, Cina ini disebabkan oleh virus Covid 19. Terhitung setelah 100 hari kemunculannya, pada tanggal 8 April 20202, wabah ini telah menewaskan 88.338 warga dunia. Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Menerima taubat kita. Dan segera mengangkat musibah ini. Amin.
Dalam sejarah panjang umat Islam, wabah yang menewaskan manusia dalam skala besar pun pernah beberapa kali menimpa umat ini. Di Mesir, Syam, Maroko, Irak, Andalusia. Wabah-wabah ini menghilangkan ribuan nyawa penduduk kota-kota besar tersebut.
Para sejarawan semisal al-Maqrizi, Abu al-Mahasin Yusuf Ibnu Taghribirdi, Ibnu Katsir, Ibnu Iyas, Ibnu Batutah, Ibnu Idzari al-Marakisyi, dll. mencatat bagaimana musibah ini menimpa kaum muslimin. Catatan-catatan mereka saling melengkapi sehingga gambaran kejadian terasa semakin detil. Tidak ketinggalan, para ahli fikih semisal Ibnu Rusyd juga membahas peristiwa ini dari sudut pandang fikih.
Sebagaimana yang kita rasakan pada hari ini, wabah di masa itu juga berdampak buruk pada kehidupan ekonomi, sosial, politik, dan bidang-bidang lainnya.
Pengertian Thaun
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan pengertian thaun, “Thaun adalah sakit yang mengganggu pernafasan, melemahkan badan, dan jantung. Sebuah virus mematikan yang terletak di rongga mulut. Kemudian menyebabkan rusaknya pembuluh darah.” Orang-orang yang terjangkiti virus Thaun ini akan menderita benjolan-benjolan di badannya. Dan ini sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الطَاعُوْنَ غُدَّةٌ كَغُدَّةِ الإِبِلِ
“Thaun itu berupa daging tumbuh bagaikan daging tumbuh yang menimpa onta.” (Riwayat At Thobrani dan dihasankan oleh Al Albani)
Sebagian ulama membedakan antara thaun dan wabah. Menurut mereka, thaun merupakan bagian dari wabah. Sebagian lainnya menyamakan antara thaun dan wabah. Jadi, menurut mereka setiap wabah adalah thaun.
Wabah sendiri berarti penyakit tertentu yang menyebar ke wilayah yang luas bahkan menyebar dunia (pandemi). Atau bisa juga diartikan dengan epidemi yaitu penyakit yang menyebar luas di satu Kawasan.

Wabah-wabah Dalam Sejarah Islam
Pertama: Thaun Amwas
Wabah yang paling terkenal dalam sejarah Islam adalah wabah Thaun Amwas. Wabah besar yang terjadi di masa pemerintah Umar bin al-Khattab. Tepatnya tahun 18 H atau 640 M, terjadi wabah di Syam yang menewaskan puluhan ribu orang. Wabah tersebut dikenal dengan nama Wabah Thaun Amwas.
Mengapa dinamakan Thaun Amwas? Amwas adalah satu wilayah kecil di Palestina. Antara Ramallah dan Al-Quds. Di wilayah inilah wabah Thaun tersebut pertama kali muncul. Kemudian menyebar dan melanda banyak wilayah. Serta merenggut banyak nyawa.
Wilayah Amwas di masa sekarang dihancurkan oleh Zionis pada tahun 1967 sehingga penduduknya pun mengungsi. Kemudian tempat tersebut dijadikan hutan dengan modal dari para Zionis Kanada. Sekarang dinamai Canada Park.
Wabah Thaun di masa itu menyebabkan kematian sekitar 25000 jiwa. Di antara mereka yang wafat adalah tokoh para sahabat Nabi. Seperti:
1. Abu Ubaidah bin al-Jarrah,
2. al-Fadhl bin Abbas bin Abdul Muthalib,
3. Muadz bin Jabal,
4. Abdurrahman bin Muadz bin Jabal,
5. Syurahbil bin Hasanah,
6. Amr bin Suhail al-Amiri,
7. Abu Jandal bin Amr bin Suhail,
8. al-Harits bin Hisyam al-Makhzumi,
9. ‘Inabah bin ‘Amru bin Suhail
10. Amir bin Ghailan Ats-Tsaqafi
11. Ammar bin Ghailan Ats-Tsaqafi
12. Nashr bin Ghanim Al-‘Adawi
13. Hudzafah bin Nashr Al-‘Adawi
14. Salamah bin Nashr Al-‘Adawi
15. Shakhr bin Nashr Al-‘Adawi
16. Shukhair bin Nashr Al-‘Adawi
17. Hamthath bin Syuraiq Al-‘Adawi
18. Wail bin Riab Al-‘Adawi
19. Ma’mar bin Riab
20. Habiib bin Riab
Dan tahun terjadinya wabah Thaun Amwas ini juga dikenal dengan ‘Am Ramadah (tahun abu). Dinamakan tahun abu karena kemarau yang panjang menyebabkan tanah menjadi gosong dan debunya seperti abu. Keadaan ini semakin membuat tahun tersebut berat. Dan masyarakat menderita kerugian materi yang amat besar.
Kedua: Thaun al-Jarif
Thaun al-Jarif terjadi di Bashrah pada tahun 69 H, pada masa pemerintahan Abdullah bin az-Zubair radhiallahu ‘anhu. Dinamakan al-Jarif (Arab: الجَارِفُ) dari kata jarafa (Arab: جَرَفَ) yang artinya menyapu bersih. Karena begitu banyak orang yang wafat karena wabah ini, maka dia disebut thaun al-jarif. Walaupun wabah ini berlangsung singkat, hanya tiga hari, namun mereka yang meninggal karena wabah ini digambarkan bagaikan sungai yang mengalir.
Ketiga: Thaun al-Fatayat
Pada tahun 87 H terjadi wabah di Irak dan Syam. Wabah ini dinamakan wabah al-Fatayat yang berarti perempuan. Dinamakan demikian karena wabah ini awalnya menyerang para wanita. Kemudian baru laki-laki. Ada juga yang menamakannya wabah asyraf (orang-orang mulia). Karena wabah ini banyak menewaskan orang-orang mulia dan para tokoh.
Keempat: Thaun Muslim bin Qutaibah
Wabah ini dinamakan Muslim bin Qutaibah, karena dia adalah orang pertama yang wafat karena wabah ini. Wabah ini adalah virus yang menyebar pada masyarakat di Era Bani Umayyah pada tahun 131 H/748 M. Wabah ini melanda Kota Basrah selama tiga bulan. Dimulai dari bulan Rajab dan memuncak di bulan Ramadhan. Sampai-sampai dalam satu hari seribu lebih orang meninggal karenanya 
Abu al-Mahasin Yusuf Ibnu Taghribirdi mengatakan, “Pada tahun 131 H, terjadi wabah Thaun yang dahsyat. Membinasakan sejumlah besar makhluk. Sampai-sampai satu hari 7000 orang meninggal karenanya. Wabah ini dinamakan dengan Thaun Aslam bin Qutaibah (Ibnu Taghribirdi: an-Nujum az-Zahirah fi Muluk Mishr wa al-Qahirah, 1/369).
Sebenarnya banyak wabah yang menimpa kaum muslimin di masa Bani Umayyah. Dan wabah ini adalah wabah terakhir yang terjadi di masa itu. Wilayah yang sering terkena wabah adalah Syam. Wilayah dimana ibu kota Bani Umayyah berada, Damaskus. Karena wabah ini sebagian khalifah umayyah sampai mengasingkan diri di padang pasir. Adapun Khalifah Hisyam bin Abdul Malik menyiapkan sebuah tempat khusus di Irak 
Sejarawan juga mencatat, di antara faktor yang membantu berhasilnya revolusi Abbasiyah terhadap Bani Umayyah adalah wabah Muslim bin Qutaibah ini. Wabah ini mengakibatkan begitu besar kerugian materi yang diderita Bani Umayyah. Dan tentunya mereka juga kehilangan banyak orang-orang penting mereka 
Di masa Abbasiyah, Thaun ini mulai mereda. Lalu sebagian pembesar Abbasiyah berkhutbah di tengah masyarakat, “Pujilah Allah yang telah mengangkat wabah ini dari kalian sejak pemerintahan kami.” Lalu ada yang mengatakan, “Allah lebih adil dari pada menguasakan kalian dan menimpakan wabah ini.” 
Kelima: wabah-wabah di masa pemerintahan Abbasiyah, Dinasti Mamluk, dan Dinasti Ayyubiyah di belahan timur wilayah Islam.
Ibnu Katsir rahimahullah menceritakan bahwa pada saat Mongol menghancurkan Kota Baghdad pada tahun 656 H/1258 M, “Masjid-masjid kosong dari shalat Jumat dan jamaah selama beberapa bulan di Baghdad… …setelah kekacauan berlalu yaitu empat puluh hari berikutnya, Baghdad tetap kosong dari kepemimpinan. Kota itu hanya dihuni oleh orang-orang bodoh saja. sementara mayat-mayat yang bergelimpangan di jalan bagaikan gundukan. Jasad-jasad mereka terkena hujan hingga merubah fisik mereka. Dan bau anyir bangkai manusia semerbak di penjuru kota. Udara pun berubah dan membawa penyakit. Hingga berhembus ke negeri Syam. Lalu wabah itu menyebabkan banyak orang mati karena cuaca dan udara yang rusak. Bertumpuklah musibah, wabah, dan thaun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun (Ibnu Katsir: al-Bidayayah wa an-Nihayah, 13/203).
Sementara wabah di masa Dinasti Mamluk yaitu sebuah wabah yang merata di sebagian besar daerah Syam. Peristiwa ini terjadi pada tahun 748 H. Wabah ini dikenal dengan nama Thaun al-A’zham (besar). Dinamakan demikian karena penyebarannya yang dahsyat dan membinasakan. Wabah ini mengakibatkan wafatnya penghuni kota Aleppo, Damasku, al-Quds, dan daerah-daerah pinggiran Syam. Dan pada tahun 795 H, di Aleppo juga tersebar wabah yang disebut al-Fana al-Azhim. Wabah ini mengakibatkan 150.000 orang wafat di Aleppo
Wabah lainnya terjadi di Maroko dan Andalusia tahun 571 H, pada masa pemerintah Daulah Muwahhidun. Wabah ini sangat mengerikan. Seolah tak membiarkan seorang pun selamat. Empat orang pucuk pimpinan Muwahhidun yang merupakan saudara Khalifah Yusuf bin Ya’qub wafat karenanya. 100 sampai 190 orang wafat dalam satu hari 
Pada tahun 1798 M, Maroko juga dilanda wabah. Wabah ini dibawa oleh pedagang yang datang dari Iskandariyah menuju Tunisia. Kemudian Aljazair. Lalu Maroko. Kota Fes, Menkes, hingga Rabath terpapar wabah ini. Setidaknya 130 orang wafat per harinya 
(Muhammad al-Amin al-Bazaz: Tarikh al-Awbi-ah wa al-Maja’at bil Maghrib fi al-Qarnain ats-Tsamin ‘Asyr wa at-Tasi’ ‘Asyr, 1992. Hal: 92).(Kisahmuslim.com)
--------------****---------------****-------------
Setelah kita mengetahui bahwa wabah corona ini bukanlah wabah pertama yang menimpa dunia secara umum. Dan dunia Islam secara khusus. Bahkan dalam perjalanan sejarah umat Islam yang telah kita baca di artikel sebelumnya, wabahnya beragam. Ada yang disebabkan bangkai manusia akibat genosida Mongol, kelaparan, kekeringan, dll. Lalu bagaimana pengaruh wabah tersebut terhadap kehidupan kaum muslimin di zaman itu dan bagaimana cara mereka menyikapi wabah-wabah tersebut?
Dampak Wabah Terhadap Kondisi Sosial Masyarakat, Politik, dan Psikologis
Ketika thaun dan wabah melanda suatu negeri, dapat dipastikan dampak buruk yang besar akan dihadapi negeri tersebut. Ini adalah musibah dari Allah yang Dia timpakan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan akan Dia angkat juga dengan kehendak-Nya.
وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Quran Yunus: 107].
Di antara wabah yang berdampak besar pada kaum muslimin adalah wabah Thaun Amwas. Sekitar 25000 nyawa kaum muslimin hilang. Di antara mereka adalah tokoh-tokoh terbaiknya. Wabah ini menimbulkan kerugian dari sisi politik, ekonomi, dan militer. Seandainya saat itu Romawi melakukan penyerangan terhadap garis depan kaum muslimin, tentu saja kaum muslimin akan sangat kesulitan menghadapi mereka. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap menjaga kaum muslmin dengan memberikan rasa takut di hati mereka. Ya, mereka pun takut tertular wabah tersebut
Dampak sosial kemasyarakatan begitu terasa ketika wabah melanda wilayah-wilayah Daulah Mamluk. Kondisi demografi berubah drastis. Jumlah kepadatan penduduk di kota dan di desa sangat jomplang. Sebagian desa bahkan kosong sama sekali karena kehilangan penduduknya. Akibatnya, jumlah petani sangat sedikit. Hasil pertanian dan peternakan pun merosot drastis. Lalu dampak buruk itu menular pada sisi perekonomian.
Kekacauan pun kian menjadi. Yang memiliki komoditi yang dibutuhkan menaikkan harga. Mereka memonopoli perdagangan dan mencari kesempatan untuk memperkaya diri. Adapun orang-orang yang tidak mampu meresponnya dengan negatif pula. Mereka melakukan pencurian dan perampokan. Semakin rusaklah tatanan masyarakat.
Dalam kondisi kacau tersebut, negara pun telah kehilangan para ulama dan orang-orang shalih yang memberi nasihat. Mereka wafat karena wabah. Suara mereka yang dianggap masyarakat tak lagi terdengar. Masyarakat awam pun beralih ke para dukun dan peramal untuk mengisi kekosongan spiritual mereka 
Bagaimana Mereka Menyikapi Wabah
Dalam menghadapi Thaun Amwas, langkah yang diambil kaum muslimin sesuai dengan arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi wabah. Yaitu mengadakan isolasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذا سَمِعْـتُم به بأَرْضٍ فلا تَـقْدَمُوا عليه، وإذا وَقَعَ بأَرضٍ وأنتُم بها، فلا تَخْرُجوا فِـرارًا منه
“Apabila kalian mendengar wabah ada di suatu negeri, janganlah kalian mendatanginya. Dan apabila wabah tersebut berada di suatu negeri sementara kalian berada di dalamnya, janganlah kalian keluar untuk melarikan diri darinya.” [HR Bukhari]
Rasulullah tidak hanya mencukupkan jangan memasuki daerah yang terkena wabah. Tapi beliau juga menyatakan agar orang yang daerahnya terkena wabah untuk tidak keluar dari daerah tersebut. Inilah yang dikenal dengan isolasi. Kalau kita renungkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup 15 abad yang lalu sudah mengenal teknik ini. Padahal belum pernah ada yang melakukan sebelumnya. Ilmu kedokteran pun belum sepesat sekarang kemajuannya. Tapi beliau telah mengenal teknik ini untuk pencegahan penyebaran wabah. Hal ini tidak lain datang dari wahyu. Dan ini secara logika saja, sudah membuktikan kalau Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang nabi.
Dan Umar mengamalkan apa yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Ubaidah bin al-Jarah dan sahabat-sahabat lainnya yang tinggal di Syam, mereka tetap berdiam di sana.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa wabah tersebut hilang saat Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu diangkat sebagai gubernur Syam. Ia berkhotbah di hadapan masyarakat, “Sekalian masyarakat, sesungguhnya penyakit ini kalau terjadi, ia akan menyala bagai nyala api. Karena itu, pergilah kalian menuju gunung-gunung.” Amr pun keluar dan diikuti oleh masyarakat. Mereka menyebar di pegunungan. Sampai akhirnya Allah angkat wabah tersebut dari mereka. Apa yang dilakukan Amr pun sampai kepada Umar, Umar tak menyalahkan kebijakannya tersebut.
Ini juga yang dikenal sekarang dengan istilah social distancing. Itu pun sudah pernah dilakukan oleh kaum muslimin. Kebijakan ini ditempuh oleh Amr sehingga orang yang sakit bisa terpisah dari mereka yang sehat. Mereka tidak berkumpul untuk mengurangi penularan. Dan tidak membinasakan semua penduduk Syam
Di masa berikutnya, metode yang dilakukan kaum muslimin dalam menghadapi wabah terus berkembang. Di masa Mamluk, selain menggunakan teknik isolasi, para pembesar kerajaan juga menyiapkan badan khusus untuk mengurusi jenazah yang terjangkiti wabah. Karena sebagian orang takut tertular ketika bersentuhan dengan korban. Ditambah korban yang jatuh sangat banyak jumlahnya dan dalam waktu yang bersamaan. Terkadang sampai tiga hari, jenazah belum juga diurus. Sehingga dibutuhkan pelatihan khusus dan Lembaga khusus untuk mengurusi prosesi jenazah agar kehormatan mereka tetap terjaga 
Salah satu catatan sejarah yang menarik dalam penanggulan wabah di masa Islam adalah selain membuat kebijakan dan usaha riil, masyarakat terus diingatkan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, berdoa dan berharap hanya kepada-Nya di waktu tersebut, mengajak masyarakat untuk bertaubah dan beristighfar kepada Allah dan terus meningkatkan ibadah. Aksi nyata yang dilakukan sebagian masyarakat adalah menutup tempat-tempat khomr diperjual-belikan. Dan menjauhi perbuatan keji dan mungkar.
Pelajaran
Pertama: Banyak menentang isolasi dan social distancing atau peraturan tetap di rumah. Dengan alasan sakit dan kematian itu di tangan Allah. Kalau mau sakit atau mati, ya tetap akan sakit dan mati walaupun di rumah. Orang-orang seperti ini diingatkan dengan firman Allah:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [Quran Al-Baqarah: 195].
Kita mengamalkan ayat ini disertai sikap ridha dan pasrah terhadap takdir Allah, yang baik maupun yang buruk.
Kedua: Wajib melakukan usaha pencegahan. Dengan keyakinan kita lari dari takdir Allah menuju takdir yang lainnya.
Ketiga: Kita meyakini bahwa dalam musibah wabah ini terdapat pahala jika kita bersabar. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الطَّاعُوْنُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
“Tha’un adalah syahadah bagi setiap muslim.” [HR. al-Bukhari dan Muslim].
Dan kita pun berhadap bagi mereka yang wafat karena virus covid-19 ini, terutama dari kalangan medis dan pihak-pihak yang berjasa, diganjar sebagai syuhada.
Keempat: wajib menjauhi tempat-tempat yang terdapat wabah. Apalagi tempat tersebut sudah divonis sebagai zona merah. Bagi mereka yang tempatnya terdampak wabah, maka tidak diperbolehkan keluar dari sana.
Kelima: Mempercayakan informasi terkait wabah ini kepada pihak-pihak yang berwenang. Baik dari pemerintah ataupun tim medis. Jangan mudah menyebarkan informasi yang tidak diketahui asal-usulnya.
(Kisahmuslim.com)

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...