Senin, 22 Juni 2020

KISAH WAFATNYA NABI ADAM Alaihissalam



NABI Adam alaihissallam dianugerahi karunia bisa merasakan detik-detik akhir masa hidupnya. Sehingga ketika ajal itu hendak datang, Nabi Adam tampak seperti telah mempersiapkan semuanya.

Beliau memulainya dengan mengajukan permintaan terakhir kepada putra-putranya, yakni ingin memakan buah surga.Permintaan ini sulit bila harus dimaknai secara harfiah, karena di alam dunia yang serbafana ini buah surga mustahil ditemukan. Surga hanya ada di alam akhirat.

Sebab itulah, ada ulama yang menafsirkan bahwa permintaan akan buah surga merupakan isyarat bahwa Nabi Adam tengah dilanda rindu akan kebahagiaan surgawi yang pernah beliau tinggali sebelum turun ke bumi. Inilah sinyal bahwa kawafatan beliau semakin dekat.

Meski demikian, sebagai anak berbakti, para putra Nabi Adam tetap berangkat mencarikan buah surga. Namun, tak jauh usai meninggalkan sang ayah, perjalanan mereka diadang oleh sejumlah lelaki.

"Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?"

Mereka menjawab, "Bapak kami sakit, beliau ingin makan buah dari Surga","Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba," pinta para lelaki itu yang ternyata adalah para malaikat yang menjelma wujud manusia.

Di tangan mereka sudah tersedia kafan, wewangian, serta sejumlah perangkat yang lazim diperlukan untuk menggali kubur.

Saat para malaikat itu datang, Sayyidah Hawa melihat dan mengenali mereka, maka ia pun berlindung kepada Nabi Adam.

"Menjauhlah dariku istriku. Aku pernah melakukan kesalahan bersamamu. Biarkan saat ini aku dengan malaikat Tuhanku" kata Nabi Adam kepada Hawa.

Para malaikat kemudian mencabut nyawa Nabi Adam, lantas mereka memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan liang lahad, juga menshalatinya.

Selanjutnya mereka turun ke kuburnya, memasukkan jenazah Nabi Adam ke dalam, lalu mereka meletakkan semacam bata di atasnya. Usai naik ke atas kubur, mereka pun menimbunnya. Mereka berseru, "Wahai anak cucu Adam, ini adalah sunnah kalian."

Rupanya apa yang dilakukan oleh para malaikat kepada Nabi Adam memberikan pelajaran berharga bagi generasi berikutnya tentang bagaimana semestinya memperlakukan orang yang meninggal. Manusia tak hanya dihormati ketika masih hidup tapi juga saat mereka mati.

Standar penghormatan pun tak berlebihan. Tak ada prosesi menempeli jenazah dengan perhiasan, atau semacamnya. Namun, semua pelajaran tersebut cukup menggambarkan bahwa manusia itu pada dasarnya mulia, namun kehidupan duniawinya pasti berujung fana. Dari tanah kembali ke tanah.

Kisah ini bisa kita jumpai salah satunya dari uraian Syekh Umar Sulaiman Abdullah al-Asyqar dalam kitab Shahihul Qishash an-Nabawi. (PP.NHA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...