Minggu, 21 Juni 2020

DIA BAGAIKAN IBU SENDIRI BAGI ROSULULLAH



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggal wafat oleh ibunya saat beliau berusia kurang lebih enam tahun. Di usia kanak-kanak itu, ia diasuh oleh kakek kemudian pamannya. Saat bersama pamannya, Abu Thalib, inilah beliau mendapatkan seseorang yang tampil sebagai seorang pengganti ayahnya dan pengganti ibunya. Pengganti ayahnya adalah sang paman yang begitu menyayangi beliau. Dan pengganti ibunya adalah istri dari Abu Thalib yang juga masih bibi beliau dari sisi nasab. Ia adalah Fatimah binti Asad radhiallahu ‘anha.
Fatimah binti Asad adalah seorang sahabat perempuan yang saat wafat dikafani dengan pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini secuplik tentang kisah kehidupannya, radhiallahu ‘anha.
Fatimah binti Asad radhiallahu ‘anha adalah seorang wanita dengan ketakwaan dan keimanan yang kuat. Ia memeluk Islam di Mekah setelah wafatnya suaminya, Abu Thalib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentangnya setelah ia wafat,
رحِمَكِ اللهُ يَا أُمِّي، كُنْتِ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي؛ تَجُوعِينَ وَتُشْبِعِينِي ،وَتَعْرَيْنَ وَتُكْسِينِي وَتَمْنَعِينَ نَفْسَكِ طَيِّبًا وَتُطْعِمِينِي تُرِيدِينَ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ وَالدَّارَ الآخِرَةَ
“Semoga Allah merahmatimu hai ibuku. Engkau adalah sosok seorang ibu setelah ibu kandungku. Engkau merasakan lapar untuk membuatku kenyang. Engkau tak berpakaian (baru) agar aku memiliki pakaian. Engkau tahan dirimu dari sesuatu yang baik untuk memberiku makanan. Semua itu kau lakukan berharap wajah Allah dan negeri akhirat.”
Kehidupannya
Nama dan nasabnya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf al-Qurasyiyyah al-Hasyimiyyah. Ia adalah ibu dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu. Ibu dari Fatimah adalah Hubba binti Haram bin Rawahah. Juga seorang wanita Quraisy.
Fatimah tumbuh besar di masa jahiliyah, di Kota Mekah Ia menikah dengan Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf. Dari keduanya lahirlah Ali bin Abu Thalib dan saudara-saudaranya. Yaitu: Thalib, Aqil, Ja’far, Jumanah, Ummu Hani’. Semuanya memeluk Islam.
Kedudukan lainnya yang dimiliki oleh Fatimah binti Asad adalah wanita Bani Hasyim pertama yang memiliki putra seorang khalifah. Kemudian disusul oleh Fatimah binti Rasulullah. Yang putranya, Hasan bin Ali, juga menjadi seorang khalifah. Lalu Zubaidah, istri Harun al-Rasyid, ibu dari khalifah Abbasiah, al-Amin. Merekalah wanita-wanita ahlul bait nabi yang melahirkan khalifah.
Memeluk Islam
Fatimah binti Asad memeluk Islam setelah wafatnya suaminya, Abu Thalib. Kemudian ia bersama anak-anaknya hijrah ke Madinah. Ia juga seorang periwayat hadits. Ada 40 hadits yang ia riwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ATidak hanya mengandalkan sisi kekerabatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fatimah juga berusaha menjadi pribadi yang baik. Ia adalah seorang wanita shalihah dan bagus agamanya. Di antara bentuk kedekatan Nabi dengannya adalah Nabi sering mengunjunginya dan tidur siang di rumahnya.
Wafatnya
Ada yang meriwayatkan bahwa Fatimah binti Asad radhiallahu ‘anha wafat sebelum hijrah. Pendapat ini tentu tidak benar. Yang benar adalah beliau wafat sekitar tahun kelima hijrah.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, tatkala Fatimah Ummu Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anha wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas bajunya dan memakaikannya pada bibinya itu. Nabilah yang membaringkan sang bibi di makamnya. Ketika kuburnya sudah ditimbun, orang-orang bertanya,
يا رسول الله، رأيناك صنعت شيئًا لم تصنعه بأحدٍ، فقال صلى الله عليه وسلم: «إِنِّي أَلْبَسْتُها قَمِيصِي لِتَلْبَسَ مِنْ ثِيَابِ الْجَنَّةِ، وَاضْطَجَعْتُ مَعَهَا فِي قَبْرِهَا لَيُخَفَّفَ عَنْهَا مِنْ ضَغْطَةِ الْقَبْرِ، إِنَّهَا كَانَتْ أَحْسَنَ خَلْقِ اللَّهِ إِلَيَّ صَنِيعًا بَعْدَ أَبِي طَالِبٍ».
“Hai Rasulullah, kami lihat Anda melakukan sesuatu yang tidak Anda lakukan kepada orang lain.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku pakaikan untuknya bajuku agar ia memakai pakaian dari surga. Aku masuk ke dalam pembaringannya di kuburnya agar ringan untuknya sempitnya kubur. Sesungguhnya dia adalah makhluk Allah yang paling berbuat baik kepadaku setelah Abu Thalib.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ath-Thabrani)
jDari Anas bin Malik radahillahu ‘anhu, ia berkata, “Tatkala Fatimah bin Asad bin Hasyim Ummu Ali radhiallahu ‘anhuma wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya. Beliau duduk di sisi kepalanya. Beliau bersabda,
رحِمَكِ اللهُ يا أمِّي كنْتِ أمِّي بعدَ أمِّي تجوعين وتُشْبِعيني وتَعْرَينَ وتُكْسيني وتَمْنعينَ نفسَكِ طيِّبًا وتُطْعِميني تُريدين بذلك وجهَ اللهِ والدَّارَ الآخرةَ»
“Semoga Allah merahmatimu hai ibuku. Engkau adalah sosok seorang ibu setelah ibu kandungku. Engkau merasakan lapar untuk membuatku kenyang. Engkau tak berpakaian (baru pen.) agar aku memiliki pakaian. Engkau tahan dirimu dari sesuatu yang baik untuk memberiku makanan. Semua itu kau lakukan berharap wajah Allah dan negeri akhirat.”
Kemudian beliau perintahkan agar dimandikan tiga kali. Tatkala telah tersedia air yang sudah dicampuri dengan kapur barus, Nabi tuangkan air tersebut dengan tangannya. Kemudian beliau buka bajunya dan dikafankan kepada bibinya. Setelah itu dilapiskan di atasnya kain burdah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin al-Khattab, dan seorang budak laki-laki yang hitam untuk menggalikan makamnya.
Saat kedalaman tanah telah mencapai batas tertentu, Rasulullah sendiri yang menggalikan untuknya. Setelah cukup, Nabi turun ke liang kuburnya dan meletakkan sang bibi di pembaringannya. Beliau berdoa:
اللهُ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ اغْفِرْ لِأُمِّي فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ وَلَقِّنْهَا حُجَّتَهَا وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مُدْخَلَهَا بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَالْأَنْبِيَاءِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِي فَإِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Ya Allah Yang Maha menghidupkan dan mematikan. Dialah Allah Yang Maha hidup tidak mengalami kematian. Ampunilah ibuku, Fatimah binti Asad. Bimbinglah dia dalam hujahnya (menjawab pertanyaan kubur pen.). Lapangkanlah untuknya liang kuburnya dengan hak nabimu dan para nabi sebelumku. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang.”
Beliau menshalatkan bibinya dengan empat kali takbir. Dan memasukkanya ke liang lahad bersama Abbas dan Abu Bakar ash-Shiddiq. (Diterjemahkan dari Islamstory.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...