Kamis, 10 Februari 2022

Apa Sebab Rasulullah menunjuk ia sebagai "AHLI SURGA"?

Suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul bersama dengan para sahabatnya. Ditengah pembicaraan tiba-tiba Rasulullah berkata, "Sebentar lagi akan lewat dihadapan kalian seorang ahli surga", tidak lama setelah itu, lewatlah seorang pria dari kalangan Anshar (penduduk Madinah yang dulu turut menerima kedatangan hijrah kaum muslim Makkah). Para sahabat menyaksikannya dengan takjub meskipun orang yang lewat itu tak menyadarinya, sebagian sahabat yang lain menerka-menerka apakah benar orang ini yang dimaksud Rasulullah. 

Keesokan harinya, saat Rasululah SAW kembali sedang berkumpul dengan para sahabat, beliau kembali berkata seperti sehari sebelumnya. Beliau menunjuk pria yang sama yang tengah lewat dan menyebutnya sebagai seorang ahli surga. Demikian pula pada hari berikutnya ketika orang tersebut kembali lewat. 

Perkataan Rasulullah SAW yang berturut-turut itu membuat penasaran salah seorang sahabat, yaitu Abdullah bin Amru. Ia ingin mengetahui lebih jauh, amalan apa yang membuat orang dari Anshar itu disebut menjadi ahli surga.

Akhirnya, ia membuntuti perjalanan orang itu sampai ke rumahnya. Agar bisa mengamati lebih dekat lagi, Ibnu Amru membuat alasan agar dirinya dapat tinggal beberapa hari di rumah orang itu.

Abdullah bin Amru pun berkata kepadanya, "Wahai saudaraku, ketahuilah, antara aku dan ayahku terjadi perselisihan dan aku berniat tidak akan masuk rumahnya selama tiga hari. Bolehkah sementara beberapa hari ini aku tinggal di rumahmu?"

Orang itu pun menjawab, "Tentu saja, dengan senang hati."

Selama tiga hari berturut-turut Ibnu Amru tinggal di rumah orang itu. Namun selama itu ia sama sekali tidak melihat orang itu melaksanakan amalan-amalan khusus atau sesuatu yang istimewa.

Amalan dan aktifitasnya sehari-hari seperti umumnya kebanyakan orang. 

Setelah beberapa hari berlalu, Abdullah bin Amru semakin heran karena tidak menemukan keistimewaan apapun dari orang itu. Tibalah saatnya Abdullah bin Amru pamit, saat hendak permisi ia berterus terang perihal alasan ia ingin menginap dirumah orang itu, "Wahai hamba Allah, ketahuilah, sebenarnya aku tidak sedang berselisih dengan ayahku, Aku sebetulnya hanya ingin tinggal di rumahmu karena aku mendengar Nabi SAW pernah berkata selama beberapa hari berturut-turut, akan muncul seorang ahli surga."

Orang itu dengan seksama mendengarkan.

Ibnu Amru melanjutkan penjelasannya, "Dan selama itu pula yang selalu muncul di hadapan kami adalah dirimu. Karena itu, aku ingin mengetahui lebih dekat, ingin menyaksikan amalan istimewa apa yang engkau lakukan sehingga Rasulluah SAW mengatakan demikian. Namun, terus terang, selama beberapa hari di sini aku tidak pernah melihat engkau melakukan amalan khusus atau yang istimewa,

sebenarnya apa rahasiamu yang membuat Rasulullah mengatakan bahwa kau adalah ahli surga?" tanya Ibnu Amru.

Orang itu berkata, ''Wahai saudaraku, apa yang kau lihat selama tinggal bersamaku benar adanya, amalanku adalah seperti yang kamu saksikan, dan seperti umumnya orang-orang."

Karena merasa yakin orang itu telah jujur mengatakan apa adanya, Abdullah bin Amru pun pamit dengan membawa rasa penasaran yang belum terjawab. Namun, sebelum ia jauh meniggalkan rumah orang itu, orang itu berlari memanggil lagi Abdullah bin Amru. 

"Wahai saudaraku, ketahuilah, amalanku adalah seperti yang kamu lihat. Namun, Alhamdulillah, dalam hidupku aku tidak pernah merasa iri atau dengki kepada siapapun atas kebaikan atau kenikmatan yang didapatkannya dari Allah SWT, begitupun saat musibah datang kepadaku, aku tidak pernah mengeluh, karena aku sadar semua itu atas kehendak Allah semata"

Mendengar itu, Abdullah bin Amru berbinar, dan berkata, ''Inilah, inilah amalan yang engkau lakukan, sementara orang lain belum dapat melakukan". 

Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa Ridho Allah akan bersama orang-orang yang dalam hidupnya melepas diri dari hasud, dengki, dan sejenisnya, dan sepenuhnya sadar bahwa semua yang dialami adalah Qudroh-Irodah Allah semata, Allah-lah yang memiliki kehendak dan kuasa atas segala sesuatu,  Khairihi wa Syarrihi minAllah, semoga Allah SWT mengaruniai kita Taufiq dan Inayah, sehingga dijadikan kita orang-orang yang memiliki Qolbun Salim. Amiin. (Khotib PP.NHA)

(Kisah dinukil dari kitab Az-Zuhdu, Karya Syaikh Ibnul Mubarok)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...