Rabu, 21 Agustus 2024

Kisah MENEBUS SURGA DENGAN MEMAAFKAN


Dinukil dari Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghozali.

Suatu hari para sahabat sedang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW. Tiba-tiba saja mereka melihat Nabi SAW tampak bersedih dan mata beliau berkaca-kaca seolah akan menangis. Tetapi tidak berapa lama kemudian, tampak wajah beliau menjadi berbinar-binar gembira, bahkan beliau tertawa sehingga kelihatan dua gigi seri beliau.

Para sahabat penasaran, tetapi mereka malu untuk bertanya, sampai akhirnya Umar Bin Khottob memberanikan diri bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau tampak menangis, kemudian tertawa??” 

Nabi SAW tersenyum melihat wajah-wajah para sahabat yang tampak keheranan sekaligus penasaran. Kemudian beliau berkata, “Sungguh ditampakkan kepadaku suatu pemandangan di saat ditegakkan pengadilan Allah (yaumul hisab, hari perhitungan)”

Kemudian beliau menceritakan, bahwa ada dua orang dari umat beliau yang tengah dihisab. Salah satunya mengadukan temannya, ia berkata, “Wahai Allah, ambilkanlah untukku pahala orang ini, untuk mengganti kedzaliman yang pernah dilakukannya padaku!”

Maka Allah berfirman kepada orang yang mendzalimi tersebut, “Berikanlah kepada saudaramu untuk menebus kedzaliman yang telah kamu lakukan saat di dunia!'”

“Wahai Rabbii, bagaimana aku bisa melakukannya sedangkan aku sudah tidak lagi memiliki kebaikan sedikitpun!!” Kata Lelaki yang dzalim itu. 

Allah berfirman kepada lelaki pertama yang menuntut tersebut, “Bagaimana engkau meminta darinya, sedangkan ia tidak memiliki lagi kebaikan sedikitpun?”

“ambilkan keburukan-keburukanku, ya Allah, dan pikulkanlah kepada dirinya!”

Ketika melihat pemandangan itulah Nabi SAW merasa bersedih dan hampir menangis melihat keadaan umatnya yang memilukan tersebut. Reaksi beliau yang seperti itu dilihat oleh para sahabat tanpa tahu penyebabnya. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Itu adalah hari yang agung, di mana pada hari itu setiap orang membutuhkan adanya orang lain yang dapat memikul kesalahan-kesalahannya..”

Tak lama kemudian Nabi SAW meneruskan cerita beliau, bahwa dalam keadaan seperti itu, Allah SWT berfirman kepada lelaki yang mengajukan tuntutan, “Angkatlah kepalamu, dan lihatlah!!”

Lelaki tersebut mengangkat kepalanya dan ia melihat pemandangan yang menakjubkan, lalu Ia berkata, “Ya Rabbi, saya melihat kota-kota yang bangunannya bertatahkan perak dan emas. Untuk nabi yang manakah ini? Untuk orang syahid yang manakah ini??”

Allah berfirman, “Itu semua untuk orang yang mampu membayar harganya!!”

“Siapakah yang mampu membayarnya, ya Allah!?” Tanya lelaki itu.

“Engkau mampu membayarnya”

“Dengan apa saya harus membayarnya, ya Allah!?”

“Dengan memberi maaf kepada saudaramu” 

Segera saja lelaki penuntut tersebut berkata, “Ya Allah, saya telah memaafkan dirinya!!”

Dalam riwayat lain disebutkan, setelah lelaki itu memaafkan temannya, Allah berfirman kepadanya, “Gandenglah tangan saudaramu itu, dan ajaklah ia masuk ke surga yang telah menjadi milikmu tersebut (tiada kerugian bagimu)!!”

Ketika melihat pemandangan tersebut, Nabi SAW menjadi gembira dan beliau tertawa sehingga terlihat dua gigi seri beliau, itu pula reaksi yang tadi dilihat oleh para sahabat tanpa mereka mengetahui penyebabnya. Selesai menceritakan semua itu, Nabi SAW bersabda, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan antara kalian. Sesungguhnya Allah menghubungkan antara orang-orang mukmin”. (Khotib-PPNHA).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MULIAMU BUKAN KARENAMU, BUKAN KARENA USAHAMU

Seringkali kita merasa bahwa segala kemuliaan dan kehormatan yang kita miliki ini berasal dari usaha kita sendiri. Karena merasa rajin beram...