Kegelisahan yang melatar belakangi seorang murid Imam Alghozali untuk memberanikan diri menulis surat pada guru sekaligus murabbi-nya (pendidik), dan mengutarakan seluruh kegelisahannya untuk meminta nasihat dan doa dari gurunya, namun dengan permintaan khusus agar gurunya tersebut senantiasa berkenan menuliskan jawaban atas surat-suratnya meski karangan-karangan Imam AlGhozali seperti Ihya Ulumuddin sebetulnya telah mengandung jawaban pertanyaan-pertanyaannya. Akhirnya Imam Al Ghozali memenuhi permintaan muridnya tersebut, jadilah kitab mungil ini, "Ayyuhal Walaad/Wahai Anakku"
Nama lengkap pengarang kitab ini adalah Muhammad ibn Muhammad Abu Hamid At-Tusi, seorang ahli fikih, ahli tasawuf, filosof, karena keluasan ilmunya sehingga beliau mendapat gelar Hujjatul Islam (Argumentasi Islam). Nama beliau dinisbatkan pada Ghazalah sebuah nama desa di kota Tus, oleh karenanya beliau lebih dikenal dengan sebutan Al-Ghazali
Ayyuhal Walad-“Wahai anakku”. Nama kitab yang sederhana nan unik ini, menempatkan muridnya laksana anak sendiri. Mengindikasikan bahwa hubungan mereka bukan sekadar antara guru dan murid tapi lebih pada kasih sayang bapak pada buah hatinya agar relasi antara keduanya layaknya hubungan kausalitas yang tak mungkin terpisahkan sehingga tak ada alasan untuk menolak petuah-petuah yang mengalir dari lisan agung gurunya. Kitab ini memang ditujukan khusus atas permintaan murid Imam Al-Ghazali, namun isi kandungan nasihat-nasihatnya bersifat umum pada setiap insan yang sedang menempuh jalan Allah.
Berikut ringkasannya:
(Siapakah nama murid yang karenanya Kitab Ayyuhal Walad itu di tulis? Nama murid yang berjasa bagi munculnya kitab ini tidak diketahui. Jadi, ia adalah pahlawan tak dikenal. Melalui dirinyalah, umat Islam hari ini bisa mengambil manfaat dari Kitab Ayyuhal Walad)
Imam Al-Ghazali mengawali nasihatnya dengan kalimat yang sangat indah. Ia memanggil muridnya dengan panggilan penuh simpati juga mendoakannya.
"Wahai anakku tercinta. Semoga Allah memanjangkan usiamu agar bisa mematuhi-Nya. Semoga pula Allah memudahkanmu dalam menempuh jalan orang-orang yang dicintai-Nya."
Setelah memanggil dengan sebutan yang melahirkan ketenangan hati bagi muridnya, Al-Ghazali mendoakan muridnya dengan doa mengenai perkara mulia yang manusia selalu mengharapkannya, yaitu diberi usia yang panjang. Bukan sekadar panjang usia, Sang Imam mendoakan muridnya agar usia yang panjang itu bisa digunakan untuk mematuhi perintah- perintah Allah. Itulah usia yang penuh berkah.
Selanjutnya, Al-Ghazali mendoakan muridnya agar Allah memudahkannya dalam menempuh jalan orang-orang yang dicintai-Nya. Jalan itu adalah jalan Islam, yaitu jalan yang ditempuh oleh orangorang yang Allah anugerahi nikmat. Mereka adalah para nabi, shiddiqin, syuhada', dan shalihin. Agar bisa menempuh jalan tersebut, murid itu wajib bergaul dengan mereka.
Hargailah waktu
Setelah mendoakan muridnya, Al- Ghazali mengingatkan bahwa nasihat yang akan ia sampaikan bukanlah sesuatu yang baru. Ia hanya menyampaikan kembali nasihat Rasulullah SAW, dengan mengatakan, "Nasihat yang tersebar aku tulis dari perbendaharaan kerasulan 'alaihis shalatu was salam."
"Di antara sekian banyak nasihat yang disampaikan Rasulullah SAW kepada umatnya adalah sabda beliau, 'Salah satu tanda bahwa Allah Ta'ala berpaling dari seorang hamba adalah menjadikan hamba itu sibuk dengan perkara yang tidak memberinya manfaat. Apabila seseorang kehilangan usianya sesaat saja untuk sesuatu di luar tujuan ia diciptakan, yaitu untuk beribadah, sungguh ia layak mengalami penyesalan yang berkepanjangan.
Barang siapa usianya telah melewati 40 tahun, namun kebaikannya belum mampu mendominasi keburukannya, bersiap-siaplah ia masuk neraka.'"
Imam Al-Ghazali pun mengingatkan muridnya agar tidak menyia-nyiakan waktunya meskipun sesaat untuk perkara-perkara yang tidak bernilai ibadah. Orang yang menyia-nyiakan waktu akan menderita penyesalan yang berke panjangan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda,
"Penduduk surga pasti akan menyesalkan waktu sesaat yang telah berlalu, ketika itu mereka tidak berzikir mengingat Allah."
Ilmu dan amal
Al-Ghazali melanjutkan nasihatnya,
"Wahai anakku, Nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya. Sebab, ia terasa pahit bagi orang-orang yang mengikuti hawa nafsu karena hal-hal yang dilarang agama sangat disenangi hati mereka. Terkhusus bagi orang yang mencari ilmu rasmi serta sibuk menunjukkan kehebatan dirinya dan mencari kemewahan duniawi. Orang itu menyangka bahwa ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi sarana bagi keselamatan dirinya. Oleh karena itu, ia tidak perlu mengamalkan ilmunya."
Al-Ghazali kemudian mengingatkan bahwa ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi bencana bagi pemiliknya. Al-Ghazaly menukil sabda Rasulullah SAW,
"Sesungguhnya orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang berilmu namun Allah tidak menjadikan ilmunya bermanfaat bagi dirinya." (HR Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi).
Tanda tidak bermanfaatnya ilmu seseorang adalah ketika ilmu itu tidak diamalkan. Ibarat manusia, ilmu yang tidak diamalkan adalah manusia tanpa pakaian. Manusia yang berjalan di tempat umum tanpa mengenakan pakaian tentu akan dikatakan sebagai orang gila dan orang tidak normal. Begitu pula ilmu. Ilmu tanpa amal adalah ilmu tidak normal. Sebab, amal adalah pakaian bagi ilmu. Oleh karena itulah, Al-Ghazali menyebut ilmu tanpa amal sebagai al'ilm almujarrad yang secara harfiah berarti ilmu telanjang.
Ilmu tanpa amal hanya membawa bencana bagi pemiliknya. Oleh karena merasa diri nya berilmu, orang yang mengumpul kan ilmu tanpa disertai amal akan sulit menerima nasihat, terlebih jika nasihat itu datang dari orang yang secara level berada di bawahnya. Mengapa ia sulit menerima nasihat? Karena menerima nasihat adalah bagian dari amal, bahkan menjadi pembuka bagi amal-amal lainnya. Sementara itu, orang tadi terbiasa tidak mengamalkan ilmunya.
Kemudian, Imam Al-Ghazali melanjut kan nasihatnya,
"Wahai anakku Jangan lah jadi orang yang bangkrut amalnya! Jangan pula jadi orang yang hampa hati nya! Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal itu tidak akan mendatangkan manfaat. Ilustrasinya sebagai berikut. Ada orang di padang pasir membawa 10 pedang dari India beserta senjata lainnya. Orang itu dikenal pemberani dan ahli strategi perang. Tiba-tiba datanglah seekor singa besar yang menakutkan. Bagaimana pendapatmu? Apakah senjata-senjata tadi mampu melindunginya dari terkaman singa tanpa menggunakannya atau memukulkannya? Sudah dapat diketahui, senjata-senjata tadi tidak dapat melindunginya kecuali dengan menggerakkan atau memukulkannya. Demikian pula, jika seseorang membaca seratus ribu masalah ilmiah yang ia ketahui dan pelajari, tapi tidak mengamalkannya. Ilmunya yang banyak itu tidak akan memberinya manfaat, kecuali dengan mengamalkannya"
Ilustrasi lain dari Sang Imam adalah sebagai berikut. Ada orang menderita sakit panas atau sakit kuning. Obatnya adalah dengan sakanjabin dan kasykab. Orang tersebut hanya bisa sembuh dengan mengonsumsi keduanya.
Syekh Muhammad Amin AlKurdi AnNaqsyabandi menjelaskan maksud peribahasa ini. Ia berkata, "Engkau tidak bisa merasakan lezatnya sesuatu kecuali apabila mengerjakan dan mencobanya. Seorang Mukmin tidak akan merasakan lezatnya iman kecuali apabila melaksanakan apa yang menjadi hak Allah dan hak hamba-hamba Allah."
Jadi, begitu pentingnya masalah ilmu dan amal, sampai-sampai Imam al-Ghazali menegaskan:
"alilmu bilaa 'amalin junuunun, wal amalu bilaa 'ilmin lam yakun." (Ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu tidak ada nilainya).
Betapa indahnya jika isi Kitab Ayyuhal Walad ini ditanamkan—bukan sekadar diajarkan—pada anak-anak sedini mungkin, baik di rumah, sekolah, pesantren, maupun masjid. InsyaAllah, anak-anak akan menjadi manusia yang haus ilmu dan cinta amal saleh. (PP.NHA)
Bersambung..

sangat bermanfaat.. terimakasih
BalasHapusSama2, terimakasih sdh berkunjung ke blog pesantren pak
BalasHapus